Ada teman saya yang bilang ke saya. “Saya ini sangat sungguh-sungguh membantu masalahnya teman-teman. Tapi teman-teman tak pernah sungguh-sungguh membantuku”. Dan saya lihat sendiri, teman saya ini memang sungguh-sungguh. Tidak main-main. Tidak hanya, ya sekedar mengisi waktu luang. Tidak cuma, ya, sewajarnya temanlah. Tidak begitu.  Mungkin seserius, seperti seorang laki-laki saat ijab-qobul pernikahan. Mungkin juga, seperti seorang bapak yang sepenuh jiwa raga menjaga anak perempuannya. Sebagaimana mentari sungguh-sungguh menyinari.

Saya pun tertampar. Iya, ya! Selama ini, saya dalam banyak hal, ternyata tidak sungguh-sungguh. Banyak sekali yang saya lakukan, sekenanya, semampunya, seadanya, saktekane. Alhasil, banyak PR saya menumpuk bahkan beberapa terlewat tanpa pernah saya selesaikan.

Apalagi saat iseng-iseng membuka Qur’an digital, saya temukan, “Dan barang siapa menghendaki kehidupan akherat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik.” [QS Al-Isra’: 19]

Betapa hari-hari saya selama ini kokean cengengesan, tidak serius, sekedarnya, waton urip, waton mlaku. Perjuangan saya “ke arah itu” masih setengah-setengah, belum sepenuh hati. Sehingga tidak optimal. Bahkan untuk menjadi diri sendiri saja, saya tidak sungguh-sungguh.

Duh. Duh. Kok malah saya curhat kemana-mana. Maafkeun. Begini. Saya tuh “iri” sebenarnya dengan beberapa kali pergaulan dan persambungan saya dengan Dulur-Dulur Maneges. Yang sungguh-sungguh dalam bersaudara. Yang sungguh-sungguh dengan pekerjaannya. Yang sungguh-sungguh dengan keluarganya. Yang sungguh-sungguh dalam banyak hal. Karena menurut saya, kesungguhan itu modal besar bagi kita untuk ber-apapun saja nantinya.

Salam takdim saya kepada Dulur-Dulur Maneges Qudroh sedayanipun. Ndherek bingah atas bertambahnya usia. Semoga selalu sehat-berkah dan makin disayang Allah. Milad bisa menjadi sarana bersyukur sekaligus instrospeksi. Berterimakasih Allah masih paring rejeki keistiqomahan. Menghitung diri sebagai satu tubuh, satu keluarga Maneges Qudroh. Bukan seberapa yang sudah dicapai. Bukan sejauh mana sudah melangkah. Bukan sebanyak apa sudah berbenah. Karena itu semua sudah dengan sendirinya terjadi seiring kita bersungguh-sungguh.

Seberapa sungguh-sungguh bermaneges. Tapi seperti nguyahi segoro kalau saya bicara tentang apa itu sungguh-sungguh kepada Dulur-Dulur Maneges. Karena sejatinya saya banyak belajar dengan sungguh-sungguhnya Dulur-Dulur Maneges dalam berapa-saja. Selamat Milad yang ke-9.

Wahyu Adji Nugroho