Rasa cinta memanggil jiwa-jiwa yang merindu, karena sehela, sedepa, atau mungkin sehasta ruang yang telah tercipta menjadi sebuah jarak untuk segera dituntaskan dengan sebuah perjumpaan. Kembali meruang, dimana pada kesempatan kali ini, kegiatan wirid selasan dilaksanakan di Sanggar Wening dengan Mas Sigit (@jodhokemil) sebagai tuan rumahnya. Dengan seperangkat alat tempurnya ketika pertunjukan telah tertata rapi, memberikan warna tersendiri dalam perjumpaan kali ini

Merekatkan jarak dengan “aku” yang mulai merenggang, membangunkan “aku” yang mungkin terlelap, menyibakkan pandangan “aku” yang telah terhijab, melahirkan kesadaran “aku” yang mungkin mati, atau menumbuhkan kesadaran untuk me-refresh cinta kepada “aku” yang mungkin lama bersembunyi atau bahkan menghilang.

Orang yang gagah berani  bukanlah orang yang dapat menyerbu musuhnya dengan tangkas dalam pertempuran, akan tetapi orang yang gagah berani itu sebenarnya yang kuasa dan mampu menahan hawa nafsunya.”

Semua kegagahan seolah menampakkan pancaran kekhusyukan rupa, yang menggema dalam setiap ungkapan yang terlantunkan. Meski terkadang menjadi diprasangkai sebagai sebuah gerakan, namun semua tak lebih hanyalah sebuah persembahan. Tentang keikhlasan, kerinduan, pun kebersamaan yang selalu menawarkan candu akan nuansa keintiman yang sangat identik dengan keberangkatan para pejalan ini akan sebuah pertemuan kepada Maiyah.

Persembahan yang bukan berarti memberi, namun mengembalikan apa yang tak terhitung jumlahnya telah dikaruniakan kepada kami. “Bagaimana lagi aku mesti bersyukur, jika rasa syukur yang datang juga berasal dari-Mu?

Sanggar Wening, 14 Januari 2020