Malem minggu pertama awal bulan selalu menjadi waktu yang dinanti bagi pejalan maiyah di wilayah Magelang. Rutinan Maneges Qudroh selalu menjadi tempat yang sudah diagendakan menjadi tujuan khusus, baik berangkat sendiri atau bersama kawan kerabat atau keluarganya, semuanya dipertemukan dalam perjalanan yang sama pada edisi ke-117, yang pada kesempatan ini membawa tema “Maido Hasanah”.

Meskipun yang hadir belum begitu banyak, sekitar pukul 20.00 WIB Mas Muchlis mulai menginisiasi membuka acara dengan membaca ayat-ayat surat An-Nisaa’. Ayat-ayat yang diharapkan menjadi bahan bakar untuk mengarungi suasana pembelajaran malam itu. Suara lembutnya seperti sedang memohon agar perjalanan kali ini, para sedulur yang datang dapat mendapatkan sesuatu atas apa yang sudah dijadikan niat menuju tempat rutinan di Omah Maneges, Jumbleng, Muntilan.

Setelah jeda sejenak, Mas Cuwil mulai memainkan gitarnya sembari memberikan sambutan bagi dulur-dulur yang berangsur mulai berdatangan. Setidaknya, mereka yang hadir nampak saling membagi energi positifnya melalui ramah tamah serta canda tawanya. Beberapa wajah baru juga terlihat masih menyesuaikan diri dengan sesuatu yang baru didatangi pertama kali.

Sinau bareng mulai dibuka dengan sedikit melantunkan wirid seperti biasa dipimpin oleh Mas Dhian. Jamaah yang tadinya begitu ceria, seketika hanyut oleh keheningan. Seolah mereka sedang menuntaskan dahaga kerinduannya kepada Maiyah, salah satunya melalui wirid Munajat Maiyah yang seolah membawa nuansa sinau bareng ketika ada Mbah Nun.

“Iman pun Berawal dari Ketidakpercayaan”

Karena pada edisi kali ini tidak ada narasumber, maka acara sinau bareng Maneges Qudroh bulan November ini harus mengoptimalkan potensi yang sudah ada. Bagi yang sudah biasa membersamai dan hafal dengan kondisi yang sama, maka akan merasakan sedikit perbedaan utamanya dari segi teknis.

Dengan tagline Majelis Ilmu dan Paseduluran, sebenarnya hal tersebut bisa jadi sebuah visi yang sangat bagus. Maneges Qudroh sebagai ruang kebersamaan, bersama atau membersamai siapa saja, sudah pasti banyak diuji oleh kerikil-kerikil sepanjang perjalanan 9 tahun yang telah dilalui. Yang mana hal tersebut pada akhirnya membentuk dan mendapatkan hikmah pasedulurannya.

Di sisi lain sebagai ruang Majelis Ilmu, tentu harus ada yang dipersiapkan bahkan mesti dipelajari kembali hingga matang karena nantinya akan menjadi hidangan yang akan disajikan kepada jamaah. Terlebih ketidakberadaan narasumber menjadi sebuah kesempatan untuk sekali-kali melihat keadaan dapur sebagai tempat pengolah hidangan.

Mang Yani sebagai moderator pada malam itu mulai sedikit memberikan penjelasan terkait tema “Maido Hasanah” dibantu oleh Mas Taufan. Sebagai orang jawa, kita tentu tidak asing dengan maido. Maido menjadi bagian dari bahasa komunikasi kita sehari-hari, meski banyak waktu yang kita tidak sadar telah maido. Maido yang memiliki makna cenderung negatif, namun dengan disandingkan dengan kata hasanah, bagaimana itu nantinya akan menjadi sesuatu yang positif?

Pak Sholeh menjelaskan bahwa orang yang maido itu pada dasarnya hanya membutuhkan suatu pembuktian, karena data yang dimiliki berbeda dengan pernyataan seseorang yang pada akhirnya membuat dirinya maido. Orang maido lebih kepada ketidakpercayaan akan suatu informasi. Bahkan, “Iman pun berawal dari ketidakpercayaan.” Singkat Pak Sholeh.

Manusia pada umumnya pasti akan mengalami sebuah jalan pencarian untuk dapat menadapati imannya. Iman yang didapat pun tidak bisa disamakan versi yang satu dengan yang lainnya. Karena belief system manusia pun berbeda tergantung kebutuhan maupun latar belakang hidup masing-masing. Dan sudah menjadi suatu kepastian bahwa orang yang maido itu pun pasti memiliki ilmu dari pembuktian data yang sudah ditemukannya.

