Rangkaian guncangan alam terjadi, teruntai di beberapa wilayah hari ini, setelah kemarin hujan tetiba menyapa di waktu kemarau. Kita sedang berada dalam ketidaktahuan pengetahuan di masa-masa yang berlimpah rahmat. Dan Alhamdulillah rutinan Selasan di Kopi Simbok (tempat Mas Nurcholis) masih diberi ijin-Nya untuk tetap membersamai kerinduan-kerinduan yang tertahan.

Selasan kali ini sedikit unik karena Dusun Beji ini bertempat di luar wilayah Magelang, tepatnya masuk di wilayah Kulon Progo, Yogyakarta. Dulur-dulur Maneges Qudroh justru bertambah antusias karena sadar akan resiko kesepakatan awal dengan membuka kesempatan bagi siapapun bagi yang ingin mengunduh rutinan Selasan ini.

Tidak mudah untuk menyepakati berkumpul setiap minggunya setelah 8 bulan wirid dan shalawat Selasan ini berlangsung. Dengan kondisi geografis satu dengan lain yang tidak dekat, terlebih dalam kemesraan pandemi. Selasan pun meng-uzlah-kan diri pada masa itu ke tempat yang bisa dianggap tersembunyi dari perhatian umum. Adakah sesuatu yang bisa dimaknai dari perjalanan ini?

Di bawah atap rembulan yang cerah, lantunan sapaan wirid dan shalawat terdengar syahdu. Guratan wajah kerinduan itu seolah memantul dalam kekhusyukan. Ikatan pun semakin erat setelah pembacaan wirid dan shalawat dilanjutkan dengan obrolan-obrolan ringan seperti nuansa sinau bareng.

Dalam skala mingguan, ini menjadi salah satu proses restart yang dilakukan berjamaah. Yang semoga mampu menjadi bekal proses restart diri dalam perjalanan mencari jati diri yang terus berlangsung, sebelum berkumpul dan benar-benar “menyatu” kembali. Nyanyian Shohibu Baiti tepat berakhir pukul 00.00, menjadi pungkasan kemesraan malam itu. Matursuwun Gusti.

Dusun Beji, 7 Juli 2020