“Kenapa kita terlalu pasrah dengan kata-kata, sudah begitu kata-kata itu pun masih dipilah-pilah siapa yang menulisnya? Tanpa pernah dicari tahu siapa Si Editornya?”

“Ya jelas lah, misal saya suka kata-kata gubahan Jalaludin Rumi, ketika saya disodorkan dengan tulisan Bin Baz saya mungkin baca, tapi yang ada hanya bentrokan-bentrokan gagasan pemikiran. Tentang apa? Tentu saja kebenaran.”

“Jadi, antara kata-kata dan tokoh. SIapa yang lebih utama?”

Sadar atau tidak kita pasti mengidolakan seseorang. Namun gengsi sering menjadi hambatan kita untuk mengungkapkannya. Masa iya seorang cendekiawan dan ilmuwan yang gelarnya berderet-deret mengidolakan orang yang sama dengan tokoh yang diidolakan anak-anak jalanan. Kamu mungkin juga mengidolakannya, namun secara diam-diam. Bahkan di lingkungan rumah pun jika harus memilih antara bapak atau ibu, adik atau kakak kita pasti memiliki idolanya sendiri.

Taqlid biasanya terjadi berasal dari prinsip seseorang yang membuka wawasan baru bagi kita. Terutama mengenai cara pandang tentang kehidupan. Tapi tak sedikit pula taqlid itu berasal bukan lagi berbicara tentang kebenaran, namun lebih ke pembenaran yang berangkat dari gagasan pemikirannya.

Tapi dibalik itu semua. Kita sering terlena oleh kata-kata. Kata-kata selalu membius tubuh kita secara tidak sadar. Tenang, bahagia, simpati, atau bahkan rasa benci adalah sedikit diantara beribu rasa yang ditimbulkan akibat kata-kata yang baru saja terbaca. Apalagi kebiasaan share atau repost kita yang suka tidak dianalisis dulu kebenaran informasinya, justru tak sedikit bisa menjadi bumerang bagi diri sendiri.

Kita tidak tau dari mana sumber utama informasi tersebut, siapa yang menggubahnya, atau siapa yang menyusun tulisan-tulisan itu. kita selama ini hanya mengenal kata-katanya saja tanpa pernah mau mengenal lebih dalam tentang siapa si pencipta kata-kata tersebut,

“Lalu bagaimana kita bisa berkenalan dengan para penulis kata-kata itu, sedang kita berada pada tatanan konsep ruang dan waktu yang berbeda. Kalaupun kebetulan sama, masalah jarak juga terkadang menjadi faktor penghambat walau untuk sekedar mendengar suaranya.”

“Kan kita mesti memperhatikan kesehatan tubuh kita.”

“Tubuhmu atau hanya kenyamananmu atau bahkan ketakutanmu? Kamu tidak akan bisa mendapatkan hakikat ilmunya tanpa mau menyapanya. Maksudnya, setidaknya kamu mengetahi sejarah riwayat hidupnya meskipun sedikit. Rasakanlah perbedaannya antara mengetahui dan sama sekali tidak mengetahui perjalanan hidupnya.”

“Kalau dalam agama kita, Islam, banyak perawi-perawi hadits seperti Al-Bukhori atau Imam Muslim yang paling terkenal, atau apa itu maksud muttafaqun ‘alaih dan Qudtsi. Apakah selama ini kamu pernah mencari tahu? Nanti tolong ceritakan kepadaku, adakah diantara perawi-perawai tersebut yang memilih hidup di jalanan dan memperhatikan kesehatan tubuhnya seperti kamu?”

“Jangan bermaksud jika kamu ingin aku seperti beliau, karena fadhillah masing-masing pun berbeda.”

“Setidaknya dari situ kamu akan mendapatkan pengalaman rasa dan cinta, meskipun ember atau wadahmu pun tentu berbeda.”

Karena itu, buat apa kepintaranmu jika hanya buat dirimu sendiri. Dari hadits-hadits yang kita hafal, apa yang paling berpengaruh pada dirimu? Apakah akhlak atau penampilan? Dhohir apa batin? Cinta apa merasa paling benar? Lebih banyak menyayangi apa mengutuk? Lalu bagaimana jika kita hanya mengenal kata-kata dalam Ummul Kitab? Cukup dengan menyalakan televisi ‘mungkin’ kamu akan langsung mendapatkan jawabannya.

Apakah bisa kita mengenal Tuhan tanpa kata-kata? Beriman kepada Tuhan tanpa kata-kata? Lihat saja bagaimana mereka begitu menuhankan kata-kata. Kita memang tidak pernah sadar kalau kita masih terlalu taqlid dengan kata-kata. Karena memang pendidikan mengajarkan kita kepada itu, bukan mempertajam intuisi.

Kalau memang keistimewaan kita memang sebatas akal, lalu apa gunanya akal tersebut jika tidak pernah digunakan untuk ta’qilun, tatafakkarun, tatadzakkarun. Di sekitar kita semuanya adalah sunatullah, sebuah kitab yang tidak tertulis sama sekali oleh kata-kata. Untuk sekedar membacanya kita tidak membutuhkan mata, melainkan hati.

Katanya, ada suatu riwayat yang mengisahkan bahwa kekasihNya tidak bisa memahami kata-kata yang tertulis. Oleh karena itu, beliau berpesan jika kita berada dalam kebingungan apalagi hanya karena kata-kata yang celakanya mayoritas hanya bermuara pada sebatas prasangka. “Mintalah fatwa kepada hatimu.” Begitu nasihat beliau, bukan kepada kata-kata. Kata-kata yang pada akhirnya hanyalah seperti simbol. Lantas apa bedanya kata-kata dengan berhala?