Pada hari Selasa malam, Maneges Qudroh selalu mengadakan acara mingguan wirid dan sholawat. Malam kemarin telah menjadi edisi ke-12 bertempat di Dusun Rambeanak, Mungkid, tepatnya di kediaman Mas Arif Sulaiman atau yang lebih akrab disapa “Sule”. Siapapun yang berkeinginan menjadi tuan rumah selalu ditawarkan khusus untuk acara Selasan ini, sekaligus sebagai sarana bagi sedulur-sedulur Maneges Qudroh untuk saling sambang dan bersilaturrahmi.

Acara yang diadakan di teras rumah Mas Sule ini bisa saja tidak sekhusyuk ini karena hujan bisa saja datang sesukanya. Tapi puji syukur atas segala naungan rahmatNya, semesta seolah membersamai kemesraan lantunan kami sepanjang acara. Bahkan, Pak Nindito (salah satu sesepuh MQ) yang baru pertama kali ikut acara ini mengatakan bahwa acara ini memiliki aroma spiritual yang sangat kental.

Nampak wajah-wajah ketulusan itu menghiasi beranda rumah di bilik temaram kerinduan untuk menyapa kekasih. Bahkan, rindu itu mampu membuat waktu seakan berlalu semakin cepat menurut curuhan sebagian dari wajah ketulusan tersebut.

Sedikit pesan dari Pak Nindito, agar tidak usah terlalu memikirkan negara, atau apapun meskipun diri kita merasa sanggup dan benar. Karena jika tidak berhati-hati, hal yang terlalu dipikirkan lalu diutarakan demi sesuatu perubahan besar, justru hal tersebut bisa menjadi keresahan bagi yang lain. Cukup wirid dan sholawat ini digunakan sebagai filter, bukan untuk perubahan-perubahan besar, melainkan untuk terus berbenah diri. Meski akhirnya tergantung kacamata pandang mana yang dipilih, kita bagian dari semesta atau sebenarnya semesta bagian dari diri kita?

Rambeanak, 10 Maret 2020