Rindu Menyatu di Samudera Yang Maha Luas

Situasi pada hari Sabtu malam ini tidak seperti biasanya. Para jamaah maiyah masih sedikit yang mendatangi acara sinau bareng akan diselenggarakan disaat waktu sudah mnunjukkan pukul 20.00 WIB. Ataukah pementasan musik disekitaran kampung mempengaruhi kehadiran peserta? Sepertinya tidak juga, karena di setiap Bulan pun pasti ada beberapa jamaah baru yang hadir. Untuk bersilaturahmi dan ikut proses belajar kebersamaan, hingga sekedar mencoba merasakan suasana Maneges Qudroh . Bukan hanya makna sebuah kata, akan tetapi ikatan paseduluran yang terus menaungi para penggiat untuk terus menjaga kebersamaan dalam proses sinau bareng.

‘Sabtu malam’ itu sendiri sudah pasti berbeda makna dengan ‘malam minggu’. Jadi sudah dapat dipastikan para jamaah yang ikut belajar sedang berkamuflase menjadi jomblo musimam atau memang benar-benar jomblo. Tapi menariknya, dari situasi tersebut dapat terlihat bahwa masih ada orang yang mau meluangkan malam minggunya yang berharga demi mengikuti proses silaturrahmi dan sinau bareng. Terutama bagi yang masih merasa butuh ilmu, untuk memenuhi hasrat jamaah akan sebuah pemaknaan baru yang diharapkan bisa diterapkan dalam kehidupannya.

Tema sinau bareng kali ini “Dadio Banyu, Ojo Dadi Watu” berasal dari permasalahan hidup yang begitu kompleks. Hingga keluwesan, ke-lemah lembut-an, ramah, kesejukan  adalah sifat air yang dirasa oleh mbah-mbah kita bisa lebih menyelesaikan masalah daripada menerapkan sifat batu. Seperti juga sering dikatakan oleh Simbah ketika mengupas secara global tentang surat Al-Fatihah, bahwa Allah pun menampakkan kasih dan sayang-Nya terlebih dahulu, daripada menunjukkan sifat Malik-Nya.

Kenapa jangan jadi batu itu sendiri, dikarenakan sifat batu yang cenderung keras dan kaku. Dan dengan sifat itu, bukannya menemukan solusi sebuah masalah, tapi justru menimbulkan permasalahan yang baru. Walaupun keras dan kaku tidak selalu berkonotasi negatif karena di saat-saat tertentu kita juga butuh sifat watu untuk membangun pondasi yang kokoh bagi kepribadian diri yang dapat digunakan sebagai bekal untuk mengarungi samudera kehidupan.

Di tema kali ini, Omah Maneges kedatangan beberapa tamu dari Kadiporo seusai berlatih Teater. Sebuah teater perdikan yang akan dipentaskan pada 12-13 Januari 2019 di Taman Budaya (TBY) Yogyakarta dengan judul “Sengkuni 2019”. Mas Akbar, salah satu tamu dari Wonosobo memaparkan bahwa semua dana beserta akomodasi acara tersebut berasal dari Mbah Nun. Sampai ke naskah teater tersebut pun Simbah yang membuatnya. Dan diperlakukan sistem ticketing itu pun karena Simbah juga ingin melihat sejauh mana apresiasi temen-temen terhadap budaya dan seni. Bukan untuk mencari keuntungan secara pribadi.

Lantas, ajakan untuk lebih mengenali air itupun membuka wawasan kembali tentang begitu pentingnya air bagi sumber penghidupan. Air merupakan suatu zat cair tidak mempunyai rasa, bau, ataupun warna. Tapi kehadirannya menuntaskan segala bentuk kedahagaan makhluk hidup untuk pertumbuhannya. Disini manusia dituntut untuk lebih mengenali sifat-sifat utama air, agar dapat belajar dari wilayah alam air itu sendiri. Karena kita akan selalu dituntut dan tidak dapat lepas dari ketergantungan kita kepada alam. Secara usia terciptanya pun air lebih dahulu tercipta dari manusia, tapi manusia kurang bisa menghargai air sebagai sumber penghidupannya.

Beberapa diantara sifat air salah satunya yang pertama adalah dapat berubah bentuk atau berdaptasi menyesuaikan dengan wadahnya, dengan lingkungannya. Dari situ manusia diharapkan bisa mengambil pelajaran untuk bisa selalu menyesuaikan diri agar bisa masuk ke dalam setiap bentuk lingkungan. Kalau kita tetap membawa sikap batu ke dalam lingkungan yang baru, tentu akan terjadi banyak bentuk benturan yang menimbulkan konflik.

Terus yang kedua adalah mengalir ke tempat yang lebih rendah. Dan di saat bersamaan air juga memiliki daya kapilaritas, yaitu gaya yang dimiliki air untuk melawan gravitasi bumi. Bagi manusia, ada suatu contoh dari Kanjeng Nabi dimana beliau lebih memilih untuk hidup sederhana, tidak bermewah-mewahan disaat sangat mungkin dikabulkan jika beliau meminta apapun. Mayoritas umatnya hidup sederhana bahkan pas-pasan. Maka dari itu, kesetiaan Rasulullah untuk selalu mengalir ke bawah, membela kaum dhuafa, mengayomi orang fakir, dan menyantuni anak yatim selalu menjadi perhatiannya. Seperti yang sering juga disampaikan Simbah, “Innama tunshoruna wa turhamuna wa turzaquna bidlu’afaikum” Kalian dilimpahi pertolongan, kemenangan dan rizki oleh Allah, karena kalian maju perang demi membela rakyat yang dilemahkan.

