Di salah satu sudut tersembunyi Dusun Dawung, terdapat sebuah sanggar yang cukup mewah bernama Gubuk Kebon. Sanggar tersebut sering digunakan sebagai tempat latihan teater, tari, atau kesenian lainnya. Tempat tersebut milik Mas Gepeng, seorang guru sekaligus seniman yang cukup dikenal di wilayah Magelang. Beliau dimintai ijin oleh salah satu dulur MQ untuk menggunakan sanggar Gubuk Kebon sebagai tempat diadakannya Selasan putaran ke-41 malam ini.

Acara malam hari ini juga dibersamai oleh Kelompok Teater Fajar yang merupakan anak didik dari Mas Gepeng. Beberapa para pelaku kesenian yang notabene masih muda, energik, dan menggeliat secara tak langsung dipertemukan dalam acara wirid dan sholawat. Tentu hal tersebut menjadi kebiasaan yang baru, karena sanjungan ataupun sapaan kepada Gusti Pangeran dan Kinasih-Nya bukan merupakan kegiatan utama, melainkan hanya sekedar formalitas sebagai salam pembuka.

Selasan sendiri sebenarnya juga bisa termasuk ke dalam sebuah bentuk kesenian. Jika didasarkan kepada keindahan yang tercipta di setiap minggunya. Meskipun, keindahan tersebut tidak bisa disamaratakan antara satu dengan yang lainnya. Terlebih, Selasan sendiri merupakan salah satu wujud kegiatan seni spiritual, bukan bersifat material ataupun intelektual yang bisa dicapai dengan sebuah bentuk kesepakatan dari teknis hingga tujuannya.

Sedangkan yang terjadi di Selasan dengan agenda utamanya menegaskan cinta kepada Allah dan Rasulullah, urusan teknis hinga tujuannya bersifat cair dan dinamis. Hanya saja, untuk menegaskan cinta tersebut dibutuhkan sebuah pembuktian dengan wujud perjuangan yang selalu butuh pengorbanan. Bagaimana engkau akan merasakan cinta tanpa pengorbanan? Bagaimana engkau akan rela berkorban jika tidak ada cinta?

Minggu kemarin, Tadabbur Selasan (Al-Mujaahidiin) telah sedikit memberikan makna bagaimana para Mujahidin atau pejuang ini terus berusaha membuktikan cintanya. Kali ini, kita juga dipertemukan dengan wajah-wajah kesungguhan dan kesetiaan yang senantiasa saling membersamai satu dengan yang lainnya. Saling mengisi ketidakhadiran dengan kepastian kehadiran.

Apakah kita mengira bahwa energi dan kekuatan kita akan kuat menyusuri perjalanan tiap Selasan ini? Kita akan jatuh, sakit, dan semakin terasing hingga menimbulkan potensi-potensi perselisihan yang pada umumnya terjadi pada sebuah perkumpulan. Pernahkan kita merasakan sedikit saja energi dan kekuatan itu datang tidak kecuali oleh karena Rahmat-Nya?

Mungkin usia 41 minggu ini belum bisa dibandingkan dengan usia-usia yang sudah manapaki jenjang tahunan hingga puluhan tahun. Sudah sewajarnya jika waktu akan mengajarkan tentang keletihan, rasa sakit, ataupun kekecewaan. Sudah semestinya jika sebuah perjalanan akan dikenalkan akan batas-batas keindahan. Namun, ingatkah kita juga diberi ilmu  untuk selalu mengingat, “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.โ€ (Az-Zumar: 53)

Kita dituntut untuk tidak mudah berputus asa, โ€œSesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir(Yusuf: 87). Dalam pembuktian cinta dibutuhkan kreasi seni. Begitupun dalam laku seni, dibutuhkan cinta. Semua akan banyak mengajarkan akan kesungguhan dan kesetiaan yang memang menjadi wajah dari cinta itu sendiri. Selasan pada akhirnya bisa menjadi salah satu pertunjukan seni mencinta bukan kepada siapapun, kecuali satu, Yang Maha Mencinta.

Tak terasa wirid dan sholawat malam itu sudah berjalan satu setengah jam. Selepas wirid, para jamaah dan sedulur dari Teater Fajar dipersilahkan memberikan respon ataupun masukan khususnya untuk acara Selasan. Acara dihadiri juga oleh Mas Rendram dan Mas Zaul Haq yang jauh-jauh datang dan sama-sama telah membersemai Selasan sebanyak 3 kali. Mereka berdua juga turut memberikan respon positif atas keberlanjutan Selasan Maneges Qudroh.

Sebelum ditutup, kebetulan malam ini juga ada 4 orang sekaligus yang memiliki tanggal lahir yang sama. Seluruh saudara tak lupa mengucapkan selamat dan doa atas bertambahnya usia bagi mereka. Semoga keberkahan dan keselamatan utamanya selalu menaungi mereka dan seluruh jamaah pada umumnya. Acara pun dipungkasi tepat sebelum waktu menunjukkan tengah malam. Maturnuwun sekali lagi dihaturkan kepada Mas Gepeng dan Mas Bayu. Rahayu!

Gubuk Kebon, 15 September 2020