‘Seisi Hati’ yang Tersirat

Reportasi Mulat Saliro (1)

Waktu liburan semestinya adalah hal yang wajar untuk dihabiskan menikmati wisata berkumpul bersama keluarga. Pertama-tama, kami selaku simpul Maneges Qudroh Magelang ingin menyampaikan Gong Xi Fa Cai, Selamat Hari Raya Imlek bagi masyarakat yang merayakannya. Semoga keberkahan dan keselamatan menaungi kita semua.

Malam ini, kami mengundang sedulur-sedulur semua untuk berbagi kebahagiaan di acara Milad ke-8 ini. Suasana di Omah Maneges nampak tidak seperti acara rutinan biasa. Para penggiat sudah menyiapkan tempat acara sedari sore. Yang pasti meneruskan dari persiapan hari-hari sebelumnya.

Hujan rintik sempat memberikan belaiannya, walau hanya sebentar. Terdapat juga di sudut luar ada stand ‘Sekolah Warga’ dari Gerbang untuk lebih memperkenalkan kegiatannya beserta beberapa produkyang dihasilkan, seperti pupuk organik, batako, dan lainnya.

Para tamu undangan mulai berdatangan ba’da maghrib, mulai dari Wakijo dan sedulur, simpul Maiyah dari Gambang Syafaat, Saba Maiyah, dan Jabalakat. Dilanjutkan Mocopat Syafaat, Nahdlatul Muhamadiyyin. Dan masih terdapat beberapa lagi perwakilan simpul yang lain. Yang telah bersedia memberikan waktu dan upayanya menempuh puluhan kilometer untuk bersilaturrahmi dan memeriahkan acara milad ini.

Pembacaan tadarus menjadi awal pertanda acara sudah dimulai. Memang hal ini sering diabaikan disaat kami sering mengibaratkan tadarus sebagai salah satu cara kami untuk mengetuk pintu langit. Agar bersedia mengucurkan ilmunya. Tak lupa munajat maiyah juga dilantunkan bersama-sama dengan khusyuk. Yang selalu menjadi wajah syukur kami telah diperkenalkan kepada cinta yang welas asih ini.

doc: manegesqudroh

Sebelum Mas Doni KK atau mantan vokalis Seventeen menaiki panggung. Wakijo dan sedulur menghibur jamaah maiyah yang datang dengan beberapa lagunya. Meski dengan panggung yang terbatas, namun hal tersebut tak lantas membuat perform Wakijo dan sedulur menurun. Justru yang terlihat adalah suasana menjadi sedikit berwarna dengan alunan musik pembuka dari Wakijo dan sedulur ini. Dilanjutkan dengan beberapa sedulur dari beberapa perwakilan simpul Maiyah yang hadir untuk dipersilahkan naik ke panggung serta berbagi sedikit pesan dan kesannya dalam proses bermaiyah.

Sekitar pukul 21.30 Mas Doni mulai menaiki panggung. Sang moderator tak menyia-nyiakan waktu untuk langsung naggap Mas Doni. Dengan menanyakan pengalaman apa saja yang sudah dialami Mas Doni dari awak mulanya masuk ke Kiai Kanjeng. Sebagai seorang vokalis Band ternama kenapa bisa ‘hijrah’ ke suatu jalan yang mungkin sangat baru bagi Mas Doni pada saat itu.

Dengan tato yang melekat di tangannya, kelihatan sangat tidak mungkin bagi orang awam memiliki persepsi jika seorang Mas Doni ternyata adalah salah satu vokalis Gamelan Kiai Kanjeng yang sangat identik dengan musik sholawatnya. Mas Doni pun menegaskan jika menurut beberapa pengalamannya, banyak orang menganggap jika orang bertato bakal tidak diterima di sebuah pengajian. Seperti sebuah pengalamannya ketika ikut shalat Jum’at berjamaah. Ada seseorang yang ngudar sabdo jika coretan yang melekat pada tubuh Mas Doni akan menjadi sebuah penghalang. Tapi, Mas Doni hanya berkata dalam hati dengan jiwa mudanya yang merdeka,”ya saya prek luweh! Ini urusan saya sama Gusti Allah,” terang Mas Doni sambil bercanda kepada jamaah.

Awal cerita Mas Doni dimulai dari sebuah keresahan mengenai rasa ingin kembali pulang. Pada saat itu Mas Doni bertemu dengan Ale dan Pak Bobit yang sedang rembugan nyari vokalis cowok untuk Kiai Kanjeng. Pada waktu itu masih zaman BBM ketika Mas Doni ditawari peran vokalis ini. Rasanya sebuah pertanyaan -apakah ini sebagai alasan untuk pulang?- menjadi sebuah jalan yang nantinya akan mempertemukan jalan yang baru. Dan sebuah keputusan yang pasti membutuhkan sebuah pertimbangan menjadi sebuah polemik tersendiri bagi Mas Doni. Berangkat dengan merek label sekelas

vokalis ‘Seventeen’ menjadi modal bagi Mas Doni untuk memperkenalkan diri dan tentu juga akan menjadi warna tersendiri bagi Pakdhe-Pakdhe Kiai Kanjeng.

