Judul ini sengaja diambil dari judul film dokumenter yang sedang menjadi trending belakangan ini, dengan judul “The Social Dilemma”. Singkatnya, film tersebut menceritakan sedikit data tentang pengaruh media sosial bagi kehidupan sosial sehari-hari, dari lingkup keluarga hingga negara. Artificial Intellegent yang dibangun secara tidak sadar telah mengubah pola, bahkan menuntun kita seolah mampu membaca apapun keinginan kita.

Uniknya, pakar-pakar pembangun sistem tersebut dan orang berpengaruh yang sudah berkecimpung lama di berbagai platform media sosial, justru menjadi narasumber di dalam film tersebut. Mereka menyadari bahaya atas sistem yang telah dibangun, tidak lagi sebagai individu, namun bagi kelangsungan sebuah peradaban. Manusia hanya dijadikan sebagai produk atau users, yang sering tidak disadari telah menjadi suatu dilema bahkan disanggah terlebih jika terkait dengan naluri eksistensi diri.

Lantas, bagaimana hal tesebut dapat memantik judul menjadi dilema Selasan? Selasan kali ini telah 2x pertemuan berurutan diadakan di Dusun Pletukan. Yang menjadi basecamp Omah Selasan, yang meninggalkan banyak data-data kesetiaan yang tersimpan rapi dalam bilik-bilik jejak perjalanan kerinduannya.

Selasan sendiri merupakan salah satu platform media spiritual di antara banyak media-media serupa. Apabila media sosial memiliki kecerdasan buatan, maka dalam media spiritual ini juga memiliki kecerdasan ilahiah yang terus bergetar segala pencarian dan asihnya untuk kembali menuju ke habitatnya.

Komersialisme dalam media sosial pun menjadi hal yang lumrah, tanpa harus ada embel-embel kapitalisme. Dengan investasi triliunan dollar, sudah sepantasnya jika bisnis dalam media sosial menjadi bisnis yang paling menguntungkan. Meski begitu, media spiritual ini juga memiliki pusat konsentrasi kepada Sang Maha Kapitalis. Bahkan hanya butuh modal telo, kacang, atau pisang godhog yang disandingkan dengan kopi hitam dirasa tetap menyiratkan banyak keuntungan. Toh, baik-buruk manusia tidak akan membawanya kepada kekekalan, karena pada akhirnya hanya akan menapaki satu kepastian innalillahi wainna ilaihi rojiun.

Dilema itu selalu datang sebagai ujian. Jangankan sebuah perkumpulan, diri sendiri pun pasti merasakan sebuah dilema. Jika dilema bersifat pribadi, maka pudarlah. Akan tetapi, jika dilema itu bersifat komunal, hal itu terbantah dengan kesungguhan dan kesetiaan para pejuang yang tetap menjaganya. Karena apapun dilema itu, sesungguhnya tergantung pada diri memandang dilema tersebut.

Kita sering melafadzkan “kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi” (2:255), akan tetapi kita meragukan kebersamaan yang selalu diperjumpakan untuk bersama-sama menyapa-Nya. Bahkan segala sesuatu yang dianggap sebagai sebuah persoalan akan sirna jika kita menggantungkan tidak pada apapun, kecuali hanya kepada-Nya. Bukankah “Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya”?

Dilema-dilema akhirnya bertebangan mengerubungi diri. Kekhawatiran, kecemasan, dan keresahan sering menjadi batas yang menjadi penghalang karena sudah menjadi naluri manusia untuk mencari perlindungan, keamanan, dan keselamatan. Atau jangan-jangan ketidakseriusan itu menjangkit diri tatkala mengucap “wa laa yaa’uduhuu hifdhuhumaa (Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya)” sembilan kali pun tak akan pernah cukup.

Jangan sampai kita sering membicarakan hati yang selesai, akan tetapi jauh di dalam hati kita menanam kebencian dan ketidakpercayaan. Jangan sampai segala kesejatian yang diperbincangkan, hanya sebagai dalih kepiawaian diri untuk menutupi segala laku kepalsuan.

Terdapat 3 kemungkinan ketika kita dijaga karena wirid yang pernah disampaikan oleh Simbah, pertama entah karena wiridannya yang memang begitu menyanjung Allah dan Kekasih-Nya; kedua, karena keberadaan orang tertentu yang begitu dikasihani-Nya di dalam lingkaran tersebut; atau yang terakhir, merupakan hak prerogatif Allah untuk menentukan nasib lingkaran ini.

Selasan tak ubahnya sebuah pelarian, ruang yang menampung segala kegundahan. Menjadi wahana booster kecerdasan spiritual, sebagai penyeimbang kecerdasan intelekteual dan mentalitas yang ditemui sehari-hari. Meski hanya berlangsung beberapa jam dalam seminggu, namun dilematis ke-sexy-an eksistensi tak bisa lepas dari sebuah perkumpulan.

Meski semburat cahaya kebahagiaan itu selalu tertinggal menemani kegelisahan malam. Sembari menanti fajar kembali menyapa.

Dusun Pletukan, 29 September 2020