Maneges Qudroh (MQ) sebagai sebuah Simpul Maiyah, majlis ilmu dan wadah paseduluran para Jamaah Maiyah yang berasal dari wilayah Magelang dan sekitarnya, tanpa terasa di tahun ini telah memasuki satu dasawarsa. Tentu ini bukan sekedar paseduluran yang terjadi begitu saja, main-main dan ala kadarnya. Paseduluran yang diawali dengan niat dan janji suci yang berbunyi “Semoga di dalam lingkaran kita, tidak ada kesalahan niat, kekotoran batin, kedangkalan pikiran, apapun saja yang membuat kanjeng nabi Muhammad SAW menitikkan air mata atau bahkan membatalkan kasih sayangnya kepada kita”. Perjalanan paseduluran ini mengacu pada nilai-nilai maiyah. Paseduluran yang bukan sekadar berdasarkan hubungan darah, kesamaan golongan atau motivasi kekuasaan dan transaksi keduniaan. Namun paseduluran yang mendunia dan akhirat. Paseduluran sejati. Al Mutahabbina Fillah

Tema pada perayaan milad kali ini adalah “sepuh suluh”. Sepuh sebagai pralambang usia dari kematangan pikiran (orang-orang maiyah) dan suluh adalah sesuatu yang dipakai untuk menerangi, pengantar cahaya (maiyah). Sepuh juga bisa diartikan campuran sendawa, tawas, dan sebagainya yang dipakai untuk menuakan warna emas (menjadikan warna emas tua). Latar belakang sedulur-sedulur MQ yang berbeda-beda seakan menjadi semacam sendawa raga dan tawas rasa yang bercampur (baca,“nyawiji”).

Sebagai makhluk berakal yang bertanya tentang sangkan paraning dumadi — asal muasal dan tujuan segala ciptaan ini, tentu dibutuhkan pula suluh. Rasa syukur dan terimakasih yang mendalam kami kepada Mbah Nun (Emha Ainun Nadjib) yang kepadanya, Alloh SWT  menitipkan Maiyah. Maiyah sebagai obor/suluh untuk mengantarkan cahaya di mana saja kita berada, di rumah, di tempat bekerja, di rumah ibadah maupun di pasar, di jalan dan di manapun saja, selalu kita bersama Allah dan Rasulullah. Kapan saja kita sadar maupun tidur, di pagi hari, siang sore atau malam hari selalu kita bersama Allah dan Rasulullah.

Maneges Qudroh dalam usia saat ini hendaknya mampu menjadi penerang atau menerangi lingkungannya. Meskipun tentu harapan tersebut sudah harus terlebih dahulu menyesuaikan/ membereskan “keterangan” diri dan keluarganya. Sehingga Penyepuhan selama 10 tahun ini seyogyanya menghasilkan “emas tua” paseduluran yang sudah “nyawiji rasa lan raga tumekaning swargo”.

Memang menjadi hal aneh juga jika mengaca pada situasi dunia saat ini, dengan perkembangan teknologi yang luar biasa pesat, orientasi/tujuan kehidupan yang berubah drastic dan persambungan antar generasi yang tersendat, MQ sebagai simpul maiyah masih “ngonceki” hal-hal yang berasal dari warisan kearifan masa lalu. Apakah masih relevan paseduluran semacam ini? Kenapa tidak sepenuhnya bergantung pada teknologi/media sosial saja dalam “nyawijikke rasa lan raga” tersebut? Lalu bagaimana ketahanan dan keteguhan kita berproses disaat hantaman pragmatisme kehidupan dan disorientasi kesejatian mulai menerjang lingkaran kemesraan kita?

Mari kita sinau bareng dan mbabar “sepuh suluh” ini bersama Mas Is (Islamiyanto, vokalis Kiai Kanjeng) dalam Milad Maneges Qudroh ke 10, Sabtu, 6 Februari 2021 di Panti Asuhan Cahaya Umat, Dsn. Ngroto Deyangan Mertoyudan Magelang mulai pukul 19.30 WIB s/d selesai. “Lungguh bareng, ngopi bareng,  entuk ngelmu lan entuk sedulur“. Tentu jangan lupa pula, untuk toleransi dan saling mengamankan satu sama lain, mari tetap patuhi protokol Kesehatan yang sedang berjalan.