Sanga atau sembilan sering diartikan sebagai nilai tertinggi dalam urutan angka. Sedangkan “Ji” mengisyaratkan sebuah makna tentang nyawiji (menjadi satu). Jadi, “Sanga-ji” mengandung makna dari sembilan kembali menjadi satu. Dengan kesadaran tentang adanya rentang jarak, ruang, dan tentunya waktu yang telah memberikan banyak ilmu dan pelajaran selama perjalanan yang telah dilalui.

Maneges Qudroh akan menapaki usia yang kesembilan. Bisa disebut kesembilan pun karena ada yang pertama hingga kedelapan. Sebuah kompleksitas rona perjalanan telah dilalui yang tentu membutuhkan spirit dan keistiqomahan hingga mencapai pada titik kesembilan. Sudah pasti perjalanan itu menumbuhkan kedewasaan dalam berbagai sisi sudut pandang.

Dalam Milad kali ini, fase sembilan ini adalah ungkapan tentang kemajemukan manusia yang sering mengidentifikasi dirinya ke dalam kepingan-kepingan kelompok. Menimbulkan jarak yang menjauhkan untuk menjadi manusia muslim atau mu’min. Muslim belum tentu berarti islam, kalau belum sanggup menyelamatkan. Mu’min juga belum pasti menunjukkan keimanan seseorang, kalau belum sanggup mengamankan.

Manusia mesti belajar memanusiakan manusia, mentradisikan silaturrahmi dalam perjalanannya menapaki derajat hidup. Mengindahkan kebenaran diri, mencairkan eksistensi komunal. Manusia belajar terlebih dahulu menjadi manusia. Membangkitkan spiritualitas diri untuk memasuki dimensi “laisa kamitslihi syai’un”. Sinau Nyawiji dengan mengubah jarak yang telah tercipta menjadi jalan keabadian. Bukankah “tidak ada sesuatu apapun selain Engkau?

“Sanga-Ji” adalah ruang untuk menapaki kembali jalan kembali menjadi satu kebersamaan. Melanjutkan sesuatu dengan kesadaran “sabil” tanggung jawab yang baru. Menemukan “sirath”ruh kehidupan yang berlapis-lapis layaknya cahaya yang mesti ditembus menggunakan kekuatan “sulthon”. Dengan berbekal keberangkatan rindu untuk dapat mencapai pertemuan dengan Sang-Aji.