Baik dalam keadaan lemah ataupun tak berdaya, kami selalu diperjalankan untuk menapaki putaran-putaran Selasan berikutnya, setidaknya hingga titik ke-51 ini. Kami dipertemukan di kediaman Pak Adi (Ndalem Ngadisuryan), tepatnya berlokasi di daerah Dusun Saratan, Mertoyudan, Magelang. Selain itu, Selasan kali ini juga sebagai bentuk rasa syukur atas lahirnya putra kedua beliau belum lama ini.

Malam yang cukup cerah dengan suhu yang sedikit lebih dingin dari biasanya mengiringi perjalanan kami. Namun, rasa dingin itu seketika hilang tatkala kami tiba di lokasi karena beberapa sanak saudara Pak Adi sudah menanti kedatangan kami di beranda rumah penuh dengan kehangatan. Sedikit sambutan dari Pak Adi sebelum wirid dan sholawat dimulai, beliau menegaskan bahwa banyak-banyak mengucapkan terimakasih atas doa ataupun perhatian dari sedulur Selasan dan permintaan maafnya karena dalam beberapa kesempatan terakhir tidak bisa mengikuti Selasan.

Pada putaran kali ini, ada beberapa sedulur yang menitipkan doa untuk kesehatan ataupun keselamatan bagi orang terkasihnya. Dengan harapan ketika doa-doa dilakukan secara berjamaah dalam Selasan, maka Allah berkenan untuk membantu permasalahan yang sedang dialami. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk ikhtiar bagi dirinya, dan memahami fungsi ruang kebersamaan (Selasan) sebagaimana mestinya.

Dalam beberapa putaran terakhir, Selasan selalu memasukkan doa Nadi ‘Aliyyan Khabir di sela-sela dulur yang lain sedang melantunkan “Hasbunallah” sebagai pemantik datangnya manifestasi-manifestasi keajaiban sesuai dhawuh yang pernah diberikan oleh Mbah Nun. Di antara panjangnya doa ini, ada satu bait inti doa yang salah satu satu kalimatnya berbunyi “tajid hu’aunan laka fin-Nawaaib (kau akan mendapatinya sebagai pembantu di kesusahan-kesusahanmu)”.

Doa tersebut seperti menjadi jawaban tatkala minggu-minggu sebelumnya kami mentadabburi doa ini dengan menyeru “kulla hammim wa ghammim sayanjalii (agar susah dan sedih menjadi reda)”. Tentu saja untuk menjadi reda atau hilang, dibutuhkan satu kekuatan yang nantinya akan berperan mengurai permasalahan yang meresahkan atau bahkan menyusahkan. Namun, dalam Selasan sebenarnya kita sudah memohon dan meminta lewat bait-bait doa ataupun syair-syair cinta yang terlantun, meskipun belum banyak yang mengetahuinya.

Keajaiban itu sebenarnya bisa dirasakan bagi sedulur-sedulur yang berada dalam Selasan. Mereka yang digerakkan, mereka yang diperjalankan, mereka yang saling peduli antara satu dan lainnya, mereka yang saling merajut tali rahmat, semua itu merupakan wujud perkenaan atas daya dan kekuatan, bukan dari siapapun, kecuali hanya dari Allah Yang Maha Kuasa. “biwilaayatika Yaa ‘Aly

Selasan putaran ke-51 ini mungkin kalah kuantitas dibandingkan putaran-putaran sebelumnya, akan tetapi dalam kesempatan kali ini, Selasan telah melahirkan salah satu kualitas atas hasil rembug bersama yang terbentuk atas dasar sifat asih, peduli, dan saling menjaga, sebagai salah satu upaya mewujudkan keamanan dan kesejahteraan bersama, khususnya dalam satu ruang kebersamaan ini hingga kelak tak menutup kemungkinan juga untuk masyarakat yang lebih umum dan luas.

Dalam posisi selemah-lemahnya atau mungkin setidakberdayanya kita, seharusnya keadaan tersebut bukanlah sebuah alasan pembelaan diri sehingga menurun daya kreativitas, daya juang silaturrahmi, ataupun daya untuk terus mencari ilmu. Namun, dengan keadaan tersebut justru bisa menjadi sebuah kesempatan untuk lebih banyak menemukan keajaiban-keajaiban yang mungkin saja selama ini sering terlewatkan.

Keajaiban itu bahkan banyak bersembunyi dalam kata yang sering kita lafadzkan dalam wirid Munajat Maiyah. Keajaiban-keajaiban yang butuh aktivasi diri  mulai dari kesungguhan, kelembutan serta kesetiaan terhadap kata-kata itu sendiri untuk dapat menemukannya. Hingga nantinya menjadi sebuah aktualisasi diri yang salah satunya terwujud dalam suasana kebersamaan dan kepedulian malam ini.

***

Dusun Saratan, 24 November 2020