Selasan semalam kembali diadakan di luar provinsi atau lebih tepatnya di kediaman Mas Nurcholis, Beji, Kulon Progo. Acara ini diunduh kembali oleh Mas Nurcholis sebagai wujud syukur setelah menuntaskan pernikahannya beberapa hari sebelumnya.

Suara hadroh yang sedang dilantunkan di rumah Mas Nurcholis menyambut kedatangan dulur-dulur MQ yang mulai berdatangan sekitar pukul 21.00 WIB. Raut wajah keceriaan anak-anak kecil yang ikut melantunkan syair-syair pujian itu pun menjadi tambahan sajian yang menggembirakan. Bagaimana tidak? Irama nada yang terlantun pun tak terasa membuat sebagian dari kami ikut bersama-sama menyanyikannya.

Berhubung hari masih dalam suasana ulang tahun kemerdekaan Indonesia, backdrop bendera merah putih terpampang perkasa di depan halaman rumah Mas Nurcholis yang menjadi tempat kami wiridan. Semoga dengan hadirnya bendera tersebut, mampu menambah semangat dan gelora untuk tetap teguh mencintai negara dan bangsa Indonesia, tanpa melupakan peran Allah dan kekasihNya yang terkemas dalam Wirid Munajat.

Tak selang berapa lama setelah acara hadrohan selesai, sekitar pukul 22.30 WIB, giliran dulur-dulur MQ yang melantunkan wirid dan sholawat. Tanpa satu set perlengkapan musik hadroh, tentu saja membuat alunan terdengar jauh lebih lirih dari sebelumnya. Namun, hal tersebut tak mampu menjadi tolak ukur kedalaman rasa yang tercipta saat melantunkannya.

Sama halnya dengan perbandingan suara tersebut, kemerdekaan pun tak bisa diukur dengan seberapa besar kemeriahan dan kemegahan sebuah perayaan. Terkadang kita terlalu naif terhadap hal yang lebih dibutuhkan secara objektif dibandingkan dengan perayaan kemerdekaan. Bahkan, tanpa harus mengetahui apa itu makna kemerdekaan.

Manusia seringkali salah sangka bahwa dirinya mampu menapaki jalan kebebasan dan kemerdekaan. Dan tak sedikit pula yang tak sadar telah menuhankan kebebasan dan kemerdekaan tersebut. Oleh karena itu, dalam Selasan ini kita sering mewiridkan “Yaa Hadi Yaa Mubin”. Bahwa, kita akan tetap tersesat tanpa adanya Maha Pemberi Petunjuk dan Maha Pemberi Bukti Yang Nyata.

Kita tak sadar suka merepotkan diri, sering mengikat diri pada sesuatu namun enggan patuh terhadapnya. Kita mengikat pada kemerdekaan, namun enggan patuh terhadap aturan dan tatanan. Bahkan, kita mengikat diri pada Tuhan, namun kebiasaan yang dilakukan sangat jauh untuk dikatakan sebagai wujud rasa patuh kepada Tuhan. Daripada repot, mengapa tidak kita lepaskan saja tali yang mengikat?

Bagaimana lagi kita bisa merdeka? Jika kita terus bersandar pada wirid penjagaan “Yaa Amaanu Ya Salaam”. Merdeka bukan berarti bebas, melainkan tahapan untuk menapaki batas-batas. Merdeka dalam arti kebebasan hanya akan dihancurkan oleh kematian, begitu pula ketidaktepatan cara pandang mengenai batas akan menentukan budaya dan usia peradaban.

Dan jangan sangka batas-batas itu akan mudah dilalui. Akan terdapat banyak benturan yang mengakibatkan rasa sakit atau perih yang bermacam-macam. Bisa sebatas jasad, bisa pula sakit itu dialami oleh batin. Tapi, bersamaan dengan itu pula, kita juga dilatih untuk ingat kepada Sang Maha Penyembuh “Yaa Syifaa” dan Sang Maha Penyantun “Yaa Haliim”.

Kita juga tak lupa selalu ingat dan waspada terhadap perumpamaan Gunung yang terpecah belah sekiranya Al-Qur’an diurunkan kepadanya, agar kita berfikir. (Al-Hasyr ayat 21).

Wirid-wirid dan sholawat terus terlantun hingga menunjukkan waktu hampir tengah malam. Dalam edisi ke-37 ini, kita tidak akan pernah mengetahui kapan batas-batas angka ini akan berakhir. Yang pasti, Maha Pemberi Kemerdekaan itu telah menunggu dengan penuh asih dan cinta dalam sebuah perjumpaan yang abadi.