Dalam special case seperti yang terjadi akibat pandemi, kumpulan-kumpulan yang melibatkan banyak orang telah dilarang. Rutinan yang biasanya diadakan pada Malam Minggu pertama ini pun belum ada keputusan akan tetap dilaksanakan atau tidak sampai pada hari pelaksanaan. Perbedaan pendapat antara “anjuran” dan “menjawab tantangan” tidak bisa dipungkiri, meski tidak ada satupun kata terlontar untuk saling menyanggah.

Persiapan yang mulai tertata rapi, mendadak mesti dipaksa beradaptasi di dalam kasus yang baru. Meski seminggu sebelumnya telah mulai dibahas, sampai ba’da maghrib hari H jadwal rutinan MQ, belum ada keputusan akan diadakan atau tidak. Semalam telah ada simulasi persiapan jika terpaksa akan diadakan streaming. Namun, formulasi yang tepat dengan perangkat yang seadanya tetap belum mampu teratasi. Mencari ahli penyiaran pun, menemui jalan buntu.

Sementara malam itu hanya ada 2 penggiat menanti keputusan, perbekalan pun dipersiapkan seolah akan menuju pertempuran. Mukadimah dan poster sebagai kendaraan pun dipersiapkan, sembari menunggu kalau misal ada dulur-dulur lain yang datang. Plan A atau plan B dipersiapkan dengan segala kemungkinan yang terjadi jika meki tetap harus dilaksanakan.

Simulasi gagal total, siaran yang rencana akan ditayangkan di Youtube mesti berhadapan dengan banyak kendala. Atas segala kesalahan tersebut, kami memohon maaf dan dengan segala rasa bersalah meski mengalihkan siaran ke live instagram yang sederhana. Banyak pembelajaran didapat sebelum memulai rutinan edisi ke-110, semoga kedepan koordinasi dari tim MQ secara teknis dapat lebih dipersiapkan dan diperhatikan secara seksama.

Harapan itu Sebenarnya Rasional Atau Tidak?

Belajar bersama atau sinau bareng khas maiyah mengalami dimensi perjalanan yang berbeda. Otentisitas suasana belajar sembari duduk bersama mengarungi malam, meski melalui tahapan atau dipaksa melakukan evolusi dalam metode pembelajaran. Dipaksa untuk out of the box, kecuali jika sudah ada tidak ada niatan untuk mengembil pelajaran bersama-sama di dalam lingkarannya sendiri.

Ilmu seolah menapaki fase “mencari” daripada “memetik”, lebih diajak untuk “berpuasa” daripada “berbuka”, atau lebih menuntun ke tawadhu’ terhadap ilmu itu sendiri daripada menyimpan tendensi kebenaran subjektifitas yang selalu menyimpan ketinggian hati (walaupun se-zharrah). Belajar mendengarkan lebih diutamakan daripada belajar mengutamakan. Belajar untuk saling menghargai ternyata lebih dibutuhkan daripada belajar membersamai.

Untung saja, sedari sore hari sudah ada kesepakatan dengan Dr. Christyaji dari Malang untuk menjadi narasumber pada rutinan kali ini. Jarak antara Magelang dan Malang tentu menjadi sebuah masalah andaikata kita menganggap itu masalah. Namun, dengan kemudahan teknologi kami ingin menjadikan itu sebuah cara atau metode untuk menjawab tantangan tersendiri dalam salah satu bentuk tantangan evolusi sinau bareng. Mungkin.

Acara dimulai pukul 21.00 sesuai dengan jadwal yang tertera di poster. Mas Taufan yang didapuk menjadi presenter oleh dirinya sendiri dengan berat hati mesti melakukan sesuatu yang baru diluar kebiasaannya karena keterbatasan SDM. Sebelumnya, ketok palu tetap diadakan baru disepakati sekitar pukul 20.30 WIB. Poster dan mukadimah pun dipublikasikan secara mendadak. Kami pun dipaksa memasuki medan pertempuran laksana hutan rimba yang gelap. Kami tidak bisa memetakan apapun kecuali niat keberangkatan dan keyakinan untuk terus melaju.

