Sedikit bercerita kebelakang, nuansa rutinan setelah Milad biasanya mengalami penyusutan yang biasanya drastis. Baik kecemasan atau kekhawatiran, secara otomatis sudah terpatri jika menilik pengalaan yang sudah-sudah. Namun, sepertinya malam ini hal yang dikhawatirkan tidak akan terulang. Bisa jadi rutinan kali setelah Milad tahun ini akan mengalami nuansa yang baru.

Beruntung, cuaca nampak sangat mendukung untuk ngguyubi rutinan ke-121 Maneges Qudroh yang mengangkat tema “Limpah Ruwah”. Tema yang sengaja diusung mengingat momentum bulan Ruwah yang akan segera tiba. Tentu, dengan sinau bareng pada malam ini, para dulur-dulur yang hadir banyak berharap semoga pada bulan Ruwah nanti, banyak limpahan-limpahan yang bisa lebih didapati sebagai bekal untuk melakukan segala amal baik di bulan tersebut.

Para dulur-dulur mulai memenuhi Omah Maneges yang disambut dengan alunan merdu ayat Adh-Dhuha dan Al-Kahfi yang dibacakan oleh Mas Abdul Kholiq. Tidak hanya sebatas Magelang, beberapa rombongan dari Kota Pelajar pun ikut melingkar dalam acara rutinan ini. Tentu saja, kehadiran ini menjadi kebahagiaan tersendiri, terutama untuk menambah hubungan silaturrahmi dengan orang-orang yang dipertemukan di jalan cinta yang sama.

Mas Daryanto sebagai MC mulai membuka acara sinau bareng dengan bahasa formal adat tradisi Jawa. Hal ini tentu saja menarik, selain mengajarkan tata cara berbahasa yang baik menurut Jawa, tentu juga menjadi salah satu bentuk upaya menjaga tradisi yang banyak telah diajarkan turun-temurun. Akan tetapi dengan pembukaan formal, terdengar pula desas-desus dari yang hadir mengatakan, “wah tegang iki, ora cair. (wah serius ini, tidak cair)!”

Acara sinau bareng pada malam itu kemudian dilemeki dengan wirid dan sholawat bersama. Dengan para pilot (penabuh rebana) yang siap mengajak terbang para penumpang pesawat “Limpah Ruwah” untuk memasuki frekuensi keilmuan yang mana hanya Tuhan Yang Maha Mengetahui dan Maha Pemberi Ilmu, tentu tak lupa dengan nggayuh syafaat kekasih-Nya. Sehingga apapun yang disampaikan, siapapun yang menyampaikan, merupakan salah satu wujud kehendak yang bisa menjadi cahaya yang bisa membuat jalannya lebih terang dan jelas.

Tilik Kubur Membuat Lebih Eling

Mas Sigit sebagai moderator mulai mengambil kemudi acara sinau bareng. Mulanya, Mas Sigit mencoba mengajak dulur-dulur yang hadir untuk bersama-sama aktif karena majelis ini bukanlah pertunjukan satu atau beberapa orang, melainkan majelis ini merupakan sebuah ruang untuk semua yang hadir bisa sinau bareng.

Sedikit prolog atau pintu menuju tema sinau bareng ini sedikit dijelaskan kembali oleh Mas Virdhian. Menurut Mas Dhian, bulan ruwah yang identik dengan aktivitas ruwahan ini merupakan sebuah tradisi yang biasa dilakukan untuk mendoakan arwah para leluhur sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Selain itu, banyak hal di luar akal nalar yang bisa didapat. Mas Dhian mencontohkan kalau kegiatan mengirim doa atau ziarah kubur bisa menjadi sebuah solusi buat menyelesaikan masalah yang sedang dialami. Karena dengan keadaan melakukan kegiatan tersebut, kita akan mendapat salah satu nasihat terbaik, yakni mengingat kematian.

Tradisi ruwahan juga bisa menjadi sebuah sarana untuk lebih mengenal sangkan paran diri. Karena di dalamnya, kita dituntut untuk lebih mengenal arwah-arwah yang akan kita beri kiriman doa. Hal ini mungkin nampak sederhana, akan tetapi karena nampak sederhana itulah pada akhirnya kegiatan-kegiatan seperti ini mulai terkikis oleh kemajuan zaman.

