Kegiatan filantropi identik dengan kegiatan kedermawanan sosial ala-ala orang-orang berada bahkan super-berada. Merujuk pada pengertian katanya, filantropi berasal dari kata philein yang artinya cinta, dan antropos artinya manusia. Filantropi dapat dimaknai sebagai kegiatan manusia yang dalam rangka cinta ia mau meluangkan harta, waktu atau tenaga untuk kemanfaatan sesamanya.

Maneges Qudroh sudah sembilan tahun berkarya tidak atas dasar apapun melainkan hanya satu dalam rangka, yakni dalam rangka cinta. Sembilan tahun yang lalu, teman-teman Penggiat Inti dari Simpul Maiyah di Magelang ini membuat woro-woro di tengah-tengah berlangsungnya Maiyahan Mocopat Syafaat, bahwa dulur-dulur Jamaah Maiyah di Magelang kalau mau ngumpul bisa di tempat kami.

Tak dinyana, woro-woro sederhana itu masih tetap relevan hingga hari ini. Penggiat Maneges Qudroh istiqomah memerankan diri nggelar kloso untuk kehangatan berkumpul Jamaah Maiyah sewilayah di Magelang. Jamaah Maiyah dari penjuru Magelang mana saja tak kebingungan alamat ketika mendadak rindu untuk berkumpul dengan saudara-saudaranya.

Kegiatan-kegiatan teman-teman Maneges Qudroh tidak pernah dikait-kaitkan dengan model filantropi apapun, yang penting nggelar kloso saja, yang penting ngumpul saja, yang penting bergembira semua. Begitu mungkin yang ada di benak mereka. Akan tetapi kali ini saya ingin mencoba menarik sebuah refleksi, bahwa apa yang mereka lakukan, yang mereka jaga keberlanjutannya itu juga tidak lain dan tidak bukan adalah juga tergolong sebagai sebuah aksi filantropi. Sebagaimana aksi filantropi yang kita kenal di banyak tempat lainnya, mereka juga patut untuk diapresiasi.

Aksi filantropi tidak melulu uang. Banyak orang berada dan super-berada berbagi uang, justru atas dasarnya bukan cinta melainkan motif-motif kepentingan yang sepenggal. Jika demikian, maka filantropi hanyalah label belaka, hanyalan social branding semata.

Mungkin kita para penggiat Maiyah ini tergolong orang yang pas-pasan apabila dihadap-hadapkan dengan mereka kalangan kaum berada dan super-berada. Tetapi arti penting dari keistiqomahan bertahun-tahun adalah bagaimana masing-masing kita berhitung cermat atas budget pribadi masing-masing kita untuk alokasi sosial itu cukup dan dicukup-cukupkan, sehingga bisa menciptakan wahana cinta, memantik output manfaat kemudian menjadi keberkahan bagi sesama.

Tanpa kemampuan berhitung yang cermat atas social spending kita, keistiqomahan menjadi hal yang sulit untuk ditempuh. Selain berhitung, kiat berikutnya untuk bertahan lebih lama adalah bagaimana masing-masing kita tidak mengejar ‘wah’, tidak menuntut menjadi heboh atas aksi yang kita kerjakan. Obsesi harus ‘wah’ dan heboh adalah mekanisme pemborosan bagi ketersediaan sumber daya masing-masing pribadi kita yang terbatas ini.

Sepanjang teman-teman Maneges Qudroh setia pada prinsip yang sudah dijalankan termasuk kedua hal tersebut di atas, maka perjalanan Simpul Maiyah ini akan masih tetap terus terpelihara hingga nun jauh di depan sana.

Selamat Milad ke-9 MQ. Istiqomah mengoptimalkan kemanfaatan!

-Rizky D. Rahmawan-