Dalam sebuah ruang sinau bareng, Mbah Nun pernah bertanya, “pencapaian apa yang paling indah dalam kehidupan? Yang semua orang mengalaminya juga?” Apabila pertanyaan tersebut kita beri konteks batasan mengenai waktu terjadi, sekiranya adakah dalam kehidupan ini yang pencapaiannya bisa menembus batasan waktu tersebut?

Jika pencapaian yang dimaksud merupakan hasil berupa materi, akan tetapi semua juga kita mengetahui bahwa segala wujud materi bersifat sementara. Namun jika logika pernyataan tersebut dibalik dengan pertanyaan, bisakah kita juga memastikan bahwa hal tersebut sementara? Saat sisa waktu hidup yang tersisa pun tak dapat kita pastikan sendiri. Data yang mampu dihimpun selama ini oleh manusia memiliki limitasi untuk membuktikan logika absurd yang jawabannya membutuhkan porsi keimanan dan intensitas olah ketaqwaan yang kontinuitas.

Ketika materi dirasa bukan sebuah pencapaian, lalu sudah pasti kita akan mengalihkan perhatian ke sisi spiritual. Selama beberapa bulan terakhir, rutinan Maneges Qudroh selalu mengangkat tema yang berkesinambungan dari bulan-bulan sebelumnya. Mulai dari belajar tentang kesungguhan, kesetiaan, rendah hati, hingga pengorbanan-pengorbanan yang mungkin ditemui dalam kehidupan sehar-hari, bisa melalui penglihatan ataupun intonasi suara yang terdengar. Semua akan menjadi data yang kelak nantinya akan kita sebut sebagai pengalaman.

Dari pengalaman, kita sering banyak pengetahuan mengenai variasi perasaan. Bahagia, sedih, kecewa, cemburu, marah, dan masih banyak sekali rasa yang tak bisa terwakilkan oleh ungkapan kata. Kita bahkan sering menciptakan rasan-rasan (dua orang atau lebih yang duduk bersama membicarakan subjek di luar lingkarannya) sebagai ruang untuk lebih mengolah rasa-rasa yang telah terkumpul. Meskipun, rasan-rasan terlanjur memiliki stigma negatif di masyarakat karena terkesan sedang nggosip atau ghibah dan tak ayal membuat lalai terhadap waktu. Namun di sisi lain, sebenarnya banyak hal yang bisa dipelajari apabila kita mampu menahan diri.

Mbah Nun pernah menyampaikan bahwa, dari sekian banyak rasa yang dimiliki manusia pasti memiliki sifat kebalikannya kecuali satu, yakni cinta. Bahkan, dalam rasan-rasan pun akan semakin menarik dan melenakan waktu apabila sudah nyambung dengan tema yang berkaitan dengan cinta. Apakah cinta merupakan puncak keindahan dan kenikmatan ayang telah diberikan atas segala seuatu yang hidup?

Tapi kenyataannya di zaman sekarang, pertengkaran selalu saja sangat mudah terjadi dimana-mana, seolah kita telah kehilangan cinta untuk saling mengasihi dan menyayangi bahkan terhadap perbedaan. Kalau kita belajar akan sesuatu namun justru membuat kita semakin kehilangan cinta, ilmu yang didapat bukan membuat kita semakin tinggi kecerdasannya, melainkan membuat kita jadi kehilangan sisi manusianya. Bukankah sebagai manusia pun kita mesti bisa membangun cinta kepada apapun?

Beberapa hari yang lalu, tulisan tetes dari Mas Sabrang berjudul “Cinta dan Pengorbanan” sesungguhnya telah cukup untuk memberikan gambaran mengenai makna cinta kepada sesama manusia atau orang terkasih. Lantas, bisakah hal tersebut dijadikan suatu bentuk menifestasi dari satu rasa cinta dari Yang Maha Tunggal? Lalu, sekiranya buat apa engkau butuh mencinta? Kalau ternyata orang yang bertahan dengan kesendirian juga cukup banyak, apa lantas mereka tidak mencinta? Seperti apa sih rasanya mencinta?

Monggo sesarengan kita tansah sinau “Rasan Rasa” wonten ing rutinan Maneges Qudroh edisi kaping-118, Sabtu, 5 Desember 2020, wonten papan Panti Cahaya Umat, Dusun Ngroto, Mertoyudan. Monggo!

NB: Dimohon untuk tetap mengikuti protokol kesehatan pada saat acara.