Menanggapi pernyataan yang disampaikan oleh Mas Dhian, Mas Daryanto menguatkan dengan pendapat beliau tentang rahasia-rahasia berziarah. Tidak hanya itu, menurut Mas Dar, tilik kubur itu membuat kita lebih eling, sehingga yang dirasakan Mas Dar sendiri seolah-olah hatinya lebih terasa padhang, padahal baru sekedar melihat makamnya.

Melihat suasana pembelajaran yang semakin serius, Mas Sigit mencoba untuk mengajak dulur yang hadir turut memberikan respon atau tanggapannya. Kemudian respon yang cukup unik diberikan oleh Mas Bayu. Mas Bayu justru berpikir dengan sajian-sajian yang begitu banyak ketika ruwahan, takkan pernah tersaji tanpa peran yang sangat penting dibalik itu. Yakni, peran para ibu atau perempuan. Tanpa andil mereka, siapa yang nantinya akan menyediakan semua limpahan sajian itu?

Tradisi dalam bulan ruwah bisa berbentuk macam-macam. Tiap daerah atau wilayah belum pasti memiliki nama dan upacara yang sama dalam memberikan penghormatan kepada leluhur. Bahkan, beberapa orang yang menganggap momentum ruwah sebagai sesuatu yang sakral. Tak sedikit bagi para perantau yang menyediakan diri untuk pulang demi bisa mengikuti momentum ruwahan.

Hikmah dalam Tradisi Ruwahan

Karena tidak adanya jeda hiburan, moderator menjadi sangat aktif sambung-menyambung penyampaian, terlebih dengan keadaan narasumber utama yang belum hadir di depan panggung. Begitupun dengan inisiasi-inisiasi penyampaian kata yang banyak sekali bisa diambil pelajarannya. Beruntung dengan kebiasaannya di panggung sebagai vokalis Grup Musik dan juga andil kepiawaiannya membaca audience, Mas Sigit berhasil meng-handle suasana pada rutinan pada malam itu agar tetap asyik.

 Tak selang berapa lama, Pak Bambang sebagai narasumber hadir ke depan. Beliau langsung melemparkan sejumlah pertanyaan-pertanyaan kepada semua yang hadir, seperti apa masih penting nyadran ada di zaman sekarang? Apakah masih diperlukan? Apakah masih butuh juga diperjuangkan untuk tetap ada?

Lantas, Pak Bambang sedikit menjelaskan beberapa hikmah dalam tradisi ruwahan, diantaranya mengingatkan leluhur, sebagai ruang untuk memperkuat silaturahmi, menambahkan ketenangan. Bahkan, Pak Bambang setidaknya menganggap tradisi ini sangatlah bermanfaat, setidaknya agar kagok ketika ada niat untuk berbuat maksiat. Toh, melakukan juga tidak ada salahnya. Karena menurut Pak Bambang dan orang-orang yang meyakini, memahami, dan mendalami tradisi ini, kegiatan tersebut sudah menjadi bagian dari tidak hanya sebatas warisan, namun sebagai sebuah ritual keagamaan.

Kalau masih ada perdebatan terkait benar atau salah kegiatan-kegiatan terkait Nyadran, itu dianggap konyol oleh Pak Bambang. Selain mampu menambah keilmuan dan khasanah kebudayaan, menurut Pak Bambang, hal itu sudah banyak diperdebatkan jauh-jauh hari oleh orang-orang pintar dalam bidang keagamaan di masa lampau. Pada rutinan ini, Pak Bambang yang sempat kebingungan mau memakai dresscode apa sebelum berangkat ke acara maiyahan ini menegaska bahwa kita sebisa mungkin menggali, ngonceki, syukur ikut ngelmuni segala tradisi yag telah dijaga dan dirumat oleh para leluhur.

Hasil yang Selaras dengan Upaya Kebaikan

Di bulan ini, terutama 3 bulan (Rajab, Ruwah/Sya’ban, dan Ramadhan) yang sedang dan akan kita alami ada sebuah do’a yang di dalamnya terdapat 3 bulan yang dirangkai dalam satu kalimat. Allahuma barik lana fi Rajaba wa Sya’bana wa balighna Ramadhana. Pak Bambang mneyampaikan bahwa dalam 3 bulan ini terkandung penuh keberkahan.

Pak Bambang juga sedikit menceritakan asal-usul kata Nyadran, yang menurutnya berasal dari kata Sradha (read=Srodo). Sradha sendiri merupakan sebuah ritual/upacara keagamaan Hindu atau sedekah versi kepercayaan mereka kepada arwah leluhurnya. Bahkan di Candi Ngawen, putra Hayam Wuruk menurut Pak Bambang juga pernah melakukan upacaranya disana. Karena dalam ritual ini, tujuannya juga sama, yakni untuk memintakan ampun dan memohonkan rahmat.

