Malam minggu pertama awal bulan insyaAllah akan selalu ada rutinan. Sesuatu yang seakan telah menjadi kewajiban karena telah diberikan amanah oleh Mbah Nun sebuah rumah bernama Maneges Qudroh. Acara rutin sebulan sekali ini menjadi ruang untuk saling bersilaturrahmi antara penghuni rumah dan siapapun saja, sekaligus untuk saling sinau bareng satu sama lain.

Dalam kesempatan rutin ke-111 ini, penggiat mengangkat tema “Dhepe-Dhepe” atau merayu, namun dikhususkan kepada Allah beserta Rasulullah melalui wirid dan sholawat bersama. Tema ini pun sebenarnya berangkat atas respon simpul terhadap kasus Coronavirus yang sedang menjadi bencana nasional bahkan dunia.

Selama ini, sebagian para sedulur Maiyah Magelang tetap berkumpul setiap minggunya dalam Selasan. Melakukan wirid dan sholawat bersama-sama dengan harapan sanggup memberikan imunitas khusus terhadap diri sendiri maupun lingkungan di sekitarnya.

Selain itu, Coronavirus bukanlah sesuatu yang harus dilawan karena mau bagaimanapun juga keadaan yang sudah terjadi tak mungkin bisa diantisipasi. Oleh karena itu, pandemi ini bukan lain adalah sebuah kelembutan rahmat yang hanya bisa kami balas dengan dhepe-dhepe atau merayu kepada Sang Maha Pemberi Rahmat atas nikmat yang telah diberikan. Jikalau kaedaaan ini merupakan sebuah ujian ataupun hukuman, kami pun tak mengingkari. Akan tetapi, kami percaya bahwa segala masalah yang datang selalu datang bersama kemudahan. Bisa jadi, pandemi ini memang didatangkan untuk memuliakan bagi mereka yang telah menahan diri dengan kesabaran.

Malam ini terasa hangat terlebih dalam nuansa bulan Ramadhan yang penuh keberkahan. Meskipun keadaan di lingkungan Magelang sendiri sedang gelisah dengan maraknya pencurian. Warga dari tiap Dusun yang telah siaga dengan senjata-senjatanya untuk mencoba menangkap si biang kegelisahan, menjadi pemandangan malam yang meresahkan akhir-akhir ini.

Situasi itu pun berimbas pada patroli petugas keamanan yang lebih ditingkatkan. Sedikit flashback, “Selasan” beberapa minggu kemarin pun, beberapa sedulur ter-sweeping oleh petugas kepolisian karena bergerombol atau membentuk kerumunan meski jumlah orangnyanya kalah banyak dengan pos penjagaan Covid-19 yang hanya berjarak belasan meter. Keamanan memang seharusnya lebih diutamakan tidak untuk diri sendiri, terutama bagi lingkungan yang berada di sekitarnya. Lantas, pencarian tempat yang lebih jauh dari warga menjadi opsi untuk ngumpul wirid dan shalawat di minggu berikutnya.

Antisipasi dan Solusi Bergantung Kepada Keberangkatan Nilai Subjektif

Kembali ke rutinan, acara yang seharusnya dimulai pukul 21.00 pun mundur dari jadwal semestinya dikarenakan kendala timing Ramadhan dengan kesibukan ba’da isya’ di lingkungan sekitarnya masing-masing. Beberapa yang sudah berkumpul pun menunggu dengan saling berbagi informasi mengenai kondisi lingkungannya masing-masing. Semua sepakat, bahwasanya semula orang gelisah mencari masker dan hand-sanitizer, sekarang semua gelisah mencari maling. Pembelajaran pun sesungguhnya telah dimulai meski off the record.

Gagap dan latah dalam menerima informasi yang masuk masih menjadi kendala pada beberapa wilayah dan titik. Padahal, dengan kondisi banyak yang di rumah saja dan lockdown kampung-kampung, seharusnya tingkat keamanan sudah meningkat. Namun, mengapa untuk mengantisipasi maling pun mesti pamer alat pemukul bahkan senjata tajam? Terlebih mayoritas dari mereka adalah para pemuda.

Sebelum acara wirid dan sholawat dimulai, beberapa sedulur yang sudah hadir mencoba untuk memaknai peristiwa tersebut. Mengapa kita mudah terbawa arus informasi? Dengan respon yang justru terkesan lebay. Mereka yang “kaya” tetap stay di rumah, sedangkan yang melakukan sweeping apakah pasti mereka peduli dengan keadaan lingkungannya? Atau hanya ingin ikut kehebohan untuk memukuli si maling jika akhirnya tertangkap? Meski sampai sekarang masih nihil, terkecuali malah ada yang berhasil nggrebek sepasang kekasih yang menjalin cinta di area perkebunan.

