Srawung Suwung

Omah Maneges malam ini masih terlihat lengang, disaat seharusnya ada acara rutin bulanan yang diadakan oleh Maneges Qudroh. Sekitar pukul 19.00 masih belum nampak akan ada acara di Omah Maneges malam itu, padahal acara seharusnya sudah dimulai pukul 19.30 menurut undangan pada poster yang tertera di media-media sosial. Tikar belum seluruhnya terbuka, sound system malah belum sama sekali terpasang, pun background Maneges Qudroh yang sepertinya memang sengaja tidak akan dipasang.

Hujan sepertinya bukan menjadi sebuah kendala, karena langit malam ini nampak enggan menjadi alasan ketidakhadiran untuk sekedar bersitalurrahmi atau sinau bareng di Simpul Maiyah Magelang yang telah mencapai edisi ke-98. Atau mungkin karena tema “Srawung Suwung” pada malam hari ini yang terdengar kurang trendy di kalangan anak-anak zaman now. Padahal, dalam khasanah jawa maupun ilmu sufisme, kata suwung sendiri memliki posisi, arti dan makna yang sangat penting. Hingga suwung itu sendiri terkadang bisa menjadi tolak ukur ahwal seseorang untuk mencapai maqom tertentu.

Suwung mengandung arti kekosongan yang bernuansa mengendalikan diri yang sempurna dan kesadaran sejati akan diri yang berhubungan denga ketuhanan. Suwung merupakan sikap mental seseorang, yang mana dalam perjalanan hidupnya selalu bersikap ikhlas “lillahita’ala”, hanya semata-mata mendedikasikan hidupnya untuk Tuhannya, tanpa mengharapkan imbalan apapun dari manusia. Sepertinya acara sinau bareng malam itu ikut ketularan suwung dengan kekosongannya mendekati dimulainya acara. Walaupun lebih dikarenakan Mas Dhian sebagai tuan rumah sedang kedatangan tamu ‘sakit’, yang berimbas pada persiapan acara yang kurang maksimal.

Sembari mempersiapkan tempat, para tamu sinau bareng sedikit demi sedikit mulai berdatangan. Terdengar sayu-sayu kata “ngapunten nggih, Mas!” terlontar dari penggiat kepada para tamu yang hadir sebagai ungkapan maaf karena tempat yang belum maksimal. Namun, setidaknya kesuwungan entah acara atau sikap itu sedikit terbalas oleh balasan senyum ikhlas para tamu yang sedikit memberikan kelegaan. Kesederhanaan dan apa adanya telah menjadi ciri acara bulanan disini, jadi tak butuh waktu lama dan dengan tenaga seadanya untuk mempersiapkan semuanya.

Tadarus dari Mas Ipul menjadi tanda acara telah dimulai. Kemudian dilanjutkan dengan tahlil singkat dipimpin oleh Mas Dhian, dikhususkan kepada Kang Daryanto yang belum lama berpulang kembali memenuhi panggilan Gusti Allah. Shalawat-shalawat maiyah pun tak ketinggalan dilantunkan sebagai landasan cinta kami kepada Maiyah yang telah mengumpulkan dan mempertemukan semuanya pada acara sinau bareng pada malam ini.

Sebagai moderator, Mas Eko langsung membuka fenomena-fenomena tentang srawung yang umum terjadi di lingkungan masyarakat. Srawung mengandung filosofi yang mendalam. Srawung tidak hanya dimaknai sebuah perjumpaan. Dari srawung itulah ada sebentuk rasa yang muncul, yakni saling mengenal satu sama lain “lita’arofu”, sehingga terjalin rasa paseduluran atau silaturrahmi. Dalam sebuah perjumpaan itu sendiri juga bisa sembari belajar bersama (sinau bareng), menimba ilmu (ngangsu kawruh).

 Untuk mencari srawung suwung, semua jamaah yang hadir diberi kesempatan untuk memegang microphone dan menceritakan tentang pengalaman srawung di lingkungannya masing-masing. Meski tidak semuanya bercerita dan hanya memperkenalkan diri, namun dari banyak cerita yang telah tersaji dapat disimpulkan jika kebanyakan manusia melakukan srawung karena hakikatnya sebagai manusia sosial. “Nek aku ra srawung, suk aku tuo ne pie?” Atau terdapat juga yang srawung karena takut esok tidak disrawungi jika suatu saat tiba giliran dirinya punya hajatan atau meninggal.

Ada satu sisi menarik dari salah satu jamaah yang menceritakan kisahnya, yang memutuskan untuk berkomitmen untuk bertapa dan tidak mencari pekerjaan disaat dirinya sudah dipasrahi tanggung jawab sebagai kepala keluarga. Sehingga terlontar sebuah landasan berpikir baru, “srawung karena suwung atau suwung karena srawung?” Ungkapnya.

Di dalam srawung pergaulan di tengah masyarakat kita harus suwung (kosong) artinya melepaskan identitas-identitas diri kita, ego kita dan kekotoran hati kita yang berakibat merusak sesrawungan itu sendiri. Dalam sesrawung kita harus mendahulukan diri kita untuk tampil ‘nyrawungi’ bukan ‘disrawungi’ atau dengan kata lain, kita harus siap melayani bukan meminta untuk dilayani.

Disaat manusia awam sering menyebut suwung sebagai sesuatu yang gila atau kenthir. Tapi dalam suwung yang menjadi pembahasan malam ini yang memiliki makna kekosongan, sebenarnya hanyalah makna imajiner kita yang telah mencapai taraf keseimbangan.. Dalam keseimbangan ini, suwung bisa menghasilkan sikap netral dan membiarkan segala hal yang terjadi di sekitarnya berjalan sesuai dengan kehendak alam. Kekosongan yang menghasilkan sikap pengendalian diri ini pada akhirnya akan bermuara pada penemuan hakikat akan diri kita masing-masing.

Srawung atau komunikasi manusia suwung yang telah menemukan pengenalan ini melakukan pertapaan tidak lagi menuju ke sebuah gua atau tempat-tempat sepi yang lain. Akan tetapi, ia akan melakukan pertapaannya di dalam hiruk-pikuk atau keramaian jagad raya semesta ini. Srawungnya diawali dengan komunikasi intens dengan diri sendiri, manusia, tumbuhan, hewan, bahkan alam semesta ini. Seluruh hasrat ragawi pun telah dikenali, sehingga srawung suwung ini akhirnya akan nampak seperti pertapa proaktif. Yang tahu kapan mesti harus berbuat dan kapan harus menahan diri.

Dalam peribahasa jawa terdapat istilah ‘suwung pamrih tebih ajrih, langgeng tan ana susah tan ana bungah’ adalah suatu sikap kesempurnaan pengendalian diri yang ditujukan untuk menemukan kemerdekaan yang hakiki atas hidup. Kekosongan pun menjadi berisi karena kekosongan itu sendirilah yang menopang segala keberadaan/keeksistensian. Segala laku pengendalian diri ini pun menghasilkan sikap kebajikan dan pelayanan yang nyata kepada sesama dan semesta.

Tidak ada hiburan apapun pada malam hari itu, kecuali suasana sinau bareng itu sendiri. Membentuk interaksi tanpa tendensi apapun sehingga kebersamaan dan kebahagiaan yang membalut diskusi dapat terjaga sekian lama sampai tengah malam. Waktu telah menunjukkan pukul 01.00 dinihari dan acara dipungkasi dengan doa bersama dan melantunkan pujian-pujian khas maiyah kepada Kanjeng Nabi sembari saling bersalaman antar seluruh peserta sinau bareng malam hari ini.

Omah Maneges, 6 April 2018