Mungkin ini merupakan salah satu ekspresi cinta dan asih yang bisa kami berikan sebagai anak cucu Maiyah. Syukur dan rasa terima kasih tentu saja menjadi yang utama kami haturkan kepada Gusti Pangeran yang telah mempertemukan kami semua di Maiyah sebagai Mutahabbina Fillah. Yang tak lupa jua selalu menyelipkan percikan cahaya ilmu yang menerangi perjalanan ini, sekalipun dalam keterasingan.

Di Magelang, kami menyepakati bahwa pembacaan doa Yasin dan Tahlil teruntuk Syeikh Nur Samad Kamba akan dipuncaki di malam yang ketiga. Kegiatan ini tidak membatasi bagi yang lain untuk meneruskannya atau melakukannya sendiri di rumahnya masing-masing. Terlebih di dalam keadaan yang masih memerlukan banyak proses belajar untuk tidak mengganggu rasa aman lingkungan sekitar di masa pandemi.

Namun ternyata, situasi duka ini mampu menjadi pendorong teman-teman untuk tergerak kembali menyatu setelah sekian lama menghargai segala peraturan dan himbauan yang dicanagkan. Demi memberikan salam dan doa terakhir teruntuk Guru kami, salah seorang kekasih yang juga kami cinta. Maturnuwun, sampai berjumpa kembali, Syeikh!

***

“Bagaimana lagi aku mesti bersyukur kepada-Mu jika rasa syukur ini pun datang dari-Mu?” Kira-kira ungkapan pernyataan Nabi Musa tersebut, menjadi gambaran para Mutahabbina Fillah yang setia menemani berpulangnya salah satu Marja’ dan Guru Maiyah, Syaikh Nursamad Kamba dengan membacakan do’a Yasin dan Tahlil setiap malamnya selama tujuh hari ini. Potret ini hanya salah satu wujud cinta dari begitu banyaknya Jamaah Maiyah yang menemani di setiap penjuru wilayah, belum lagi yang lebih suka menepi sendiri dengan “jalan sunyi”-nya masing-masing.

Ya, tujuh hari penuh kerinduan yang pasti mengisyaratkan makna di setiap temaramnya. Dalam ketidaktahuan, ilmu itu selalu tercurahkan layaknya cahaya yang menerangi tanpa meminta kembalian. Menjadi penunjuk arah setidaknya untuk terus mencari “ihdinash-shiratal mustaqim”, tanpa meminta pengakuan bahkan pengkultusan.

Syaikh, engkau menegaskan bahwa Kanjeng Nabi diutus bukan untuk mengajarkan agama, melainkan diutus untuk menjadi suri tauladan dengan memberi contoh laku akhlak yang baik. Oleh karena itu, sudah semestinya pertemuan atas dasar saling mengasihi ini selalu disyukuri. Bukankah jika kita benar-benar saling mencinta, itu berarti tidak ada kata berpisah? Bersama-sama menuju “kholidina fiiha abadaa”? Dengan syukur, duka perlahan menjadi gembira. Bahkan yang telah berpulang, apakah benar-benar pergi? Andaikata Beliau (Syaikh Kamba) diam-diam masih terlihat setia untuk menemani disekeliling kita, meski lewat kelembutan ilmunya. Dan tentu saja dengan syarat dan ketentuan berlaku, salah satunya dengan terus memberikan setidaknya sebuah salam yang terselip dalam bait do’a, “Sampai berjumpa lagi, Buya…”