Akan tetapi, kebenaran yang ditemukan manusia pada satu waktu tidak berlaku abadi. Mas Sabrang juga pernah menegaskan bahwa kebenaran pada saat ini sangat mungkin menjadi sebuah kesalahan di masa yang akan datang. Akan tetapi, sikap maido sendiri merupakan suatu sikap yang dibutuhkan ketika kita hidup penuh dengan pencarian. Kecuali jika diri terjebak dalam sikap “merasa”. Karena dalam tetes Mbah Nun, mereka yang tidak mengerti adalah mereka yang merasa menang ketika kalah, dan merasa mulia ketika diri sedang hina.

Ilmu yang Menghambat

Beruntung, acara pada malam hari itu kehadiran Pak Ida, salah seorang seniman senior dan juga seorang pengajar, yang sampai sekarang beliau memiliki prinsip untuk tidak memiliki handphone. Jadi, pertemuan Majelis rutinan dengan Pak Ida menjadi sarat hikmah. Selain memberikan penampilan single-nya yang dibawakan dengan gaya yang nyentrik. Kehadirannya mampu menghidupkan suasana sinau pada malam itu.

Pada sesi kedua Mang Yani mengajak semua yang hadir untuk bersama-sama mencari tahu alur sikap hingga akhirnya menjadi Maido, hingga membuatnya menjadi sesuatu yang hasanah. Menurut Mas Taufan, orang pada akhirnya maido apabila keamanan atau kebenaran yang dipegang terusik oleh suatu informasi yang baru sehingga membuat standar kedamaiannya berubah.

Pak Sholeh kemudian menambahi akan pentingnya sebuah ilmu ketika akan maido. Sesuatu yang akan diucapkan setidaknya harus memiliki dasar atau bukti yang kuat sebelum diargumentasikan. Pak Sholeh juga menukil salah satu ayat tentang anjuran untuk mendebat dengan cara yang baik (dalam surat An-Nahl: 125) berbunyi, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Secara tidak langsung, kebiasaan kita menggunakan media sosial adalah melatih kita untuk kritik terhadap sesuatu. Hal tersebut bagus ketika membangun. Tapi, nyatanya justru kebiasaan tersebut membuat kita untuk mudah melampiaskan sesuatu atas suatu informasi yang tidak sepaham dengan pemikiran diri. Bahkan, kata-kata yang tercitra di media sosial sangat bias dan tidak bisa mewakilkan rasa atau mimik si pengucap, sehingga yang ada hanya kita sering mudah mengambil prasangka-prasangka yang negatif.

Lalu, mengapa kita banyak melihat orang hebat dan pintar saling melontarkan argumentasi yang berlawanan jalan pemikirannya? Tidakkah mereka ketika mengatakan sesuatu tidak berlandaskan bukti atau data yang menurutnya akurat?

Terkait bukti atau ilmu, Mas Taufan memberikan respon bahwa ilmu pun bisa menjadi sesuatu yang menghambat sesuatu. Mas Taufan kemudian mengajukan pertanyaan kepada sedulur yang hadir, “mengapa Nabi Musa as. ketika berguru kepada Nabi Khidir as. tidak lulus?” Dengan memberikan cerita tentang pengalamannya bermaiyah beberapa waktu lalu, menurut Kyai Muzzamil, Nabi Musa as. terlalu bersikukuh memegang ilmunya –bahwa membunuh anak kecil itu salah, salah satunya— dan harus menabrak syarat yang telah diberikan oleh Nabi Khidir as.

Contoh lain adalah ketika ada seorang Guru bijak dengan kedua muridnya. Ketika muridnya diberikan pertanyaan 3 x 7, murid pandai mengatakan hasilnya, 21. Murid bodoh bersikukuh, hasilnya 27. Murid bodoh menantang murid pandai supaya gurunya menilai siapa yang benar diantara mereka.

Murid bodoh mengatakan, “Jika saya yang benar bahwa 3 x 7 adalah 27, maka kamu harus mau dicambuk 10 kali oleh Guru. Tetapi kalau kamu yang benar (3 x 7 = 21), maka saya bersedia untuk memenggal kepala saya sendiri.”

“Katakan guru, mana yang benar?” Tanya si bodoh. Ternyata guru memvonis cambuk 10x bagi murid yang pandai, yaitu yang menjawab 21.

Murid pandai protes, tapi gurunya menjawab, “Hukuman ini bukan untuk hasil hitunganmu, tapi untuk ketidakarifanmu karena berdebat dengan orang bodoh yang tidak tahu kalau 3 × 7 adalah 21.” Guru melanjutkan, ”lebih baik melihatmu dicambuk dan menjadi arif daripada guru harus melihat satu nyawa terbuang sia-sia.”

