Selasan merupakan ruang perhatian yang diberikan oleh kata-kata yang saling dipertemukan. Jika diperhatikan, Selasan yang sudah menapaki usia minggu ke-52/ setahun ini, tak mungkin ada bahkan terhitung tanpa ada segala bentuk perhatian yang tercurah. Sekalipun, wujud yang nampak pada umumnya orang melakukan wirid dan sholawat adalah mengungkapkan atau melantunkan kata sebagai ungkapan pembuktian atas cinta dan kerinduan kepada Allah SWT dan kekasih-Nya.

Perhatian yang tersirat dari dalam diri dan laku yang terwujudkan dalam kebersamaan melantunkan kata. Ibarat buah mangga yang akan kita nikmati, kita tidak akan bisa merasakan betapa enaknya daging buah mangga tanpa ada kulit buah yang menutupi dan menjaga esensi rasa dari daging buah mangga tersebut dengan perhatiannya. Bahkan untuk dapat menikmati buah tersebut, dibutuhkan upaya-upaya atau sebuah proses yang tak bisa didapat seketika.

Perjalanan waktu setahun Selasan ini, dari contoh buah mangga, setidaknya ada 2 jalan atau upaya untuk mendapat kenikmatan, yakni menanam dengan bisyaroh waktu; atau dengan berupaya menyingkat waktu dengan membeli berbisyaroh tenaga dan ongkos. Kedua jalan ini tentu memiliki kelemahan dan kelebihannya masing-masing. Meskipun keberangkatan kedua jalan niatnya sama, yakni dengan cinta, akan tetapi kenikmatan yang dirasa bisa jadi memiliki potensi yang berbeda.

Jika Mbah Nun pernah memberikan pilihan 3 daur terkait perubahan, dengan revolusi spiritual, revolusi kultural, dan revolusi sosial. Sebenarnya, Selasan juga merupakan salah satu ruang manifestasi perubahan diri. Hanya saja Selasan lebih cenderung untuk menguatkan sisi spiritual dengan ongkos memaksimalkan taqwa, sabar dan tawakkal.

Ongkos tersebut setidaknya teruji ketika hujan turun secara konsisten seharian di Panti Asuhan Cahaya Umat (Mas Dhani), tempat diadakannya acara Selasan, bahkan hampir di seluruh wilayah Magelang. Perhatian terkadang menjadi pudar tatkala membaca pertanda hujan sebagai sebuah ancaman. Akan tetapi, perhatian itu juga berpotensi meningkat apabila hujan yang membasahi daratan ini dipandang sebagai berkah atau pertanda cinta langit kepada bumi.

Dalam olah spiritual, segalanya memang nampak absurd dan cenderung bisa dibolak-balikkan untuk dicari sisi kebaikannya. Selasan sendiri merupakan perkara batiniah yang pasti membutuhkan kehadiran hati Al- Mutahabbina FIllah, atau dengan pelaku utama MasyaAllah atas kadar ikhtiar ber-Maiyah. “Idz dakholna jannatal ma’iyyata qulna masyaAllah la quwwata illa billah”.

Dengan dibersamai rintik-rintik air yang tak kunjung mereda, karena waktu juga dirasa sudah terlalu larut, maka acara segera dimulai pukul 22.00 dengan kehadiran sebagaimana adanya. Mas Ipul yang sebelumnya telah disepakati untuk membawakan acara malam ini pun segera memulainya menjelang tepat pukul 22.00. Selasan yang tak pernah sanggup direncanakan, tanpa cahaya Allah Qohirun ‘Ala ibadiHi, akhirnya memulai perjalanan ke-52-nya.

Setidaknya, dalam balutan kemesraan antara semesta yang bernyanyi lirih melalui suara hujannya yang mengiringi nada akan kata-kata cinta yang terlantun, seolah menciptakan getaran yang menggerakkan hingga semua tertunduk. Menjadi wujud luar atas kehadiran hati yang dipersembahkan secara totalitas dan kekhusyukan massal dengan konsistensi amaliyah kultural, yang mana hal tersebut merupakan ciri tarekat dari revolusi spiritual.

Perjalanan wirid dan sholawat ini berjalan hingga menjelang pukul tengah malam ditandai dengan doa bersama yang dipimpin oleh Mas Virdhian. Setelah sejenak melakukan pengendapan atas apa yang telah dilakukan bersama, para pencinta dipersilahkan menikmati sajian yang telah dipersiapkan sembari saling memperkuat tali silaturrahmi melalui obrolan-obrolan yang mengalir penuh canda dan tawa.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.(Al-‘Ashr: 1-3)

Demi masa yang telah memberikan sedikit ruangnya kepada Selasan, hingga menapaki minggu ke-52 atau setahun. Semoga ikhtiar yang dilakukan mendapatkan buah dengan kenikmatan rasa manis atas perjuangan-upaya yang telah dilakukan. Dan dengan kerendah-hatian selalu memohon “kuatkanlah kami dalam kesabaran”, untuk dapat menjaga kebersamaan kami dalam melantunkan kerinduan kami kepada-Mu dan

Panti Cahaya Umat, 1 Desember 2020