Sangu Sasi Pasa (Prolog)

Seorang santri sekonyong-konyong diminta oleh gurunya memanjat pohon bambu. Dari bawah sang guru terus mengawasinya sembari memberi perintah pada santrinya agar terus memanjat sampai atas. Santri pun menurut saja tanpa peduli pohon akan patah atau ambruk. Tak disangka begitu sampai di atas Sang Guru dengan enteng menyuruh santrinya meloncat begitu saja. Bruukkk…! Dan Santri pun sami’na wa atho’na saja. Anehnya Santri itu mendarat dengan selamat. Ternyata itu hanyalah ujian kepatuhan untuk santri dari Gurunya.

Itulah sepenggal kisah yang pernah dialami seorang KH. Hasyim Asyari ketika berguru kepada Syaikona Kholil Bangkalan Madura. Bagi yang pernah mondok di pesantren-pesantern salaf tradisional tentu kisah-kisah demikian tidak begitu asing. Misal saja, selama mondok seorang santri tidak melulu dituntut untuk mengaji kitab-kitab. Melainkan hanya disuruh untuk banyak membantu urusan dapur. Atau ada pula seorang santri yang oleh gurunya justru banyak dituntut untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan seperti menyiram bunga, memberi makan kambing dan sebagainya.

Bukan tak bermutu. Ternyata di balik itu semua ada pelajaran-pelajaran berharga yang diajarkan langsung dari Guru sebagai manifestasi dari  ilmu agama itu sendiri. Dari Fikih sampai Tasawuf. Learning by doing kalau kata orang modern. Maka dari itu, Majelis Masyarakat Maiyah Magelang Maneges Qudroh putaran Juni kali ini ingin mengupas lebih dalam metode-metode ‘absurd’ dari ranah pesantren salaf khususnya di Magelang. Bersama KH Mansyur Chadziq (Gus Mansyur) pengasuh Pondok Pesantren Salaf Ushuluddin, monggo sedulur-sedulur untuk merapat, melingkar bersama pada Sabtu malam, 4 Juni 2016. Bertempat di Omah Maneges, Jumbleng Tamanagung, Muntilan.

Don’t Miss it!

Tulisan Terkait