Berbicara tentang simbol angka yang menunjukkan kegiatan yang dilakukan berulang kali, 40 mungkin kerap diperbincangkan dalam maiyah sebagai sebuah angka kelahiran baru atau masa-masa puber kedua yang perlu lebih dicermati lagi keseluruhan laku diri, baik jasad ataupun batin. Karena dalam rentang angka 40 ini, nantinya akan mempengaruhi prinsip akan kebenaran arah dan tujuan perjalanan yang akan dilpilihnya.

Tentu saja itu bukan merupakan suatau nilai yang dapat dipastikan dan dipegang kebenarannya, karena pasti debatable. Jika Selasan di Maneges Qudroh ini yang sudah berada di putaran ke-40, apakah bisa disebut sebagai kelahiran baru? Dengan memakai ukuran waktu yang berbeda, apakah bisa hal ini dipakai sebagai salah satu bentuk percepatan?

Berbeda dengan rutinan yang banyak menghabiskan suatu pertemuan dengan diskusi, Selasan hanya mengisinya dengan wirid dan sholawat. Dengan pejalan yang mayoritas masih berada di usia generasi milenial, bukankah hal ini menjadi suatu arus yang bertolak belakang dengan umumnya orang-orang milenial seusia mereka?

Sedikit mengintip mundur awal mula Selasan ini dilakukan bukan lain untuk menindaklanjuti dhawuh Simbah atas pembentukan pasukan wirid yang diragukan keberlanjutannya dengan kendala-kendala yang mungkin dihadapi, namun semua ketakutan itu belum terbukti. Bahkan, Selasan edisi ke-40 yang diselenggarakan di rumah Mas Aris menunjukkan bahwa antusiasme dan rasa rindu untuk terus bersama-sama menyapa Allah Swt. dan Rasulullah Saw. tetap terjaga.

Pada akhirnya, ini lebih dari sekedar pasukan atau prajurit yang terbentuk karena kepentingan-kepentingan tertentu. Ini juga bukan pengabdi atau penghamba atas Selasan itu sendiri karena Selasan sendiri hanyalah ruang dan waktu. “Yaa imaamal mujaahidiin, Yaa Rasuulallaah”. Kita tak lebih dari sekedar pejuang untuk membuktikan ketulusan dan cinta atas pemimpin kami. Selama 40 kebersamaan ini pun tak lantas membuat kita pantas meski sebatas disebut sebagai pejuang yang engkau pimpin.

Kita dipertemukan dan berjuang saling menemani dalam perjalanan malam-malam gelap nan sunyi. Untuk mencari perlindungan dari Maha Yang Melindungi disaat banyak manusia-manusia banyak menghabiskan waktu untuk tidur. “Yaa man asraa bikal muhaiminu lailan, nilta maa nilta wal-anaamu niyaamu.

Meski berawal dari menjalankan sebuah perintah, namun pada akhirnya banyak keberkahan yang jusrtru dilimpahkan kepada kami. Banyak keselamatan yang manaungi kami. Meski itu pun tak lantas membuat kita pantas untuk berbangga diri, melainkan terus merasa jangan-jangan keselamatan itu ujian limpahan keberkahan tak lebih dari sekedar bombongan.

Selasan ini sendiri telah lahir kedua kalinya. Bisa jadi, 40 juga mungkin sebuat kemerdekaan yang memaksa kita untuk memahami limitasi batas-batas. Untuk lebih mentadabburi apapun yang ditemukan terutama ayat-ayat yang tidak tertuliskan selama ini. Utamanya yang selalu membersamai malam-malam Selasan ini. Hingga terwariskan sampai generasi-generasi berikutnya.

Secara tidak sadar, mungkin kita mengalami percepatan. Mengalami lipatan-lipatan waktu yang jika dibandingkan dengan rutinan bulanan selama 9 tahun telah mencapai jumlah 1/3-nya dengan tenggat waktu tak lebih dari 1 tahun. Bisakah itu memberikan bukti bahwa kita merupakan pejuang? Yang bersungguh-sungguh juga setia terhadap pemimpin kami.

Dalam genap perjalanan ke-40 di Dusun Sadegan, Tempuran, situasi tetap tercipta mesra seperti biasa. Tak lupa, kita pun turut menyapa Bunda Cammana yang sehari sebelumnya telah berpulang. Kita sedikit berbagi bercerita setelah selesai wiridan, tentang sosok perempuan yang dianggap sebagai seorang bagi Mbah Nun. Sekalipun, acara sudah ditutup sedari tadi, namun kami masih enggan beranjak meski waktu telah menunjukkan hampir tengah malam.

Dusun Sadegan, 8 September 2020