Selasan sudah menapaki minggu yang ke-47. Jika Selasan diibaratkan bayi dengan usia yang sama, mungkin saat ini Selasan untuk bisa berjalan sempurna pun pasti belum sanggup, kecuali tanpa hidayah-Nya. Namun, karena Selasan merupakan ruang, adakah hidayah-hidayah yang bisa dirasakan. Hingga seolah-olah diri telah menemui keajaiban.

Kalau belum menemukannya, ada sedikit pertanyaan di dalam tulisan Mbah Nun yang mungkin bisa memantiknya. Jika subjek dalam pertanyaan di Khasanah Manifestasi Keajaiban (yang ditulis Selasa pagi)  adalah “aku”, maka mari kita sedikit mengubah subjeknya menjadi Selasan hingga kurang lebih menjadi seperti ini, 

“Untuk apa tho sebenarnya Tuhan menciptakan Selasan ini? Untuk apa Selasan ada? Memangnya kalau Selasan tidak ada, kehidupan dan dunia ini lantas bagaimana? Apa ada yang kurang kalau Selasan tak ada? Apa sih sebenarnya gunanya Selasan ada? Apa manfaat Selasan selama ini? Jadi apa istimewanya Selasan ini? Andaikan Selasan tidak ada, pastilah ada jutaan orang lainnya yang bisa mengerjakan seperti yang Selasan kerjakan? Jadi apa urgensinya kok Selasan harus ada sehingga Tuhan menciptakan ruang Selasan ini? Emang Selasan siapa?”

Bisakah kita mulai menemukan makna akan kehadiran masing-masing dari diri ketika dipertemukan dalam Selasan? Dengan ada atau tidaknya kehadiran diri, apakah Selasan tetap ada? Selasan yang membutuhkan kehadiran kita, atau kita yang membutuhkan kehadiran Selasan? Apakah diri ini merasa lebih besar dari Selasan, sehingga Selasan membutuhkan pembelaan dari kita?

Ketika usia Selasan sendiri baru menapaki belasan minggu, ia telah mendapat ujian sehingga harus mengalami sunyi dan senyapnya perjalanan. Lingkungannya seolah telah mengasingkannya atas kedatangan rahmat Tuhan yang lain, bernama Corona. Tiba-tiba saja Selasan harus merasa ditelantarkan.

“Laqod jaa akum rasuulun min anfusikum aziizun alaihi maa ‘anittum hariishun ‘alaikum bil mu’ miniina rouufun rohiimun” (At-Taubah:128)

Namun, masih ada lirih-lirih suara itu terdengar di kedalaman batinnya, kelembutan yang datang dari kaum kita sendiri. Yang begitu perhatian terhadap kesepian (penderitaan) yang sedang dialami, baik oleh karena keterasingannya, dilemahkannya, atau karena keterbatasannya. Kelembutan itu selalu menaungi Selasan yang mewujud menjadi bertambahnya keimanan dan keselamatan yang diberikan, atas rasa belas kasihan kepada orang-orang mukmin. Tidakkah itu juga dirasakan dalam Selasan yang sedikit menjawab pertanyaan akan penciptaannya (Selasan)?

Hingga minggu ke-47 ini, Selasan menjadi sering diadakan di tempat keterasingannya. Yang justru menjadi tempat yang sering dirindukannya hingga tak sengaja terlabeli nama Omah Selasan, yakni di kediaman Mas Mukti dan Mufid, Dusun Pletukan, Tempuran.

Pertanyaan-pertanyaan itu tercipta sudah pasti karena ada jawaban. Layaknya bagaimana awal itu ada karena telah tercipta akhir. Andaipun Selasan tak ada, itu bukan berarti ia tiada, melainkan justru ia memilih rela untuk meniadakan diri di hadapan yang menginginkan dirinya tiada. Meski pada akhirnya kerelaan itu berbuah, peniadaan diri itu justru semakin menguatkan eksistensinya di dimensi yang lain.

Sampai sekarang pun, apa yang dulur-dulur Selasan kerjakan ini sangat-sangat bisa dikerjakan oleh jutaan orang lain. Bahkan tidak ada urgensi yang menuntut Selasan harus ada, karena di sisi lain masih banyak ruang-ruang serupa. Selasan tak lantas membuat diri ge-er. Kebiasaan yang dulur-dulur ini lakukan dalam Selasan tak lantas membuat syarat diri untuk dapat disebut orang mukmin yang pantas mendapat kasih sayang kelembutan Kekasih Allah Muhammad ﷺ.

Kami tak lebih dari qaumul laa yafqahun atau sekumpulan orang-orang yang tidak mengerti. Seolah kehadiran ini berkata kepada Selasan, “Adakah seorang (dari orang-oramg muslim) melihat kamu?”. Lalu kami pun pergi. Bukankah di sisi lain, dalam Selasan sendiri banyak firman yang sering dilantunkan? Bagaimana begitu mudah terkadang kita pergi saat semua itu (wirid dan sholawat) merupakan hal yang pasti mewujud dalam Selasan? Atau memang karena kita telah dibuat berpaling?

Esok kita akan menyambut Maulid Nabi Agung ﷺ, sudahkah kita merasa telah menjadi mukmin sehingga merasa pantas mendapat syafaatnya? Jika ada pertanyaan Selasan siapa, jawaban pastinya, ini bukan tempatnya orang-orang mukmin. Justru sebaliknya, kami hanya orang-orang yang tidak mengerti. Sehingga selalu dibutuhkan pencarian-pencarian atas cinta yang selalu membelai penuh kelembutan itu. Selasan tak lebih hanya sekumpulan orang yang telah dipalingkan hatinya. Daripada mesti mendapat pemahaman doktrin bahwa Selasan merupakan tempat orang-orang mukmin. Karena itu akan lebih menumbuhkan hasrat untuk terus melakukan pencarian.

Kita masih belum bisa dikatakan beriman, karena kita masih sangat jauh dengan kebijaksanaan. Kita masih suka bingung membedakan antara yang hak dan bathil. Kita masih sulit memahami keadaan dan tidak peka terhadap banyak ayat-ayat yang tidak tertuliskan. Bahkan, kami salah mengira kalau ternyata kami sama sekali tidak cerdas. Bagaimana kita bisa mengaku beriman apabila kita masih sering kehilangan peran Sang Maha Tunggal dalam setiap kejadian?

Oleh karena ketidakmengertian itu, seharusnya kita terus berusaha mencari tahu, berusaha mempelajari agar bisa memahami. Bahkan sepanjang hidup pun kita perlu memegang ketidakmengertian itu agar kita tidak mudah terlalu puas atas capaian-capaian yang mungkin saja menjebak.  Dengan ketidakmengertian itu, ternyata Selasan akan memberikan pembelaannya, dengan berbisik, “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung(At-Taubah:129)

Akhirnya, perjalanan Selasan edisi ke-47 ini selesai sekitar pukul 11 malam. Dan sudah menjadi kebiasaan, acara dilanjutkan dengan saling berbagi apapun itu sehingga membuat malam ini tak lupa memberi keindahannya, melalui makna-makna yang tersirat di dalam setiap pertemuannya.

Dusun Pletukan, 27 Oktober 2020