Waktu berlalu kian begitu cepat, seminggu sudah acara Milad ke-10 Maneges Qudroh telah berlalu. , Oleh Panitia Milad, pada kesempatan #MQSelasan malam ini akan digunakan sebagai evaluasi sekaligus pembubaran panitia sebelum acara wirid dan sholawat dimulai.

Langit sudah menampakkan sayunya sebelum senja menandakan hujan akan membuktikan kebiasaannya hampir pada tiap Selasa malam. Dan benar, hujan memesrai perjalanan para dulur-dulur menuju lokasi acara. Destinasinya Sendhang Hageng Tirta Kencana, merupakan sebuah kolam renang yang dikelola oleh masyarakat Dusun Gatak, Mungkid, Magelang. Yang mana selama pandemi ini, kolam renang itu ditutup sampai waktu yang belum ditentukan. Dan baru pada malam ini, Sendhang Hageng kembali digunakan.

Beberapa hari sebelum acara, Sendhang yang sudah lama tidak terpakai ini sudah mulai dibersihkan oleh para pemuda setempat yang mengelolanya. Kebetulan juga Mas Kirun, salah satu dulur Maneges Qudroh ini sedang bertanggung jawab memegang amanat sebagai Kepala Desa setempat. Dan atas inisiatif dan akomodasi beliau pula, acara Selasan malam ini dapat terselenggara di tempat yang baru dan unik.

Seketika acara dibuka, kendali sepenuhnya langsung diberikan kepada Ketua Panitia Milad. Meskipun ada yang bukan bagian dari panitia, akan tetapi semua yang berada di Sendhang Hageng merupakan satu saudara Maneges Qudroh. Ketika perbedaan peran bukan sebuah bentuk exklusivitas, maka tinggal penerapan keterbukan sesama atau setubuh antar organ Maneges Qudroh.

Evaluasi dan prosesi pembubaran panitia berlangsung secara singkat. Hal ini tak lepas dari koordinasi dan komunikasi yang baik antar bagian dan fokus terhadap peran yang diamanatkan. Meskipun belum mencapai kata sempurna, namun segala daya yang telah diupayakan tetap mendapatkan apresiasi. Dan ini menjadi sebuah pijakan kecil dalam rakaat panjang yang tidak tidak berujung.

Selanjutnya, wirid dan sholawat pun dimulai dengan Mas Virdhian sebagai roisnya. Pemandangan kolam biru, dengan temaram cahaya lampu taman, nan berpadu dengan deraian rintik hujan menambah nikmat suasana menyapa Gusti Allah dan Kanjeng Nabi pada malam ini. Kemesraan terbalut melalui nada-nada yang beriringan.

Hingga pada wirid “Maulan Siwallah”, dimensi itu seketika berubah utamanya ketika dulur-dulur menyeru “qala yaa abdi ‘anaLlah.”.  Dari nada yang berubah, sudah pasti ekspresi raut dari kita pun ikut berubah. Kita dapat mengetahuinya sekalipun dengan mata tertutup. Sementara kita semua masih dalam keadaan duduk tak beranjak dari posisinya masing-masing.

Ya, kita semua keluar bukan untuk mencari bagian kenikmatan-kenikmatan dalam Selasan. Kita hanya melingkar dan menanti dengan sabar. Maksudnya, segala aktualisasi yang terjadi merupakan sebuah perjuangan dalam urusan agama. Di dalam Selasan ini, yang nampak dari dulur-dulur adalah semua mencari kenikmatan akan Tuhan. Kanjeng Nabi bersabda, “siapa pun yang membuat seluruh perhatiannya menjadi satu perhatian, Tuhan akan memisahkan seluruh perhatiannya.” Dan sisa perhatian yang terpisah tersebut akan diurusi oleh sesuatu yang lain, meski kita tidak mengetahuinya.

Kita hanya bisa “duduk” dalam urusan agama, saat dunia selalu mengajak berlari. Begitu pun sebaliknya, kita hanya bisa berlari dalam urusan agama, saat dunia hanya mengajak untuk “duduk”. Karena Dia berfirman, “ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.(2:152)

Hal itu tentunya menjadi pencapaian tersendiri dengan terus melatih kesadaran akan hadirnya Tuhan dalam setiap keadaan. Dan ketika hal ini menjadi yang utama, dunia tidak lagi mengekang kita, akan tetapi urusan dunia akan mengikuti dibelakang bahkan melayani kita. Dan dengan keadaan seperti itu, ketaatan kita pada Tuhan dan kekasih-Nya akan semakin meningkat.

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.(4:69)

Suasana malam hari itu begitu hangat meski kita menempati tepian kolam dengan angin hujan yang semilir. Bahkan, dalam satu waktu itu aku banyak melihat haru ataupun candu. Disini aku juga banyak dipertemukan dengan saudara-saudara baru. Sebenarnya, tempat apakah ini?

Sendhang Hageng, 23 Februari 2021