Beruntung, dulur-dulur mulai berdatangan satu persatu laksana cahaya-cahaya yang sedikit memberi penerangan untuk membantu prosesi teknis sinau bareng. Setelah secara singkat menjelaskan tentang prolog tema “Goa Virtual”, kemudian giliran Mas Munir memimpin wirid bersama sebagai salah satu upaya dalam bentuk doa untuk ikut memberikan pertolongan di tengah salah satu bentuk kasihNya yang umumnya disangka wabah Corona.

Setelah wirid, Dr. Chris pun sudah standby untuk dapat membagikan ilmunya kepada kami semua. Meski live talk dengan perangkat seadanya, dari aplikasi zoom dan instagram, tidak mengurangi geliat kami untuk dapat mengambil ilmu dari Dr.Christyaji.

Pertama-tama, Dokter menekankan arti mengenai masalah. Masalah itu sendiri menurut beliau adalah  ketika terlalu banyak harapan daripada keinginan, sehingga apa yang terjadi tidak sesuai harapan. Namun, manusia memang dibekali akal sehingga mampu mengharap atau memohon, misalnya harapan agar virus segera pergi, harapan untuk tetap sehat atau cepat sembuh bagi yang sakit. Pertanyaan balik datang dari Dokter, “harapan itu sebenarnya rasional tidak?”

Setelah sejenak mengajak kami untuk berfikir, kemudian Dr. Chris menjelaskan teknis tentang bagaimana virus itu masuk melalui paru-paru sampai tingkat selular hingga menimbulkan badai sitokin (cytokine) dengan media gambar yang telah beliau sediakan. Ketika mendengar istilah-istilah kedokteran, beliau menyampaikan bahwa kita belum selesai dengan kata “what”, kemudian beliau pun menegaskan, “saya pribadi belum selesai dan ini mengasyikkan. Saking asyiknya sampai menimbulkan rasa takut.”

Berpikir Ekstrim Agar Mengenal Batas

Terkait dengan masalah (pandemi), menurut Dokter Chris dapat menghilangkan salah satu faktor antara kerentanan, fasilitas, dan ancaman (keterangan gambar terlampir) dan yang paling memungkinkan kita untuk intervensi adalah yang paling dekat dengan kita (diri sendiri). Karena masalah ini sesungguhnya bukan sesuatu yang materiil. Sementara apa yang dilakukan kita adalah sibuk menghilangkan fakor ancaman.

Padahal, tiap hari tidak mungkin kita tidak terancam. Bahkan, kita hidup pun sebenarnya karena adanya ancaman terus menerus -misalnya takut kelaparan- sehingga mendorong kita untuk selalu bergerak. Beliau memberi contoh bahwasanya ancaman yang terbesar bagi kehidupan kita sehari-hari sebenarnya adalah jalan raya. Kita tidak pernah mengetahui kemungkinan-kemungkinan resiko yang akan terjadi. Namun, manusia memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa, hingga akhirnya tidak merasa terancam ketika berada di jalan raya.

Khusus dalam kasus Covid-19, menghilangkan faktor ancaman dari virus ini menurut Dr. Chris merupakan suatu cita-cita yang sangat mulia, disamping sangat sulit untuk dihilangkan. Bahkan dalam teori mitigasi bencana pun, menghilangkan ancaman adalah salah satu hal yang tidak mungkin bisa manusia intervensi. Yang dimungkinkan untuk dilakukan adalah meminimalisir dampak resiko akibat suatu bencana. Hal yang perlu dilakukan adalah fokus membentengi diri baik secara fisik maupun mental. Dan jika mengambil faktor fasilitas jika bencana sudah terjadi, hanya akan menghabiskan sumber daya dan tidak efektif.

Jika faktor kerentanan diri ini mampu dimaksimalkan, maka secara teori bencana tidak akan terjadi. Manusia sanggup mengatasi keretntanan fisik yang semakin menua dengan budaya hidup sehat. Sedangkan dalam kerentanan mental sering terwujud dalam sifat takabbur atau angkuh, baik itu merasa mengetahui, merasa kuat, merasa berani, dsb. Padahal mengutip dari Einstein, kalau orang semakin mengetahui, maka akan membuat semakin takut. Bahkan Dr. Chris sedikit menyinggung, “Kita tidak kenal diri kita sendiri, tapi kita bingung mengenali virus.”