Sebenarnya, mencari sesuatu kebaikan itu baik. Tapi ketika dalam pencarian itu, ketika kita banyak menghitung kemudharatan utamanya dalam suatu perdebatan, alangkah baiknya kita menepi dan dianggap kalah. Karena Rasulullah Saw pernah berpesan, “Sesungguhnya orang yang paling dimurkai oleh Allah ialah orang yang selalu mendebat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak Ada yang Sia-sia dalam Sebuah Perjalanan

Ketika tensi berpikir dirasa terlalu mendalam, Mang Yani sebagai moderator memanggil “Just W” atau Mas Wahyu untuk menghibur para hadirin agar suasana cair kembali. Dengan lagu-lagu berlirik bahasa Jawa yang dibawakan, urat-urat pikir yang tadinya mengencang serasa mampu dikendurkan kembali. Terlebih dengan suara merdu khas salah seorang yang kesehariannya bekerja di salah satu Universitas di Kota Magelang tersebut.

Ternyata acara rutinan kali ini tidak hanya dihadiri oleh para pejalan maiyah yang berada di wilayah Magelang saja. Ada rombongan datang dari Yogyakarta, ada Mas Zaul Haq dari Gambang Syafaat, ada Mas Sofyan, pelajar asal Gresik yang sedang melanjutkan studinya di salah satu perguruan tinggi di Jogja. Lalu ada pula rombongan PII (Pelajar Islam Indonesia). Tentu semuanya bergembira dapat diperjumpakan di jalan cinta yang sama, khususnya pada edisi rutinan kali ini.

Mang Yani kemudian menyapa dan mempersilahkan Pak Yadi, salah satu tamu yang jauh-jauh datang dari Yogyakarta menuju Magelang. Pak Yadi sendiri sudah tidak asing bagi sedulur Maneges Qudroh, karena beliau sering menghadiri acara yang diselenggarakan oleh Majelis ini. Menurut Pak Yadi, dalam ber-maido pun kita mesti memandang dengan terminologi rukun islam ataupun rukun iman. Syahadat, sholatnya, puasanya, sedekahnya, atau hajinya maido itu bagaimana. Dan menurut Pak Yadi, hal tersebut kiranya bisa digunakan dalam konteks apapun.

Di sesi akhir atau tanya jawab, Mas Ilham dari Grabag turut memberikan respon terkait Maido Hasanah. Menurutnya, tema yang diusung merupakan konsep berkelanjutan dari tema-tema yang diusung sebelum-sebelumnya. Mas Taufan pun merespon, bahwa tema Maido Hasanah ini memang diharapkan mampu melanjutkan perjalanan dari pemberhentian-pemberhentian sebelumnya. Ketika kita sudah berani bersungguh-sungguh dalam berniat dan berkomitmen dan setia terhadap sesuatu. Kita akan banyak menemukan ujian yang akhirnya membuat diri lebih sering maido, terutama jika kita terlalu keras terhadap kebenaran yang sedang dipegang.

Mas Sofyan juga ikut mengajukan sebuah pertanyaan, bagaimana menciptakan suatu ruang yang ideal?  Mas Taufan kembali memberi tanggapannya, jika dalam ruang kebersamaan, kita tidak akan pernah terlepas dari suasana maido. Bahkan, fungsi kebersamaan itu kan utamnya bukan mencari teman, melainkan agar kita dapat saling menasihati terutama dalam menapaki  sebuah ilmu. Karena yang ideal nantinya akan tersaring oleh hukum alam pada umumnya, terlebih bagi seseorang yang diam-diam memiliki kepentingan atau tendensi.

Bahwa semua tidak ada yang sia-sia dalam perjalanan ini.Segala  sesuatu yang telah terjadi tidak ada yang menjadi buruk, karena dari sesuatu itu kita mendapatkan pengalaman. Sedangkan pengalaman itu sendiri merupakan guru yang terbaik. Hanya saja kita sering lupa untuk tetap berendah hati terhadap ilmu itu sendiri. Dan ketika kita lupa berendah hati itu lah yang akhirnya memicu orang pada akhirnya mengambil sikap maido dengan konotasi yang negatif.

Ketika kedamaian itu terusik, dan segala yang terencana terjadi tak sebagaimana yang sudah direncanakan, saat itulah kita banyak diberikan pelajaran untuk berkorban. Bahkan, dengan prasangka-prasangka yang terjadi jika kita pada akhirnya memilih untuk berendah hati. Mungkin saja semua menjadi seperti sebuah penderitaan, akan tetapi segala penderitaan itu muncul karena kita menginginkan sesuatu yang tidak dapat diperoleh. Karena ketika kita berhenti menginginkan, ternyata tidak akan ada lagi penderitaan.

Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah” (Al-Kautsar: 2)

Sekitar pukul 00.30, acara pun berakhir dengan dilantunkannya Shohibu Baiti bersama-sama. Semua khsyuk meresapi dirinya, menenggelamkan diri dalam kerinduan-kerinduan yang dalam rentang waktu tertentu bisa jadi sempat terlupakan. Dan doa yang dipimpin oleh Mas Virdhian menjadi penutup acara rutinan Maneges Qudroh ke-117. Matursuwun!

Omah Maneges, 8 November 2020