Awal mula latihan, Mas Doni dengan celana pendek dengan sandal jepitan langsung bertemu dengan Mbah Nun yang memang sedang ikut latihan bersama Kiai Kanjeng. Mas Doni merasa canggung dengan cara berpakaian yang dirasa tidak sopan. Bagaimana tidak? Tanpa sebuah persiapan langsung dipertemukan dengan Mbah Nun yang pada waktu itu dianggap sebagai seorang Kiai, Ulama, Budayawan Nasional di mata mas Doni. “Wah, iki bakal dikasih wejangan werno-werno” pikir Mas Doni pada waktu itu. Namun, reaksi Mbah Nun berbeda dengan prasangka Mas Doni. Apa yang dikhawatirkan tidak terjadi dan langsung digembleng dari pukul 8 sampai setengah 1.

Mendengar genre musik Kiai Kanjeng pun Mas doni langsung berasumsi,”Wah iki Mantos (seorang penyanyi legendaris campursari).” Disambut gelagat tawa para jamaah yang hadir. Dari berjam-jam ikut latihan hanya satu lagu yang dikenal oleh Mas Doni. Wild World. Itu pun dengan aransemen musik yang baru bagi Mas Doni. Tapi bagi beliau, semua ini adalah suatu pembelajaran baru. Seakan maiyah menjadi ruang yang baru bagi Mas Doni untuk ngelmu.

doc: manegesqudroh

Lanjut ke pengalaman manggung pertama, disaat format manggung seperti apa juga Mas Doni masih belum mengetahui sama sekali. Kebiasaan berpenampilan layaknya vokalis ‘Seventeen’ seolah masih melekat sebagi moodbooster rasa percaya diri. “Macak Rocker” sambung Mas Doni. Tapi kenyataan tak seperti yang diharapkan, moodbooster seolah berbalik arah menjadi badmood. Sepatu boot yang dikenakan terpaksa dilepas karena format manggungnya seperti itu. Ditambah lagi dengan kebiasaan manggung Seventeen yang sudah jelas urutan lagu yang dibawakan. Akan tetapi, di Kiai Kanjeng tidak ada list lagu seperti itu. Ketika Mas Doni bertanya kepada Mas Imam yang saat itu dianggap paling dekat dengan menanyakan urutan lagu berikutnya. Diluar ekspektasi Mas Imam hanya menjawab santai, ”takokno Gusti Allah.” “Oooh” pikir Mas Doni sembari menganggukkan kepalanya atas kegagalpahamannya. Segelintir perasaan pasti menyambangi Mas Doni pada waktu pertama kali manggung bersama Kiai Kanjeng. Namun, Mas Doni tetap yakin atas pilihan jalannya. Terlihat para

jamaah sangat terhibur sekali dengan raut-raut kebahagiaan yang tercermin tentang segala cerita dari Mas Doni.

Lantas ketika manggung di Banjarnegara yang menjadi domisili keluarga istri Mas Doni. Keluarga datang rombongan dengan beberapa truk. Mbah Nun pada waktu itu juga seperti menahami kekawatiran Mas Doni, “Ayo Don sholawatan.” Lantas Mas Doni berteriak dalam hati, “Matiih!” Mbah Nun melanjutkan, “iso dicutat dadi mantu lho, Don, nek raiso sholawatan.” Gerik Mas Doni pun sangat luwes ketika menirukan Simbah menggoda dirinya pada waktu itu. Tapi, nyali Mas Doni lantas tak menciut. Justru hal tersebut adalah sebuah kesempatan dan dorongan buat Mas Doni kalau dirinya butuh sholawat.

Terakhir, Mas Doni bercerita tentang musibah yang menimpa keluarga Seventeen di Banten. Bagi Mas Doni, makna yang lebih melekat dari musibah tersebut bukan apa itu sebuah kehilangan. Melainkan teman-temannya yang telah pergi seperti ‘nglimpe’ atau dengan sengaja pergi. Pulang kembali ke Rahmatullah meninggalkan semua yang masih tertinggal di dunia ini. Musibah tersebut juga menjadimomen bagi Mas Doni untuk menambah anggota keluarga baru, terutama dengan keluarga korban yang ditinggalkan para personil band yang telah duluan pulang. Sebuah project sedang dikerjakan Mas Doni dan hasil seluruhnya akan diberikan kepada keluarga korban. Mas Doni juga sangat berharap doa dan dukungan seluruh jamaah maiyah agar project ini berjalan dengan lancar.

Banyak pelajaran yang didapat dalam bermaiyah ini. Sinau srawung, sinau agomo, sinau urip, dan yang pasti menambah banyak saudara. Dan semua ini sedari awal sangat yakin dilakukan karena bagi Mas Doni sendiri, jalan yang telah dipilih ini tak lebih sebagai perwujudan dari amanah ibundanya. Harapan Mas Doni adalah semoga selalu diberi ke-istiqomah-an dalam menjalaninya. “Gak ada hari ini kalau gak ada hari kemarin” kata Mas Doni. Sebuah peran di Seventeen memegang peranan penting tentang betapa besar peran tersebut bisa membawanya sampai disini.

doc : manegesqudroh

Setelah mendengarkan cerita yang menggembirakan dan banyak mengandung hikmah tersebut. Mas Doni menunjukkan skill olah vokalnya di sesi ini. Dengan membawakan salah satu lagu hits semasa di Seventeen yang berjudul ‘Seisi Hati’. Seisi hati yang penuh menggambarkan rasa cinta dan kesetiaan. Jamaah pun ikut menyanyikan bagian reff, “aku kan tetap menunggu hingga batasan waktu tak lagi berputar. Sampai denyut nadi terhenti, ku akan slalu menanti seisi hatiku. Untukmu.”

Tulisan Terkait