Restart: Mengakhiri untuk Kemudian Memulai Baru

Maneges Qudroh melaksanakan melingkar bermuwajahan di Panti Asuhan Cahaya Umat, Ngroto, Magelang pada 4 Juli 2020 lalu. Ini adalah penyelenggaraan yang kedua kalinya forum digelar secara reguler, tidak melalui sarana virtual. Tentu saja pelaksanaan dengan memenuhi standar protokol kesehatan, berkoordinasi dengan lingkungan dan komunitas sosial yang berada di lingkungan tempat penyelenggaraan sehingga dapat berlangsung secara kondusif.

Penggiat tidak men-target untuk lekas berforum darat demi tetap menjaga api terus berproses mengasah intelektualisasi diri. Namun atas kesungguhan niat dan kerinduan tersebut, akhirnya kami seperti memperoleh buah min haitsu la yahtasib, sebuah rejeki ataupun keberuntungan yang datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Gayung bersambut krentek Penggiat Simpul untuk berkumpul disambut dengan kesediaan keluarga besar Panti Asuhan Cahaya Umat untuk turut memberikan ruang pelaksanaan rutinan. Kami pun bersepakat mengadakan acara di luar Omah Maneges sebagaimana rutinan biasanya dengan berbagai pertimbangan, utamanya demi meminimalisir kemudharatan sosial.

Kami mengingat apa yang pernah disampaikan oleh Mbah Nun, bahwa andai kita tidak diberi sakit, hal itu tidak untuk dipamer-pamerkan kepada siapa-siapa karena kita tidak bisa memberikan nilai obyektif kepada orang lain. Keberuntungan mendapat kesempatan berkumpul dengan tetap membangun kondusivitas sosial, menjadi hal yang patut kami syukuri tersendiri.

Nuansa yang merebak malam hari itu adalah kebahagiaan. Ditemani malam yang merona dengan remang rembulan yang sedikit malu di ufuk timur. Cahaya rembulan menyercah memberikan terang menemani perjalanan kami melingkar bersama. Dengan mengambil sebuah nilai keberangkatan yang dianggap benar secara bersama-sama.

Sekitar pukul 20.15 acara dimulai dengan pembacaan lantunan ayat suci. Tilawah malam hari itu dibawakan oleh Mas Virdhian. Kemudian disempurnakan dengan munajat kepada Allah dan sapaan kepada Rasulullah. Bersama-sama jamaah melantunkan wirid dan sholawat dengan harapan pintu-pintu rahmat itu akan terbuka melalui ilmu-ilmu yang akan dipelajari bersama-sama pada rutinan edisi ke-113 malam hari itu.

Pada edisi bulan ini, Maneges Qudroh mengangkat tema “Ctrl+Alt+Del”. Tuts keyboard di komputer yang tidak lain merupakan shortcut yang kerap dituju ketika proses di komputer mengalami kesalahan sistem, error. Fungsi ini sebenarnya merupakan sebuah alternatif selain harus mematikan atau menghidupkan kembali komputer (restart).

Mas Adi berperan sebagai moderator. Pada bagian awal ia mengalasi dengan menjelaskan tentang “restart spiritual” yang menjadi tema Mocopat Syafaat di bulan Juni lalu. Dan malam hari ini adalah juga tema yang masih berkesinambung.

Mbah Nun menganjurkan kepada Jamaah Maiyah untuk mempelajari, mencari, atau sebisa mungkin berinisiasi me-restart diri. Daripada nantinya masing-masing kita harus mengikuti proses restart yang dilakukan oleh alam semesta.

Mas Adi menyampaikan bahwa sesungguhnya tidak ada yang kita lakukan tanpa kesadaran spiritualitas, terutama bagi Jamaah Maiyah. Dan tidak bisa standar proses mengakhiri untuk kemudian memulai kembali sesuatu secara baru atau restart tersebut dibuat sama tindakannya. Sebab satu sama lain memiliki tingkatan ilmu dan maqom yang berbeda-beda.

Mencerdasi Problem yang Bikin Mumet

Pak Amron Awaludin kembali membersamai dulur-dulur Maneges Qudroh malam hari itu. Beliau sudah berulang kali hadir dan turut mengasyiki Maiyahan dengan penyampaian dan elaborasi Beliau yang syarat akan muatan ilmu tasawuf. Beliau pada kali tersebut menyampaikan mengenai sebuah keadaan di mana banyak orang dilanda kebingungan. Hal tersebut terutama diakibatkan oleh kehadiran Covid-19 yang tidak terpikir di benak sama sekali sebelumnya.

“Apapun keadaannya harus dikaji bahwa semua adalah ayat Allah”, Pak Amron berusaha menjelaskan. Semua pasti mengandung isyarat sebuah pesan. Betapa Mbah Nun kerap memberi pesan bahwa Jamaah Maiyah harus membiasakan diri untuk membaca ayat-ayat yang tidak difirmankan dan tidak tertulis di kitab Suci Al-Qur’an, lalu mencoba untuk memaknai atau mentaddaburi. Proses memaknai dan mentadabburi tersebut bisa diawali dengan pertanyaan “Sebenarnya sedang ada pesan apa?”.

Belakangan ini, menurut Pak Amron negeri ini telah kehabisan wong sepuh. Hal ini salah satunya nampak dari segala kesimpangsiuran yang terjadi. Kesimpangsiuran informasi sebenarnya tak kalah berbahaya dari resiko klinis pandemi. Sebab, hal tersebut berpotensi menimbulkan perpecahan dan tergerusnya kepercayaan di tengah-tengah masyarakat.