Ketika air itu mengalir ke bawah, sebagian dari mereka menguap ke atas melawan gravitas bumi. Manusia sangat mungkin memiliki potensi kapilaritas melalui iman yang dimilikinya kepada Sang Kekasih. Sebagai bentuk sapaan kepada Yang Maha Pengasih atau rindunya kepada kekasih-Nya, Rasulullah Sholallahu’alaihi wassalam. Walau nanti pada saat langit sudah tak kunjung mampu menahannya. Air akan turun sebagai hujan untuk memberikan penghidupan kepada seluruh makhluk di muka bumi. Kapilaritas disini dipakai bukan untuk menapaki jabatan atau kekuasaan atas egosentris dirinya walaupun sering menjadi kamuflasi “demi kesejahteraan bersama”.

Di tengah-tengah sinau bareng, sesekali Mas Akbar menghibur para jamaah disaat proses belajar dirasa kian membutuhkan pemikiran ekstra. Salah satunya menyampaikan Lagu tentang poitik. Politik itu berkawan, saling bergotong royong membangun bersama. Orang bermaiyah pun karena merasa dirinya sedang sakit dan membutuhkan penyembuhan. Bagi yang sadar ‘kalau sedang sakit’. Bahkan dalam suatu kelompok itu pun sering terjadi kekecewaan. Komunikasi intens membuat hubungan semakin dekat, tapi semakin tinggi pula potensi gesekan atau konflik yang bisa terjadi. Karena pasti butuh penyeragaman pemikiran serta menginginkan orang lain mengikuti pemikiran sama seperti yang diinginkan.

Air yang tidak berasa dan berbau pada akhirnya bisa menjadi berbagai jenis air dengan meleburnya zat lain, karena salah satu sifat air yang lain adalah melarutkan beberapa zat. Dengan larutan gula yang pas, air akan menjadi manis dan enak untuk diseduh. Tapi apa jadinya jika air bercampur dengan limbah pabrik? Menjadi comberan. Tapi kita mesti bisa memaknai comberan itu sebagai sesuatu yang membersihkan walaupun sebagai hakikatnya adalah air, ia rela dipandang menjijikkan dan berbau.

Alangkah baiknya kita jangan terus menyingkirkan batu begitu saja. Karena dalam lingkup cinta semua mesti meiliki presisi nilai yang sama, tergantung empan papannya. Inilah juga mengapa rumusan kalimat cinta adalah bismillahirrahmanirrahim,bukannya bismillahirrahimarrahman. Rahman adalah salah satu bentuk cinta ke luar diri kita, meluas ke lingkungan sosial, sedangkan rahim lebih mengarah ke dalam, cinta vertikal dan personal. Untuk cinta yang Rahman kita memerlukan sifat air, akan tetapi untuk cinta Rahim kita membutuhkan sifat batu. Seperti yang sering dikatakan Simbah bahwa kita perlu radikalis terhadap diri sendiri. Kita harus keras dan berani menerapkan kedisiplinan untuk diri sendiri dengan keras dan tegas.

Batu dengan sifat kerasnya membutuhkan seseorang yang ahli untuk membentuk sesuatu yang indah. Batu di tepi pantai pun lama-kelamaan juga akan terkikis oleh belaian lembut sang ombak. Bahkan, di acara sinau Maneges Qudroh ini pun, jika kita tidak memiliki sifat air, kita tidak akan memiliki keluasan untuk menganggap dan memperlakukan orang yang salah ataupun benar imannya dengan perlakuan yang sama.

Ibarat seseorang yang tengah tenggelam di lautan luas. Mereka mennyadari setiap gerak hanya mengikuti gerak air, dan ketika mereka mencintai Tuhan, “Siapa pun yang melihatnya, berarti dia melihat-Ku, dan siapa pun yang mencarinya, berarti dia mencari-Ku”. Yang tercinta akan selalu terlihat indah bagi yang mencintainya. Tapi pernyataan itu tidak bisa dibalik, karena tidak setiap keindahan akan selalu dicintai. Dan pada akhirnya, baik air ataupun batu semua akan merindu untuk bersatu ke Samudera Yang Maha Luas.”Kami adalah milik Tuhan, dan kepada-Nya pasti kami akan kembali.” (QS. 2:156)

Pada akhirnya kegiatan malam ini adalah salah satu langkah proses pembelajaran untuk menjadi manusia ruang. Dimana ruang itu sendiri melingkupi air maupun batu. Dan dibutuhkan kebijakan dalam memilih langkah akan memilih sifat batu atau sifat air dalam pengambilan keputusan. Acara pun dipungkasi sekitar pukul 01.00 dini hari dengan doa bersama.

 

Magelang, 1 Desember 2018

Omah Maneges

(Taufan)