Respon dari petugas keamanan yang seharusnya bertanggung jawab terhadap keamanan pun masih terlihat lenggang di sepanjang jalanan. Kecuali di pos-pos ketupat yang sudah mulai terbangun menjelang hari raya idul fitri.

Terkait ketahanan pangan di wilayah Magelang khususnya, tak luput dari pembahasan. Orang yang lapar dan tidak memiliki makanan biasanya ketika lapar, yang dilakukan pertama adalah meminta bantuan kepada keluarga. Akan tetapi, jika ada inisiasi untuk bercocok tanam mumpung masih ada modal tentu lebih bagus. Yang menjadi pertanyaan bagi yang berdiskusi, “Apakah sanggup keistiqomahan bercocok tanam itu bertahan? Berapa lama?”

Khusus di daerah Magelang dengan kondisi geografis dikelilingi oleh 5 Gunung, tentu kegiatan bercocok tanam sudah menjadi kebiasaan dan pemandangan sehari-hari serta mudah ditemukan. Kondisi pasar-pasar tradisional juga masih ramai oleh hasil-hasil bumi yang sudah di drop sejak tengah malam. Permasalahan di lingkungan kami yang perlu diantisipasi adalah kemampuan membeli.

Namun, salah satu kawan mengatakan bahwa jika makan asal tidak terlalu banyak memilih juga pasti cukup. Yang menjadi masalah adalah menuruti keinginan selera “makan apa”. NAmnu, pernyataan itu kemudian disanggah, itu bmungkin bisa berlaku pada diri sendiri ataupun semua yang hadir disini. Tapi, apakah mereka yang berkeluarga atau yang bergantung pada selera akan mampu bertahan? Hal itu berlanjut sampai, bagaimana dengan keadaan keluarga besar? Apakah di keluarga besar tetap tidak ada yang sanggup memberi pertolongan? Atau jangan-jangan ada masalah apa dengan keluarga besar?

Tentu, diskusi menjadi semakin rumit dan berkepanjangan jika mesti ditelusuri berbagai faktor kendala hingga menemukan solusi yang tepat. Karena, setiap minggu di “Selasan” topik Corona selalu menjadi headline diskusi. Tentu saja, antisipasi dan solusi akan berlaku bagi mereka yang membawa nilai-nilai keberangkatan yang sama dalam memaknai situasi dan kondisi. Selama 7 hari, semua pasti memiliki langkah dan solusi setidaknya bagi diri sendiri atupun dengan peran tanggung jawab di lingkungan sosial yang diamanatkan. Lalu, terselip diantaranya sebuah malam untuk kembali berkumpul menghimpun energi dan kepasrahan melalui lantunan-lantunan wirid dan sholawat sebagai bekal mengarungi perjuangan di hari berikutnya.

***

Akhirnya, tepat sebelum pukul 23.00, acara wirid pun dimulai dipandu oleh Mas Munir, Mas Eko, dan Pak Baihaqi. Lantunan-lantunan kemesraan yang terdengar pasrah seolah menjadi keluh kesah atas keadaan yang menyulitkan bagi mereka yang tidak sanggup menahan diri. Sapaan kepada kekasih Allah pun mengiringi ketidaktegaan kami melihat kegelisahan-kegelisahan atas kelembutan yang datang menyapa. Permohonan-permohonan doa pun dipungkasi setelah lebih dari satu jam kami melantunkan wirid dan sholawat.

Berbagai wirid yang telah diijazahkan selama masa pandemi pun melengkapi pembacaan wirid munajat Maiyah. Selain wirid penjagaan, Luthfi Muhammad, wirid Yaa Rahman Yaa Rahiim Yaa Syifaa Yaa Haliim Yaa Hadi Yaa Mubin tetap menjadi suatu ramuan rayu yang tak boleh dilepaskan. Kepada Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, kepada Yang Maha Menyembuhkan pun Maha Penyantun, kepada Yang Maha Memberi Pentunjuk dan Maha Menjelaskan disuarakan dengan sabar dan lembut sebanyak 33 kali.

Yaa, mungkin saja Maneges Qudroh pada akhirnya hanya sanggup melakukan hal-hal seperti ini secara stimultan. Terkait informasi dan sains tentang solusi dan inovasi, mungkin kami akan belajar kepada yang ahli di bidangnya dan menerapkannya. Dan, yang nyata-nyata bisa kami lakukan selama ini adalah dhepe-dhepe seperti ini.

Setelah acara wirid selesai, respon atas beberapa tanggapan di kolom komentar pun diberikan. Sembari mendinginkan dan mencairkan suasana kembali. Mengucap kasih kepada saudara-saudara lain yang ikut membersamai acara live streaming. Sebelum pukul 02.00 dinihari, acara pun mesti segera dipungkasi untuk kembali bersiap melaksanakan ibadah yang lain, terutama sahur.

Tim Redaksi MQ

Magelang, 3 Mei 2020