Sangat sedikit kita lihat wong sepuh yang memiliki daya asuh atau ngemong di waktu-waktu seperti ini. Kurangnya ketegasan dan kebijaksanaan pada akhirnya membuat masyarakat memilih untuk bespekulasi menempuh keputusan-keputusan yang menurutnya dirasa paling benar.

Lebih lanjut Pak Amron menyampaikan, bahwa menjadi wong sepuh itu sendiri bukan berarti harus menunggu usia lanjut. Kita bisa mempelajari dan memulai belajar ‘ilmu orang tua’ sejak saat ini jua. Memulai dengan membangun kesediaan diri untuk mengkaji kembali apa-apa saja yang sudah dan sedang kita lakukan. Mengidentifikasi niat yang terbetik, mengapa tidak selaras dengan kehendak-Nya hingga yang terjadi pada akhirnya tidak sesuai keinginan? Pantaskah seorang hamba memiliki keinginan jika menyadari wilayah qudroh-Nya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan mengajak akal, nafsu dan nurani untuk berdebat. Dari ketiga wilayah diri tersebut, kira-kira bagian mana yang memiliki kadar kemurnian paling tinggi? Orang yang memiliki kepekaan pasti punya tanggung jawab atas sesuatu yang dititipkan. Pak Amron menyampaikan bahwa salah satu tanggung jawab itu adalah ngemong.

Alur pembelajaran malam ini diarahkan untuk mencari jawaban bukan atas sesuatu yang ada pada luar diri, melainkan jauh ke dalam diri sendiri. Layaknya inner journey yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW, salah satu upayanya diawali dengan ber-uzlah atau menyepi.

Shortcut “Ctrl+Alt+Del” juga bisa diupayakan dengan menempuh sepi. Ketika dunia sepi ditinggal tidur orang-orang, kemudian kita mendirikan tahajjud. Ngudoroso segala problematika kepada Sang Pencipta. Siapa tahu problem-problem yang bikin mumet yang sedang kita hadapi adalah jalan pintas dari Tuhan untuk membuat kita jadi lebih cerdas menghadapi hidup.

Manajemen Pendidikan, Manajemen Spiritual dan Manajemen Batas

Hadir pula di rutinan Maneges Qudroh bulan Juli ini yakni Mas Muhammad Riyadi Prasetyo. Pria yang akrab disapa Kang Yadi ini tengah mendirikan sanggar untuk pendidikan anak-anak di tempat tinggalnya di Sleman. Kang Yadi pun mewedar banyakbekal-bekal ilmu mengenai manajemen pendidikan.

Senada dengan yang disampaikan moderator, Kang Yadi pun menandaskan akan pentingnya landasan spiritual di dalam mengerjakan segala sesuatu, termasuk di dalam mengelola sebuah organisasi pendidikan. Bekal-bekal ilmu yang diwedar Kang Yadi disimak antusias oleh jamaah dari kalangan yang sudah menjadi orang tua.

Manajemen pendidikan tak terlepas dari manajemen tauhid. Diantara aplikasi manajemen Tauhid menurut Kang Yadi adalah upaya sungguh-sungguh mengenali batas-batas serta mengidentifikasi posisi atau maqom diri sendiri.

Dalam proses re-restart diri, kita harus menaruh perhatian yang sungguh-sungguh pada hal tersebut. Bagaimana kita akan memulai sesuatu yang baru apabila kita tidak tahu posisi diri? Bahkan dalam keadaan yang cair dan mengalir, kita pun harus mampu membuat arus kita sendiri, mampu membuat aliran sungai sendiri, mampu membuat jalan sendiri agar tidak mudah terombang-ambing oleh keadaan.

Dan kita harus banyak-banyak riyadloh atau berusaha untuk kembali melahirkan niat. Karena dari semua teori dan teknis yang telah dipelajari, yang paling susah adalah tetap mengaktivasi niat dan menjaganya untuk tetap istiqomah.

Turut membersamai dengan diskusi malam hari itu adalah musikalisasi puisi yang dibawakan oleh Mba Rizki dengan diiringi Mas Yanuar dan Mas Piyu. Nada-nada nan eksotis ditampilkan dengan curahan makna yang disajikan dalam puisi yang disampaikan, meski tidak semua mampu menikmati tingkatan sastra puisi yang butuh perhatian lebih jika ingin mengetahui makna yang ingin disampaikan oleh penyair. Setidaknya alunan musik itu mampu mengembalikan gairah dan energi yang mulai terkikis. Turut terlibat juga malam hari itu yakni Gus Aushof. Gus Aushof hanya sedikit menyampaikan bahwa manusia merupakan produk paling sukses. Manusia memiliki chips yang lebih canggih daripada makhluk ciptaan yang lain. Manusia seharusnya tidak harus menunggu keadaan seperti ini baru memiliki kesadaran untuk restart. Gus Aushof menyampaikan bahwa alam ini sebenarnya sedang mengajak berdialog, tapi diri sendiri sadar atau tidak? Singkatnya, Gus Aushof mengajak jamaah untuk mengembalikan kesadaran kita sebagai pengambil keputusan atas diri sendiri. Mengkhilafahi diri sendiri.

Oleh: Taufan Satyadharma

Tulisan telah diposting di laman https://www.caknun.com/2020/riyadloh-untuk-memperbaharui-niat/ pada tanggl 4 Juli 2020.