Ketika malam semakin larut dalam kesunyian, kureguk sisa lamunanku yang tertinggal dalam secangkir kopi yang telah membeku. Bintang-bintang dan rembulan termangu di hulu rindu.

Di sudut kamar, di bawah sinar lampu yang warnanya menguning seperti lembayung, di atas dipan (yang hanya cukup untuk membalikkan tubuh ke kiri atau ke kanan) aku berbaring dengan tubuh yang separuh kaku sambil menatap langit-langit tepat diantara kedua bola mataku bayang-bayang itu muncul seketika.

Bayang-bayang yang telah menyeretku jauh di dalam bentangan ruang dan juga waktu yang aku sendiri tidak pernah bisa memahaminya namun aku seperti menyadarinya akan hal tersebut. Ruang yang gersang, ruang di mana segala sesuatunya begitu menjinikkan bahkan menyedihkan. Adalah dunia, dunia yang telah dirumuskan oleh orang -orang yang dilahirkan atas dasar kebencian dan kekecewaan serta kesenangan sesaat. Dunia itu telah merasuk ke dalam ruang-ruang terdekat dalam kehidupan realitas masyarakat.

Dunia yang menawarkan racun sekaligus penawar, dunia yang menyodorkan sebuah kemegahan namun rapuh. Karena setiap manusia dipaksa untuk merubah cara pandang secara sistematis dalam memaknai setiap kehidupan. Tatanan nilai – nilai telah mengalami modifikasi yang sedemikian rupa, modernisasi telah membuat jarak yang sangat signifikan antar sesama manusia terlebih lagi manusia tidak diberikan kesempatan untuk mengenali dirinya dan pada akhirnya kehidupan jiwa manusia semakin berjarak.

Separuh perjalananku (mungkin lebih) selalu di bawah pengaruh bayang -bayang tersebut. Suatu kali aku pernah merasakan apa yang kusebut dengan “ambang rasa” (kebimbangan) dalam rentang waktu tertentu. Aku terjerembab diantara kebimbangan dan bayang – bayang yang menjelma menjadi hasrat, hasrat dari segala hasrat. Masa -masa di mana ketika hidup berada di bawah kendali sebuah hasrat, hasrat akan dunia yang telah menjadi ketentuan mutlak. Hasrat akan dunia yang telah menguburku dalam kekelaman. Hingga waktu bergerak ke depan dari sekian panjangnya perjalanan, dalam setiap langkah aku mulai memunguti serpihan-serpihan dan menemulan celah demi celah yang mengantarku pada suatu ruang. Akupun beranjak dari pembaringan, seketika bayang-bayang itu menghilang ditelan kesunyian. Dengan segala ketiadaanku, kini aku berada dihadapkan pada suatu ruang. Aku yang datang mengetuk pintumu.

Bara purnama
Borobudur, Maret 2020