Tanah terlihat masih basah di halaman rumah Mba Yani, di Dusun Sirahan, Salam. Sepertinya gerimis belum lama usai menyapa tatkala Selasan akan segera diselenggarakan. Dan karena lokasi yang cukup jauh, nampak dulur-dulur yang rindu untuk bermunajat datang sedikit lebih larut. Kebetulan juga dalam edisi ke-45 ini, ada salah satu mahasiswa UGM asal Sidoarjo yang hendak melakukan penelitiannya di Maneges Qudroh.

Mahasiswa tersebut bernama Mas Sofyan. Sebelum acara wirid dimulai, Mas Sofyan dipersilahkan untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sekiranya dibutuhkan dalam penelitiannya. Mas Sofyan sangat ingin sekali belajar mengenal lebih dalam mengenai Maneges Qudroh, karena selama ini Mas Sofyan hanya bersinggungan dengan Maiyah melalui youtube, sedangkan secara langsung baru berkesempatan di Mocopat Syafaat sejak tahun 2019.

Karena begitu banyak pertanyaan mulai dari sejarah, teknis kepengurusan, jadwal dan agenda, ruang yang menampung, hingga makna Maneges Qudroh yang pasti memiliki pemaknaan berbeda bagi masing-masing jamaah. Suasana nampak menjadi saling berbagi informasi, karena bukan hanya Mas Sofyan, tetapi teruntuk dulur-dulur lain yang belum mengetahuinya. Namun dalam Selasan, kesadaran utama yang pasti dipegang dalam perjumpaan seperti ini adalah sebuah kesadaran kalau kita hanya dipertemukan, bukan atas kehendak diri sehingga dapat berkumpul seperti ini.

Kesadaran itu setidaknya menjawab wirid yang diserukan sangat jarang. Kebetulan malam itu kita serukan bersama “Robbi Anzilni Munzalan Mubarokan wa Anta Khoirul Munzilin (Ya Rabbku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah Sebaik-baik yang memberi tempat; Al-Mu’minuun:29)”. Doa yang dipanjatkan oleh Nabi Nuh As. ketika akan turun dari bahteranya agar diberikan tempat yang diberkati dan terbaik. Dalam zaman sengkarut ini, tidakkah seharusnya perjumpaan yang dipertemukan dalam Selasan merupakan salah satu pemberian tempat tersebut?

Hal ini menjadi pembuktian dari makna-makna yang tadi disampaikan terkait perkumpulan ini. Ada yang memaknai sebagai ruang belajar dan silaturrahmi, keluarga, oase, sampai makna layaknya kawah Candradimuka, dll. Cahaya berkat itu membias menjadi banyak hal yang baik yang saling melengkapi. Walaupun itu lantas tak menjadi batas akan tempat-tempat baik lainnya.

Lalu, dilanjutkan dengan wirid doa Nabi Zakaria As. ketika memohon keturunan. “Robbi La tadzarni fardan wa Anta Khoirul Waritsin (Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik; Al-Anbiya:89)”. Namun, menariknya dari doa ini ada pada ayat berikutnya.

Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.”

Ada setidaknya 3 kebiasaan yang selalu dilakukan oleh Nabi Zakaria As. dan istrinya, yakni mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik, selalu memohon/berdoa kepada Tuhan dengan penuh harap pun cemas, serta khusyu’ kepada Tuhan.

Dalam Selasan, wirid dan sholawat ini sebenarnya memiliki potensi untuk mentransformasi diri sebagai bagian manifestasi dari pemberi tempat menuju pemberi waris (baik ruang, silaturrahmi, ilmu, dsb.) sesuai dengan pemaknaan yang dipegang oleh diri pribadi masing-masing. Dari Munzilin menuju Waritsin. Kita hendaknya bisa berusaha untuk mewariskan kebaikan, karena yang terbaik dari kedua sifat itu hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla.

Tentu saja semua bentuk taddabur akan terakses apabila kita mau memperhatikan. Seperti pengingat dari Cak Fuad melalui Tetes “Arti Taddabur Al-Qur’an” yang mengutip surat Muhammad ayat 24, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci” Dan banyak sisi yang seharusnya bisa ditadabburi bahkan hanya dalam satu perjumpaan.

Rangkaian lantunan wirid dan sholawat pun berakhir ketika waktu hampir menuju tengah malam. Sembari menikmati hidangan yang telah disajikan oleh Mba Yani, Mas Sofyan melanjutkan penelitiannya dan yang lain nampak mulai membentuk lingkarannya masing-masing. Hingga tersisa cahaya kebahagiaan yang menyelimuti perjumpaan kali ini melalui canda dan tawa yang tidak sadar telah disajikan pula oleh mereka.

Dusun Sirahan, 13 Oktober 2020