Tadabbur Selasan | 056

Hujan nampak sangat setia membersamai lingkungan Magelang sedari sore. Intensitas hujan yang tak kunjung berkurang nampaknya membuat dulur-dulur untuk menunggu dan menunda waktu berangkat menuju ke acara Selasan. Selasan kali ini mungkin sedikit spesial karena telah selesai menjadi putaran terakhirnya di tahun 2020, yang pada kesempatan kali ini diadakan di Sebening Embun Galeri/kediaman Mas Arif, Dusun Bojong, Mungkid. Tentu banyak sekali cerita dan pengalaman yang bisa dijadikan sebagai pembelajaran, terutama dalam masa pandemi yang masih dialami.

Setelah membuka acara, Pak Adi mengajak dulur-dulur Selasan yang hadir untuk sedikit berbagi refleksi terkait  apa saja yang sekiranya didapati dalam perjalanan bermaiyah di tahun 2020. Salah satu dari beberapa kisah yang telah direfleksikan datang melalui Mas Dul Mukti/Entong. Menurut kisahnya, massa pandemi menjadi suatu waktu yang banyak memberikan berkah. Terutama karena rumahnya sering dijadikan sebagai tempat diadakannya wirid dan sholawat dalam acara Selasan. Terlebih saat booming-nya larangan berkumpul, Mas Entong mengaku tidak pernah meminta ijin kepada kepala masyarakat sekitar. Meskipun demikian, justru pada suatu waktu dirinya mendapat apresiasi warga setempat dengan mempersatukan dulur MQ dengan masyarakat sekitar dalam satu agenda rutinan di tempatnya.

Refleksi ini tentu saja menjadi salah satu wujud dari tahadduts bin-Ni’mah atau berbagi kenikmatan. Yang mana kenikmatan yang telah didapati belum tentu bisa diaplikasikan oleh setiap orang, kecuali kita dapat mengambil hikmah dari kenikmatan yang telah didapati, salah satunya dari Mas Entong. Kebetulan dalam edisi Selasan kali ini juga hadir salah satu tamu dari Surabaya, yakni Cak Soni yang datang bersama putra kecilnya. Bagi dulur-dulur maiyah yang sering membersamai sinau bareng Cak Nun dan Kiai Kanjeng tentu tidak asing dengan Cak Soni yang sering berjualan kopi keliling. Beliau mungkin menjadi salah satu penggagas para penjual kopi keliling yang selalu setia mengikuti agenda perjalanan Mbah Nun ke berbagai daerah. Bahkan karena begitu setianya, putra dari Cak Soni pun sampai diberi nama Ridho Ainun Nadjib.

Untuk refleksi Maneges Qudroh di tahun 2020, insyaAllah akan ada satu tulisan khusus dalam judul yang lain. Mengingat waktu dirasa sudah terlalu larut, acara wirid dan sholawat pun segera dimulai sekitar pukul sepuluh malam. Hujan yang sudah mulai mereda seolah telah mempersilahkan dulur-dulur yang telah hadir untuk lebih menikmati malam yang telah menanti dengan sapaan-sapaan kerinduannya. Ya, sapaan-sapaan itu tentu saja sudah banyak terngiang bahkan mungkin sudah melekat sehari-harinya di pikiran masing-masing, sebelum akhirnya meraung sacara kolektif di waktu dan tempat yang sama. Bersama-sama dengan orang-orang yang malam ini saling dipertemukan di jalan cinta yang sama.

Kita sebagai manusia selalu memiliki kebiasan untuk mengandalkan strategi dan kebebasannya untuk memilih dengan bekal ilmu yang telah didapati. Manusia seringkali berharap, namun lebih sering mendapat suatu ketidakpuasan karena ketidaksadarannya akan segala ‘pengurusan’. Sedangkan dalam ‘pengurusan’-Nya, bukankah harapan itu sama sekali lenyap? Harapan yang seringkali tercipta karena keinginan bukan kebutuhan. Karena harapan sudah pasti tercipta karena adanya rasa takut, begitupun sebaliknya. Bukankah Dia lebih mengetahui yang kita butuhkan? Sedang kita semestinya terus berupaya dan tidak mudah berputus-asa akan keluasan rahmat-Nya.

Oleh karena itu menjadi pas jika ada kebaruan susunan dari gerbong wirid dan sholawat pada edisi kali ini. Meskipun baru disini tidak lantas berarti belum pernah ada sebelumnya. Yakni kita bersama-sama melantunkan doa Nabi Nuh, “Robbi anzilni munzalan mubarokan wa anta khoirun munzilin”. Pada malam ini secara tidak langsung kita telah melakukan resolusi untuk menyongsong tahun 2021 yang sama sekali asing bagi kita semua, kita memohon untuk selalu diberikan tempat yang penuh keberkahan karena hanya Allah sebaik-baik yang memberi tempat. Lalu, dilanjutkan dengan sebagian bacaan simtudh-dhuror.

Menjelang waktu tengah malam, perjalanan wirid sholawat pun usai. Kita melanjutkan acara dengan membuka diskusi ringan sembari menikmati hidangan yang telah disediakan oleh Mas Arif. Dan membersamai malam dengan batas kemerdekaannya masing-masing sebelum fajar kembali tiba.

Sebening Embun Galeri, 30 Desember 2020