Tahun 2020 telah berlalu beberapa waktu yang lalu. Kita hanya bisa menjadikan segala fenomena yang terjadi sebagi sebuah pelajaran yang tersirat. Mungkin (satu dari sumber ayat yang tidak difirmankan) salah satunya berasal dari sesuatu yang telah terjadi. Melihat pola, alur, maupun siklus kehidupan dan menemukan titik-titik kesinambungan antara satu dengan yang lain. Semua sudah memiliki kemampuan bekal untuk mengarungi cakrawala ilmu yang tak berbatas. Semua sudah dibekali dengan hardware buku panduan melalui kitab-kitab, maupun dengan software yang sangat canggih merujuk pada nasihat “mintalah fatwa pada hatimu”. Dengan catatan, kamu sadar akan ‘keutamaan’ segumpal daging tersebut.

Semua itu mencipta kata saat masih di dalam pemikiran diri, dan sebatas hanya bisa termaknai oleh diri sendiri. Kata-kata adalah sesuatu yang sanggup manusia ciptakan dalam rentang perjalanannya setelah menemukan makna. Namun, kata-kata acapkali tidak digunakan sebagaimana mestinya. Tidak untuk saling ber-tahadduts bin Ni’mah, melainkan hanya dipergunakan untuk kepentingan diri dalam memperkuat argumen kebenaran yang masih sarat akan hasrat diri.

Banyak kata-kata berterbangan dalam angan yang siap untuk ditembakkan ke arah-arah yang sekiranya ingin sekali hati ini menundukkan. Sebuah peribahasa “mulutmu adalah harimaumu” memang salah satu andalan utama dalam permainan kehidupan yang katanya hanya sendau gurau belaka. Semua gurauan tersebut salah satunya berasal dari permainan kata-kata. Yang tidak sadar membuat manusia rela digiring kesana-kemari mengikuti kemana Si Tuan Kata ini menciptakan arah melalui huruf-huruf yang tersusun darinya.

Kita tidak sadar telah menjalani kehidupan dengan berlandaskan kebiasaan memainkan kata atau berprasangka. Hingga dalam hadits, Rasulullah Saw. bersabda bahwa Allah mengatakan, “Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku”. Akhirnya, sebagaimana kita memaknai kehidupan, seperti itulah kita menjalaninya. Dan hakikat dari kehidupan itu sendiri adalah tentang bagaimana seseorang memandang atau melihat sebuah kehidupan.

Di dalam khasanah Jawa sering kita temukan ungkapan “sejatine wong urip iku sawang sinawang”. Dan jelas adanya bahwa sesuatu sebatas prasangka, lebih banyak mengandung hal yang tidak bermanfaat dan cenderung semakin menjauhkan diri akan kebenaran-kebenaran yang sedang dicari. Meskipun, sangat mungkin jika sebuah sangka memiliki perbedaan tipis dengan rasa mawas diri.

Dalam pencarian kebenaran, kita juga sering diingatkan, “Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.”(QS. Yunus: 36)

Lalu apakah kita bisa mengendalikan prasangka yang terlintas begitu saja? Kalaupun segala bentuk prasangka itu sebatas “sawang sinawang”, apakah itu bisa dijadikan parameter kebenaran? Monggo sesarengan kita tansah sinau “Sawang Sinawang” wonten ing rutinan Maneges Qudroh edisi kaping-119, Sabtu, 2 Januari 2021, wonten papan Panti Cahaya Umat, Dusun Ngroto, Mertoyudan. Monggo!

NB: Dimohon untuk tetap mengikuti protokol kesehatan pada saat acara.