Selang 3 hari setelah rutinan bulanan, sudah waktunya lekas ke agenda selanjutnya, yakni Selasan. Dengan tempat yang lumayan jauh dari tempat-tempat biasanya karena lokasi acara bertempat di Dusun Beseran, rumahnya Mas Sigit –sebagai tuan rumah- berada di sekitar kaki Gunung Sumbing. Lokasinya juga tak jauh dari Silancur yang akhir-akhir ini menjadi primadona wisata alam di Magelang.

Cuaca yang dingin menjadi situasi yang tak dapat diindahkan. Walaupun Magelang dikenal karena dikelilingi oleh 5 Gunung, namun kesempatan untuk melakukan wirid dan sholawat bersama di kaki Gunung baru terlaksana kali ini pada edisi yang ke-35. Anehnya, suhu di dalam ruangan menjadi hangat entah karena faktor kuantitas dalam ruangan atau karena kehangatan yang tercipta oleh karena lantunan syair-syair yang terlantun.

Di awal tawassulan, doa-doa juga dikhususkan teruntuk saudara-saudara yang sedang diuji oleh kelemahan. Dan juga bagi salah satu saudara yang akan menjalin sebuah ikatan yang penuh kebahagian. Kedua kondisi yang kontras tak membuat bertambah atau berkurangnya sebuah berkah oleh karena rahmat-Nya.

Wirid dan sholawat berlangsung kurang lebih sekitar satu jam. Jika ditanya masing-masing dari mereka, tentu banyak akan menemukan makna, kesan, ataupun cerita yang berbeda-beda. Ada banyak nilai yang menjadi niat awal keberangkatan dalam mengikuti Selasan. Salah satunya, adalah ratapan haru. Terdapat kerinduan dalam suasana ratapan haru yang tercipta.

Terlepas dari berbagai alasan “kenapa” ratapan haru itu menyapa. Itulah wujud akan perjuangan dan kegigihan. Tuhan sangat mungkin mengabulkan semua permintaanmu, tapi apakah manusia akan meratap sendu ketika memohon apabila semua permintaan selalu terkabulkan? Justru sebaliknya, Tuhan lebih suka dan rindu terhadap ratapan kita.

Pada akhirnya, hal tersebut akan mengajarkan tentang kelemahan, kepasrahan, dan tentunya kesetiaan. Ratapan itu tak bisa dimengerti oleh mata ataupun hati. Layaknya Nabi Musa yang tak sanggup lagi meratap ketika Khidir as. membunuh seorang anak. Namun, beliau hanya menjawab, ”Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?

Ratap yang akhrnya menghadirkan sabar, atau sabar yang menuntun ratap?

Sekitar tengah malam, acara dipungkasi. Semua kembali mengenakan pakaian hangatnya sebelum saling berpamitan kembali  pulang.

Beseran, 4 Agustus 2020