Dalam tradisi Nyadran sendiri, menurut Pak Bambang tradisi tersebut mampu mempererat tali silaturrahmi, sebagai tempat untuk bersedekah, dzikrul maut, dan juga bisa sebagai media ta’lim. Selanjutnya, Pak Bambang pada malam hari itu banyak memberikan kisah-kisah tentang berbagai karomah atau keistimewaan utamanya mengenai ziarah dan juga adab-adabnya.

Lek Trip, salah satu dulur dari Jogja turut memberikan sedikit pemikirannya kepada dulur-dulur yang lain. Lek Trip menyampaikan bahwa ilmu yang sedari sudah ditangkapnya, lalu mencoba mencari hubungan antara mencari atau mengenal arwah dengan qudroh-Nya. Bahkan, sebelum berangkat ke rutinan ini, Lek Trip sedikit meminta sangu kepada Pak Mus, yang ternyata hampir semua pesan yang didapat mirip dengan apa yang sedari tadi telah disampaikan.

Lek Trip hanya sedikit memberikan tambahan utamanya dengan perkembangan zaman dan teknologi yang semakin maju. Lek Trip mencoba untuk lebih menyadarkan akan kreativitas, artinya selaras dengan waktu yang terus berjalan dan kompleksitas permasalah yang dihadapi. Tentu saja, kita memiliki tanggung jawab peran yang lebih komplit untuk menjawab tantangan zaman di masa depan.

Hadir pula Gus Aushof yang sedikit memberikan ilmunya pada malam itu. Momentum ini menurutnya merupakan sebuah ritualisasi yang sifatnya tidak hanya fisik, namun juga batiniyah. Dan ada pula bagian yang sifatnya ruhaniyah. Bagian-bagan ini menurut Gus Aushof tidak bisa ditinggalkan. Jadi tidak hanya sampai lelaku, tapi kalau bisa sampai lampah.

Kemudian Gus Aushof menceritakan bahwa mbah-mbah dulu memiliki kedisiplinan yang luar biasa. Hal tersebut susah untuk ditelisik terutama bagi para akademisi karena sisi spiritualnya tidak tersentuh. Karena pengaruh ilmu akademisi yang didapatnya justru menjadi sebuah prasangka yang menghijabi. Dan Gus Aushof menyatakan bahwa prasangka dari dirilah yang menjadikan kita tidak mampu merasakan sisi spiritual dan sakpiturute.

Suasana malam hari itu sungguh mendalam sekaligus mengasyikkan, meskipun tanpa pertunjukan-pertunjukan seni yang biasanya banyak memberikan hiburan di tengah-tengah acara. Situasinya menep dan tenang, nampak seluruhnya sedang melakukan meditasi bersama. Sekalipun bisa juga sedang hanyut menyelami banyak kucuran ilmu yang disampaikan. Benar jika didapat suasananya sepi, namun tidak dengan kehadirannya. Nampak semangat dalam mencari ilmu ataupun berbagi masih kuat menyala dalam rutinan Maneges Qudroh edisi Maret ini.

Terakhir, Pak Bambang menyampaikan bahwa apa yang diperjuangkan pasti akan tuntas. Menurut beliau, di setiap periode pasti turun seorang wali untuk meluruskan/melengkapi apa yang belum tuntas. Dia hadir untuk kembali “mengingatkan”. Sebuah pengetahuan atau apapun yang merangsang dengan tanda-tanda kehadiran yang bagus, dibarengi dengan niat dan proses yang baik, yang nantinya semoga efek atau hasilnya selaras dengan segala upaya kebaikannya, termasuk dalam Majelis Ilmu dan Paseduluran Maneges Qudroh ini.

Moderator kemudian menutup acara sekitar jam 1 dinihari. Mas Sigit tidak memberikan kesimpulan, hanya saja Mas Sigit percaya bahwa semua yang hadir mampu membuat kesimpulannya masing-masing. Semoga apapun ilmu yang telah diwedar dapat berjodoh dengan dulur-dulur semua yang hadir.Tidak hanya limpah, semoga apa yang jodoh benar-benar menjadi pijakan lampah di waktu yang akan datang. Indal Qiyam pun dilakukan bersama sebagai pungkasan acara pada malam itu.

Omah Maneges, 6 Maret 2021