Segala penderitaanmu muncul karena menginginkan sesuatu yang tidak dapat diperoleh. Ketika engkau berhenti menginginkan, tidak akan ada lagi penderitaan”. Kalimat di akhir reportase rutinan terakhir Maneges Qudroh tersebut menjadi pemantik untuk segera memulai Tadabbur Selasan kali ini. Karena bagi sebagian orang, Selasan tak jarang menjadi sebuah ruang untuk melampiaskan beban kehidupan yang selama ini terpendam. Hingga bersama syair-syair cinta, segala beban itu seolah terhempaskan.

Selasan yang masih diperjalankan menginjak putaran ke-49 di tempat Mas Arif Playhearts – tepatnya di Galeri Sebening Embun— setidaknya sudah memberikan banyak pelajaran, berkah, atau hikmah bagi yang setia membersamai Selasan itu sendiri. Kata-kata yang acapkali disangka magis pun dalam segala tadabbur pun tak lebih merupakan bentuk tahadduts bin-Ni’mah.

Perjalanan wirid dan sholawat malam itu dimulai sekitar pukul 22.00, setelah sebelumnya dibuka sembari diberi sedikit lemekan oleh Mas Sigit, terutama tentang kaidah-kaidah yang berhubungan dengan amalan wirid dan solawat yang akan dilakukan bersama. Meskipun menurut Mas Sigit wirid atau sholawat tersebut bisa dilakukan sendiri di rumah, akan tetapi apabila dilakukan berjamaah seperti dalam Selasan. Suasana yang tercipta membuat kerinduan tersendiri sehingga waktu Selasa malam seolah menjadi waktu yang dinanti.

Pun jika dalam keberangkatan niat ada sesuatu yang diinginkan dalam Selasan, langkah berikutnya pasti akan terasa berat, atau bisa juga melalui keadaan-keadaan yang memberatkan. Mungkin kami (dalam Selasan) memang tidak memiliki ilmu hingga kami merasa sangat tidak mengerti apapun. Wirid dan sapaan yang terlantun, hanya bisa dibawa dengan bekal ketulusan niat.

Kita tidak bisa terbebas dari keinginan karena itu merupakan ciri khas manusia. Tapi di wilayah manusia pun, setidaknya kita memiliki upaya atau perjuangan yang dilakukan untuk menuju suatu tempat. Hingga nampak derajat-derajat yang berbeda di antara manusia-manusia yang sedang menjajaki ketersesatannya.

Melalui wirid dan sholawat, kita secara tidak langsung telah dirangsang untuk mengenali tujuan tersebut. Melalui Selasan, kita selalu mendapat vaksin wirid-wirid yang menjadi filter untuk lebih banyak menghitung kembali upaya perjuangan yang sedang dijalani. Bahkan, melalui sholawat kepada “Yaa Karimal ‘Akhlaq”, kita dilatih untuk lebih presisi terhadap batas-batas tujuan yang tak henti untuk terus ditapaki.

Seolah di dalam Selasan ini, upaya pertama yang kita lakukan dalam perjalanan ini adalah membunuh diri dan membuang gairah syahwat atau hasrat yang sering terwujud menjadi suatu bentuk keinginan. Karena bersamaan dengan Hari Pahlawan, setidaknya bagi diri sendiri, semua itu merupakan ―perjuang utama, yakni menegaskan bahwa “katakan, kebenaran telah datang, dan kebatilan dikalahkan.(17 : 81). Hingga penderitaan atau keresahan dalam kehidupan sedikit demi sedikit semakin berkurang dan berubah menjadi kebahagiaan.

Dan keadaan itu mewujud usai putaran ke-49. Setelah selesai dengan hidangan yang telah disajikan oleh Mas Arif,  dulur-dulur Selasan membentuk sebuah lingkaran dan saling membagikan kebahagiaannya hingga suasana pun penuh dengan gelak tawa dan canda, sekalipun waktu sudah menunjukkan 2/3 malam.

Sebening Embun Galeri, 10 November 2020