Dr. Chris yang sudah cukup lama mengikuti maiyah sejak tahun 2000-an ini pun sedikit banyak menjadikan ilmu maiyah sebagai bekal perjalanannya, salah satu pesan yang paling beliau ingat adalah ketika Mbah Nun menyampaikan bahwa anda datang saja ke maiyahan, walaupun anda tidur, makan, dan rokokan saja itu lebih dari cukup. Nanti anda akan mengetahui kalau itu akan bermanfaat pada waktu tertentu. “Maiyah bukan untuk hari ini, tapi untuk beberapa waktu ke depan.” Pungkas Dr. Chris mengingat pesan dari Mbah Nun.

Lantas apa yang mesti dilakukan? “Kenali lalu cintai!” kata beliau. Maksudnya mengenali virus dengan konsep “what, where, who, when, how”, selanjutnya kita sibukkan diri dengan simulasi-simulasi pertanyaan kepada diri sendiri selain meningkatkan langkah-langkah antisipasi. Kita belajar menganggap virus ini bukan sebagai sebuah ancaman, melainkan rahmatNya. Dr. Chris juga mengajak untuk berfikir ekstrim agar mengenal batas-batas. Berfikir ekstrim itu perlu, yang tidak boleh adalah bertindak ekstrim.

Meminimalisir Kerentanan Diri Melalui Ikhtiar dan Doa

Masalah pandemi, wabah, atau tha’un ini adalah sesuatu yang harus dihadapi. Baik dimaknai sebagai ujian, hukuman, atau rahmat tergantung kepada keberangkatan pemikiran masing-masing individu. Dan pemaknaan ini tidak bisa disamaratakan, mengingat peran-peran yang dibagikan kepada manusia oleh Tuhan pun berbeda-beda. Lalu bagaimana solusi menghadapi pandemi ini?

“Yang sering mematikan bukan virusnya, tapi respon kita yang berlebihan.” Kata Dr. Chris. Dalam konteks pandemi, antara menghindari ancaman sebisa mungkin dan menghimpun kekuatan, mana yang paling rasional untuk dilakukan? Agar mampu meminimalisir korban jiwa yang semakin bertambah. Dr. Chris menegaskan bahwa beliau tidak pernah mendeklarasikan bahwa dirinya berani, tapi beliau juga tidak punya pilihan untuk berani mengingat profesi beliau adalah sebagai seorang tenaga medis.

Yang rasional menurut beliau diantara pilihan rasional sebelumnya adalah menghimpun kekuatan. Hal ini terwujud dalam aktivitas atau laku doa dan ikhtiar/berusaha. Doa dan ikhtiar ini pun membutuhkan strategi karena seringkali dalam berdoa, tidak sadar kita telah menomortigakan Tuhan. Contohnya, semoga Allah melancarkan tugas kita atau semoga Allah memberi rahmat untuk mempertemukan kita kembali. Dari dua contoh tersebut, apabila dicermati lebih dalam, Allah sudah bukan lagi menjadi pelaku utama, atau setidaknya menjadi lawan merintih secara langsung dalam doa.

Yang menjadi masalah di Indonesia adalah kemampuan kita untuk menerapkan apa yang kita tulis. Br. Chris juga menyampaikan bahwa dalam forum diskusi atau penyusunan wacana, Indonesia tidak terkalahkan, hanya saja kenapa hasilnya tidak dibaca lalu diterapkan?

Bencana ini sendiri merupakan sebuah siklus atau terprediksi. Setidaknya, dalam bagan yang dipaparkan oleh Dr. Chris terdapat 4 fase, yakni kesiapsiagaan, pencegahan/mitigasi, tanggap darurat, pemulihan. Dalam fase kesiapsiagaan, sangat jelas jika dilihat dari data bahwa tidak kesiapan sama sekali. Lalu, tidak ada pula keseragaman langkah karena penggunaan istilah-istilah seringkali tidak tepat. Padahal, andaikata kita mampu bergerak mencari sumber masalah semakin ke hulu, mungkin saja resiko jatuhnya korban bisa diminimalisir.

