Temen merupakan sebuah kata dalam bahasa Jawa yang memiliki arti bersungguh-sungguh. Kita pasti tidak asing dengan istilah “sopo sing temen, bakal tinemu.” Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mencapai tujuannya. Atau dalam mode islami, terdapat istilah “Man Jadda, Wajada.”

Secerdas dan sepintar apapun, manusia pasti akan mengalami kegagalan, keputusasaan, kesedihan. Hingga akhirnya membuat lalai, ingkar, bahkan dholim terhadap sesuatu yang telah diniatkan sedari awal. Bukankah semua itu sebenarnya adalah sebuah ujian akan kesungguhan? Kegigihan dan perjuangan?

Kita terlalu banyak mengumbar kata kesetiaan dengan merasa telah melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Dalam esai pertama dalam buku Mbah Nun yag baru, “Bukan Siapa yang Benar tapi Apa yang Benar” ditekankan bahwa nilai utama yang dimiliki oleh anak-anak milenialnya adalah kesungguhan. Atau dalam video restart 3 beberapa waktu yang lalu juga sedikit menekankan tentang kesungguh-sungguhan. Lantas,kesungguhan seperti apa? Apakah tiap jengkal waktu yang dilalui benar-benar telah kita mainkan peran sebagaimana ruang itu mempertemukan?

Siang dan malam telah habis untuk mencukupi kebutuhan makan tubuh ini. Sedangkan Rasullallah Saw. pernah bersabda, ”Aku menghabiskan malam dengan Tuhanku, dan Dia memberiku makan dan memberiku minuman”.  Kesungguhan apa yang akhirnya mempertemukan? Jika kita bersungguh-sungguh membersamai perjalanan maiyah pun ,telah banyak sudut pandang yang diberikan oleh para Marja’ Maiyah tentang kesungguh-sungguhan.

Di dalam AL-Qur’an pun banyak menekankan kata kesungguhan, baik terkait keimanan, kesabaran, ataupun ketaqwaan. Apakah ada hal lain yang perlu diberi asupan makan dan minum selain tubuh? Apakah ada sesuatu hal lain yang mengajarkan untuk menembus batas akal, sebuah nilai yang bisa menjadi pegangan untuk melampaui dunia bahkan dimensi kehidupan berikutnya? Apa yang mesti dilakukan jika kita tidak mengetahui nilai tersebut?

Bersungguh-sungguh. Sing temen dalam menanamkan niat niat yang seringkali terlafadzkan dalam kata. Bersungguh-sungguh tak lantas membuat diri tidak boleh tertawa. Sekalipun dunia hanyalah sebuah permainan yang penuh sendau gurau, namun tidakkah seorang pelawak juga bersungguh-sungguh ketika bekerja menghibur para penontonnya?

Dalam rutinan edisi ke-115 bulan September, Maneges Qudroh mengangkat tema “sing Temen…”. Sebagai langkah awal setelah kemerdekaan, untuk menapaki batas-batas yang menghadang dalam sebuah perjalanan. mari kita belajar bersama tentang bersungguh-sungguh saling memerdekakan yang insyaAllah akan diadakan besok Sabtu, 5 September 2020, di. . . , . . . . , Magelang. Monggo…

NB: Untuk tetap saling menjaga dengan menerapkan Protokol Kesehatan