50 kali sudah kita diperjumpakan dalam satu ruang. Yang selalu saja mengisyaratkan keindahan dalam setiap putaran yang telah dilewati bagi yang menikmatinya. Dalam sepi atau riuhnya kebersamaan yang telah dipersatukan. Bahkan, kerlip rintihan yang selalu saja tercurah, seolah sanggup menghempaskan lara dan menggantinya dengan kebahagiaan.

Andaikata dalam satu majelis ini mengalami puncak kenikmatan yang sama dalam ratapan-ratapan ketulusannya, itu pun belum bisa dipastikan mampu untuk mengubah keadaan masing-masing yang membersamainya. Bisa jadi, Allah SWT justru menghendaki keadaan yang seperti ini, karena dengan keadaan tersebut Dia lebih banyak mendapati ratapan-ratapan para hambaNya yang jernih dan tulus untuk mengungkapkan cinta.

Selasan pada edisi kali ini merupakan undangan dari Mas Dhani dan keluarga sebagai hajatan dan bentuk syukur atas telah dibukanya tempat usaha baru. Dan Selasan berikutnya juga telah mendapat pesan untuk mengadakan wirid dan sholawat lagi tak jauh dari tempat acara sekarang. Bedanya, kalau sekarang diadakan di tempat produksi, minggu depannya akan diadakan di toko penjualannya.

Tepat sebelum acara akan hendak dimulai, hujan lebat tetiba menyapa dalam rentang waktu yang tidak begitu lama. Berhubung acara diselenggarakan di teras, semilir angir saat hujan yang membawa partikel-partikel air membuat para jamaah untuk sedikit merapatkan lingkaran agar tidak basah karenanya. Hingga akhirnya tercipta kedekatan dan kehangatan di antara para jamaah.

Menjelang pukul 22.00 hujan yang mulai mereda menjadi pertanda bahwa acara akan segera dimulai. Dengan sedikit narasi yang disampaikan oleh Mas Sigit sebelum wirid dan sholawat dimulai, terkait adab ataupun peristiwa-peristiwa yang mungkin dialami selama bermunajat, yang harapannya tentu agar diberikan keadaan khidmat sehingga para jamaah mampu mendapati kenikmatannya masing-masing.

Tapi sebagai manusia, dari sekian kenikmatan yang pasti telah didapati, tak lantas membuat rasa ingin-ingin yang menyelimuti hilang begitu saja. Standar kenikmatan itu seolah menjadi tuntutan perubahan yang ingin segera terealisasikan. Padahal mudahnya, dari tidak mengetahui menjadi mengetahui bahkan memahami sesuatu sebenarnya sudah menjadi sebuah bentuk kenikmatan bahkan keajaiban. Atau kalau menurut Mbah Nun pun yang menjadi tarekat itu adalah ujiannya, bukan hasil atau terwujudnya suatu keinginan.

Tidak jarang kita banyak menuntut perubahan, namun sesungguhnya kita berada dalam ketidakberdayaan. Ujian yang datang menuju suatu perubahan banyak disikapi dengan keputusasaan hingga mudah mengkambinghitamkan sesuatu yang mengusik kenyamanan hidup dan cara pandang kita. Dan hal tersebut membuat kita lebih banyak menghabiskan energi dengan memikirkan, hingga lupa untuk mengupayakan.

Kita mesti banyak kembali menghitung, sebenarnya kita adalah bagian dari ketidakberdayaan atau memang berada dalam keadaan yang lemah. “Terdapat kelemahan di dalam hati mereka, dan Tuhan telah melipatgandakan kelemahan itu.(2 : 10) Beruntung, Selasan seolah menjadi tempat untuk saling menguatkan hati satu dengan yang lainnya, karena dilakukan berjamaah sehingga merasa saling terawasi. Dan memang seperti itulah fungsi kebersamaan. Hingga dalam sebuah tadabbur pernah disebutkan bahwa Selasan ini merupakan Majelis Biqalbihi,

Dan ketika segala jalan dan usaha telah diupayakan. Sedikit demi sedikit mencoba menapaki jenjang dari biqalbihi menuju bilisanihi namun hal tersebut tidak mengubah apapun. Apakah kita memang dibuat tidak berdaya? Apabila benar dan kita mencoba berangkat dengan ketidakberdayaan tersebut, lantas kita amalkan perintah dari Mbah Nun untuk menyertakan doa Nadi ‘Aliyyan sebagai salah satu upaya untuk didatangkan kejutan keajaiban dalam bentuk apapun. Setidaknya, atas kekuatan yang masih saja ditambahkan dalam ketidakberdayaan ini oleh ijin dan perkenaan Allah Yang Maha Tinggi.

Sayu-sayu bacaan doa Nadi ‘Aliyyan Kabir ini terdengar di antara pengakuan “Hasbunallah wa ni’mal wakil, ni’mal maula wa ni’mannashir” yang meraung penuh keharuan. Memperkuat tali-tali rahmat yang semula mulai rantas bahkan hampir putus, dengan rangkaian lantunan wirid dan sholawat Munajat Maiyah seolah tali rahmat tersebut menjadi terbarukan dan kuat kembali.

Doa yang dipimpin oleh Mas Virdhian menjadi pertanda bahwa perjalanan wirid Munajat pada edisi ke-50 ini telah berada di titik pungkasnya. Semoga apa yang menjadi Hajat Mas Dhani dan  keluarga, serta para pejalan yang berjuang dan diperjumpakan di Selasan ini terijabahi.

Panti Asuhan Cahaya Ummat, 17 November 2020