Fase kesiapsiagaan hingga fase mitigasi ini menurut Dr. Chris masih belum ada kepeduliaan, karena menurut beliau apa yang dilakukan tidak fotoable/instagrammable. Tidak bisa sebagai ruang aspirasi diri untuk dapat menunjang eksistensi diri. Sehingga apa yang terjadi saat ini merupakan bukti, jika sudah memasuki fase tanggap darurat, jika semuanya bergerak. Itupun, social ataupun physical distancing tidak bisa diterapkan dengan baik oleh pihak-pihak yang seharusnya menjadi contoh.

Jika semua ikhtiar dan usaha telah dilakukan, baru langkah yang tepat untuk melafadzkan “Hasbunallah” menurut Dr. Chris. Menurut beliau sangat impossible kita menghilangkan resiko (Coronavirus), kita bukan Tuhan. Saran usaha dari Dokter Chris pun tetap sama, usaha kita tidak membunuh, tapi mencintai. Karena tidak mudah bagi diri kita untuk sakit, kecuali virus itu ganas, jumlah yang cukup, tubuh welcome atau sedang dalam keadaan yang rentan atau memiliki riwayat penyakit, dan faktor lingkungan.

Hal terakhir yang paling rasional dilakukan adalah fokus pada masalah kerentanan diri, baik secara fisik maupun mental. Secara fisik, bisa dilakukan dengan berolahraga diimbangi dengan makan-makanan bergizi. Sedangkan secara mental, “silahkan bermaiyah kalau saya.” Ucap beliau sambil menunjukkan senyum kegembiraannya. Yang sangat khas dalam suasana bermaiyah.

Terus Mencari Ilmu, Terus Sinau Bareng

Setelah cukup panjang menjelaskan begitu banyak ilmu mengenai Covid-19 beserta masalahnya, sesi tanya jawab pun dibuka. Beberapa jamaah yang mengikuti pembelajaran secara langsung mengajukan pertanyaan kepada Dr. Chris. Diantaranya, yang pertama dari Mas Arip, mengenai cara untuk mengatasi kepanikan yang sudah terlanjur terbangun di mindset masyarakat? Singkat jawab dari penjabaran  Dr. Chris, adalah beliau merasa bersyukur, kenapa? Karena di maiyah beliau dapat belajar ilmu komunikasi, tentang menyusun kalimat perintah yang tepat, ataupun anjuran untuk sering menggunakan akal.

Pertanyaan kedua datang dari salah satu pegawai PKH Kecamatan Tempuran, meski sudah terbangun jarak-jarak tertentu tapi kenapa mayoritas tetap orang yang renta dan mempunyai riwayat penyakit yang memliki resiko terbesar? Dokter menjawab bahwasanya virus itu sendiri memiliki karakter, khusus Corona. Memang lebih memiliki kecenderungan kepada yang tua. Dan yang perlu dipahami menurut Dokter adalah tubuh kita tidak selemah yang kita pikirkan. Dengan catatan tentu saja tidak sembrono.

Dan pertanyaan terkahir datang dari pembawa acara, kaitannya dengan tema Goa Virtual, bagaimana menurut Dokter melakukan uzlah yang tepat? “Jadilah dirimu sendiri!” kalimat pertama dari beliau. Terkait dengan caranya pasti berbeda beda karena setiap orang memiliki kecenderungan otentitas atau fadhilahnya masing-masing. Yang perlu ditegaskan hanyalah memahami perbedaan, supaya tidak bias dalam menerima informasi dan justru pada akhirnya hanya membebani diri sendiri.

Tidak terasa komunikasi virtual lewat media sosial ini sudah menghabiskan banyak waktu hingga sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Sebelum diakhiri beliau mengutarakan pendapatnya bahwa yang bisa kita lakukan adalah terus sinau bareng setiap waktu. Meski dalam rentang jarak tertentu, akan tetapi sinau bareng sejatinya adalah satu ruang, bahkan satu rumah jika dimaknai secara luas. Dengan adanya berkah ataupun rahmat Allah melalui peristiwa Covid-19, semoga akan menjadi sarana menambah kedewasaan dan tantangan tersendiri dalam mencari ilmu, khususnya ketika dipaksa belajar dari rumah sendiri atau goa-goa virtualnya.

Magelang, 5 April 2020