Suara itu hilang tertelan oleh yang tunggal. Menenggelamkan alunan kebersamaan yang biasanya terdengar berirama. Bahkan suara itu tak terdengar seakan hilang dari dirinya sendiri. Memaksa sebagian terpancing untuk meninggikan volume getaran yang bersumber dari pangkal lidahnya.

Atau, karena itu pula suara-suara terpilih itu merintih. Bersembunyi di balik langtangnya suara sembari mengajak bulir air mata ikut bersuara. Meresapi tiap makna yang terkandung dalam syair-syair kemesraan yang tersusun rapi dalam rangkaian wirid munajat ini.

Diiringi gerimis yang ikut bersenandung, Selasan kali ini kembali menemukan kerinduannya di Dusun Pletukan, atau lebih tepatnya kediaman Mas Dul (Entong) dan adiknya, Mas Mufid. Sedikit romantisme telah tercipta antara Selasan dan tempat ini. Bahkan istilah Omah Selasan begitu melekat dengan salah satu sudut Dusun Pletukan tersebut.

Beberapa sedulur MQ menjadikan tempat ini sebagai gua persembunyian tatkala tagline #dirumahsaja sedang mengalami euforianya. Beberapa rumusan kesepakatan dengan banyak pertimbangan akhirnya memutuskan untuk menepi dan tidak mempublikasikan apapun sebagai salah satu wujud rasa untuk saling memberi rasa aman.

Apa yang dilakukan merupakan bentuk kepedulian terhadap Selasan. Kalau tidak ada kepedulian pada “saat itu”, apakah akan ada “selanjutnya” atau saat ini? Di sisi lain, bisa jadi saat itu menjadi suatu wujud ketidakpedulian, atas dasar keberangkatan nilai yang dipegang. Bahkan nilai ini lebih tinggi dari sekedar terus menjaga api keberadaan Selasan itu sendiri.

Ketidakpedulian itu seperti suara yang menenggelamkan segala suara-suara sayu di sekelilingnya. Ketidakpedulian itu menghantam segala hijab yang secara tidak sadar justru menjadi paradigma yang belum tepat. Ketidakpedulian itu pada akhirnya mengajak para pejuang itu tumbuh. Selasan tumbuh karena ketidakpedulian, sebelum akhirnya datang sebuah kesadaran yang justru berpotensi menjadi penghambat suatu laju pertumbuhan.

Salah satu contoh pertumbuhan yang tidak diperlukan kesadaran adalah vaksinasi yang menambah imunitas tubuh, khususnya di kala pandemi seperti saat sekarang ini. Apabila hal tersebut disadari, ada hasrat yang tidak disadari datang bersamaan, yakni sikap ‘merasa’. Jika lahir suatu sikap ‘merasa’, hadir pula suatu sikap ‘dirasa’, yakni cemburu.

Orang-orang seperti itu ada dan selalu merasa iri ketika melihat orang lain menikmati kemudahan dan kenyamanan, dan ingin mencabut kenikmatan dari mereka. Walaupun pada akhirnya rasa cemburu itu akan dihancurkan oleh rasa cemburu itu sendiri hingga tak ada lagi yang perlu dicemburui. Lalu, masihkah dibutuhkan kesadaran?

Ruang ini adalah salah satu wujud ketidakpedulian kepada apapun, kecuali hanya menjadi tempat bermunajat bersama. Terus menerus menempa asih yang banyak bermanifestasi kepada sesuatu yang selalu membersamai kita. Ketidakpedulian yang menumbuhkan itu hanya bisa menjadi pegangan sendiri, karena selalu teringat akan pesan, “Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih.(11:9)

Teringat salah satu pesan Mbah Nun di awal pandemi wabah ini mulai menyapa, bahwa yang mencelakakan hidup Jamaah Maiyah bukanlah Corona, melainkan takabur dan kesombongan dalam mentalnya, kebodohan dalam pikirannya, dan tiadanya ilmu tawadlu’ dalam hatinya.

Hanya saja, sesuatu yang menumbuhkan itu juga perlu diseimbangkan dengan sebuah peringatan , bahwa “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih(14:7)

Sungguh banyak sisi dan sudut pandang yang bisa menjadi keberangkatan niat untuk mentadabburi banyak hal, utamanya tentang makna dan hakikat Selasan. Meskipun tetap saja jika berbicara mengenai hakikat dengan orang yang taat kepada aturan, sekalipun banyak membicarakan tentang makna dan hal serupa dengan cara yang berbeda, mereka tidak akan mau mendengarnya.

Dusun Pletukan, 23 September 2020