Tak terasa malam ini kita sudah dipertemukan lagi. Dalam banyaknya rentang perjalanan yang berbeda satu dengan yang lainnya, kita berkumpul kembali di salah satu titik persimpangan jalan. Lalu, bersepakat untuk sejenak berhenti menuntaskan kerinduan kepada Sang Penguasa Persimpangan, dan manusia kepercayaannya yang telah dianggapNya sebagai kekasih.

Ini adalah titik ke-38, kita diperjumpakan bersama. Kali ini, Dia membimbing kami untuk berjalan menuju rumah Mas Yuli yang berlokasi di Dusun Karangan, Bondowoso, Mertoyudan. Dalam suasana keterbimbingan sebelum bertemu pun, ternyata Dia juga mengajarkan sebagian dari kami untuk tersesat. Terlebih bagi yang lebih mengandalkan Google Maps daripada keberanian bertanya kepada orang-orang yang ditemui sepanjang perjalanan.

Pada akhirnya, kita pun memulai acara Selasan ini sektiar pukul 10 malam, dipimpin oleh Mas Virdhian. Sungguh menjadi suatu kebahagiaan tersendiri bagi dulur-dulur MQ atas kehadiran Mas Virdhian, karena belum lama ini beliau sempat operasi usus buntu dan ternyata masa recovery yang dibutuhkan tidak terlalu lama. Yang pasti, tidak ada yang mampu memulihkan kecuali atas peran Sang Maha Pelindung. Baik sebagai salah satu bentuk berkah ataupun ajibah.

Wirid dan sholawat pun berlangsung secara khidmat, dengan tempo yang lebih lambat dari biasanya. Begitu juga dengan susunan yang sedikit diperingkas, tergantung siapa yang menjadi pemimpinnya. Apabila Selasan ini diibaratkan sebagai sebuah negara, sebagai jamaah atau rakyat, kita tidak pernah mempermasalahkan siapa yang memimpin, karena dalam wirid dan sholawat ini, pemimpin sejati kami tidak ada yang lain kecuali penghulu rindu kami, Allah Swt dan Rasulullah Saw.

Seperti yang kami tegaskan ketika menitikan syair, “Ya imaamarrusli yaa sanadi, anta ba’dallahi mu’tamadi” (Wahai pemimpin para Rasul dan wahai sandaranku. Setelah Allah, engkau adalah peganganku). Dalam Selasan, kita mencoba untuk menembus batas-batas yang terbentuk sebagai konsekuensi amal muamalah sehari-hari. Kita selalu mencoba untuk tak lelah mengadu asih, “Fa bidunyaya wa akhiroti, Ya Rasulallahi khudz biyadi.” (Dalam urusan dunia dan akhiratku, Wahai Rasulullah, bantulah aku).

Siangnya, sebelum wiridan kita telah dibekali khasanah “Ilmu Hutan dan Ilmu Kebun” oleh Mbah Nun. Dan di hari berikutnya, kita kembali diberikan khasanah “Bercocok Tanam Kepemimpinan”. Kita selalu memanifestasi akidah untuk menanam benih-benih kepemimpinan lewat syair-syair yang sering kita bersama lantunkan. Hanya saja, untuk masuk meresap ke dalam qalbu, hal tersebut butuh pengulangan tidak hanya sekali dua kali, bahkan berkali-kali hingga kehendak Sang Penguasa Qalbu membukakan pintu-Nya untuk kehadiran kami.

Ya, niat awal keberangkatan kita adalah duduk bersama dan saling membersamai untuk menyapa pemimpin sejati kita, mendoakan Mbah Nun beserta Jamaah Maiyah tentunya, serta sebagai sarana untuk mengirim salam dan doa kepada leluhur-leluhur kami. Belajar untuk menjadi pemimpin setidaknya atas diri kami sendiri dengan banyak mengambil pembelajaran dari akhlak yang dicontohkan oleh Pemimpin kami.

Segala cuaca dan nuansa, baik kecepatan ataupun keindahan, awal atau akhir dalam bermunajat, semua adalah warna layaknya gejolak problematika kehidupan yang sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya, semua itu akan mengajarkan keseimbangan, ketepatan, dan keberanian yang mengenalkan akan kesejatian.

Bagaimana kami mesti memelihara ketakutan itu, jika Engkau mempertemukan kami untuk meneguhkan kesetiaan terhadap pemimpin kami? Bukankah, Engkau pula sebaik-baiknya pelindung dan penolong kami? Yang selalu mempertemukan kami hingga titik persimpangan ruang dan waktu yang ke-38 ini.

Perjumpaan wirid dan sholawat dalam Selasan ini pun berakhir sekitar pukul 23.11 WIB. Tidak ada pembahasan lanjutan kecuali saling merajut kemesraan dengan lingkaran terdekatnya sembari menikmati sajian yang telah disediakan oleh tuan rumah. Hingga satu per satu dari kami memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing.

Karangan, 25 Agustus 2020