Nuansa kesetiaan seolah masih menjadi pekerjaan rumah setelah beberapa hari kemarin, tema terkait tentang kesetiaan menjadi bahasan utama dalam rutinan bulanan. Bertempat di Sanggar Soko Papat, Dusun Gadungan Mertoyudan, sebagian sedulur sudah asik dengan topik yang sedang dibicarakan sebelum acara dimulai.

Kehadiran mereka merupakan suatu bentuk perjuangan, tidak ada suatu apapun yang dicari melainkan hanya sebuah peneguhan cinta dalam gerbong wirid dan shalawat yang nantinya dilafadzkan bersama. Mereka tidak sadar telah berjuang untuk setia, meski sesekali nampak raut-raut keletihan itu menjadi keindahan yang tak bisa disembunyikan.

Dengan acara utama yang minim improvisasi, bagaimana mungkin Selasan mampu bertahan hingga minggu ke-44? Dengan topik pembahasan yang kurang menarik atau dengan pembicara yang mungkin membosankan, tapi mengapa mereka tetap setia dan saling membersamai?

Tentu perjuangan tak lantas mewujud ke dalam kehadiran atau yang lainnya. Suatu kehadiran juga tak butuh alasan atas benyaknya pembelaan ketidakhadiran. Karena di sisi lain, para sedulur Selasan pun berjuang sekuat tenaga untuk terus menggali sumur kesetiaan ke dalam dirinya sendiri untuk mendapatkan air kejernihan hati.

Jika Mas Sabrang berpendapat keberhasilan ditapaki atas ketahanan diri akan kegagalan. Bisa jadi hal tersebut juga berlaku dalam kesetian, yang perlu banyak dilatih dengan kekecewaan bahkan pengkhianatan. Segala bukti logis pun termentahkan bagi pencinta, karena tidak ada seorangpun yang mampu meyakinkan para pencinta untuk membuatnya membenci kekasih-Nya.

Sebelum pembacaan Wirid Munajat Maiyah dimulai, salah satu dulur memberikan landasan bahwa wirid sholawat dalam Selasan ini diharapkan mampu mengubah kebiasaan-kebiasaan fujuur menuju fajar. Fujuur sendiri merupakan kefasikan atau kebalikan dari taqwa, yang termuat dalam firman Tuhan, “fa alhamahaa fujuuroha wa taqwahaa.” (Asy-Syams:8) Ayat tersebut sedikit menggambarkan bahwa jiwa manusia memiliki kecondongan untuk menuju ke dalam 2 kebiasaan tersebut.

Oleh karenanya, Selasan selalu menjadi tempat untuk penyucian hati untuk menjaga ketaqwaan bagi mereka yang selalu berjuang dalam kiblatnya masing-masing. Selalu kita memohon tetes kelembutan Muhammad kepada Allah atas qalbu, jasad, ruh, dan hidup kami.

Robbana atina qathrata luthfi Muhammadin fi qalbi
Robbana atina qathrata luthfi Muhammadin fi jasadi
Robbana atina dzarrata luthfi Muhammadin fi ruhi
Robbana atina dzarrata luthfi Muhammadin fi hayati

Kalau bukan semua dulur ini dipertemukan, atas dasar apa lagi mereka terus menjaga kebersamaan? Dan jika semua mengaku sebagai pencinta, siapa lagi peran utama kecuali Dia?

Lantas, “menyetiakan diri atau disetiakan oleh” bukan menjadi stigma dalam batas benar atau salah. Terlebih lingkaran seperti Selasan ini, menjadi salah satu ruang manifestasi kesetiaan kita kepada seorang Guru yang mempertemukan kami di jalan cinta yang sama. Dan atas nilai tersebut, kita merupakan sebagian dari pengikut-pengikut satu Guru yang sama.

Kembali ke diri masing-masing hanya menjadi sebuah siasat yang tidak dibutuhkan jika membicarakan kesetiaan. Karena kesetiaan merupakan sebuah komitmen pengabdian sebagai seorang abdi. Kecuali jika konsep segala pikir subjektif yang terpantik menciptakan jarak dari kebersamaan, maka potensi dualitas cahaya akan menguak. Karenanya, semua benar-benar butuh pencahayaan batin untuk membentuk akhlak atas ketulusan laku peribadatan yang dijalani dalam gerbong wirid dan sholawat Selasan.

Di setiap peristiwa Selasan, seseorang mesti langsung menerjunkan diri untuk mencari dan merajut hubungan cintanya sendiri. Dalam riuhnya sapaan-sapaan yang terlantang selama sepenggal malam. Meneguhkan rasa di ruang manifestasi kesetiaan, menemani setiap khudlur-khudlur yang kesepian. Masih sediakah?

Dusun Gadungan, 6 Oktober 2020