Bagaimana jika bashirah itu seperti bejana yang menampung air layaknya muara ilmu yang dituangkan ke diri kita. Dan apa yang terjadi jika kita tidak merumatnya? Ilmu itu sendiri merupakan alat dan seperti alat pada umumnya akan bermanfaat jika digunakan sebagaimana mestinya. Selain itu, bagaimana jika alat itu hanya dibiarkan saja, tentu akan rusak dan usang seiring berjalannya waktu. Untuk ilmu itu sendiri apabila tidak diamalkan, maka ia akan hilang atau lenyap.

Apa gunanya ilmu jika tidak untuk diamalkan? Oh iya, kalau zaman sekarang ilmu adalah alat yang sangat laris sebagai produk untuk berjualan. Kalau tidak mampu membeli, ya jangan harap untuk mencari ilmu sampai level pendidikan yang diinginkan. Kalaupun ada beasiswa, itu pun tidak mampu menanggung semua peserta didiknya.

Tapi hal ini sesungguhnya bukan masalah mampu atau tidak mampu. Permasalahannya adalah banyak orang yang merasa telah memiliki ijazah ilmu lalu ingin mendapat pengakuan atau penghormatan. Meskipun bentuknya gaji. “Itu karena apa-apa sekarang membutuhkan uang!” Perkataan yang sangat lazim kita dengar ini memang sebuah kenyataan. Namun, apa memang benar sebuah kenyataan atau kesepakatan mayoritas orang? Apakah uang itu lebih penting dari ilmu?

Saya hanya sedikit yakin, manusia yang mengatakan bahwa semua membutuhkan uang adalah sebagian dari mereka yang seharusnya sudah memahami rukun iman atau islam. Kalau memang ia begitu penting, kenapa Tuhan tidak memasukkan konsep ‘uang’ ke salah satu rukun agama kita tersebut. Atau setidaknya ke lagu ‘tombo ati’ yang pasti sudah banyak yang mendengarnya. Mengapa yang keenam tidak di syairkan ‘golek duit sakokehe’?

Terkadang, demi memenuhi nafsu serakah beberapa orang, kehidupan kita menjadi sangat ruwet. Andaikan saja tidak ada kepentingan ini atau itu. Atau lulusan ini dan lulusan itu. Asalkan semua saling menghormati dan ngremboko satu sama yang lain. Apakah kita berfikir kalau orang berilmu yang sejati selalu menampakkan dirinya pada ketinggian?

Rasa heran menyeruak, disaat semua dipersempit tapi mereka malah bangga. Untungnya, negeri ini terlanjur tuma’minah dan lebih banyak yang pasrah. Segala tekanan dan isu tak mampu memecah belah persatuan ini. Ilmu apa yang sebenarnya dimiliki oleh negeri ini. Siapa bilang negara ini berkembang? Disaat mayoritas masyarakatnya sendiri tidak peduli dengan keadaan itu hingga membuat yang berkepentingan bingung sendiri.

Salah seorang pujangga pernah berujar, bahwa suatu saat negeri ini akan menjadi pusat perhatian dunia. Menjadi ruang bagi negara-negara lain. Apa potensi sebenarnya ilmu yang menjadikan Indonesia menjadi kiblat dunia? Keanekaragaman? Persatuan? Kurasa itu juga menjadi hal yang wajar di beberapa negara lain. Kita sendiri pun saat ini terseret arus mengikuti tuntutan hidup seperti orang barat.

Tapi sedikit perbincangan dengan seorang kawan yang hobi main crypto sedikit memberikan jawaban atas potensi besar yang dimiliki oleh negeri ini. Dia berkata jika, esok tahun 2024 akan terjadi krisis moneter yang lebih besar daripada apa yang terjadi di akhir 90’an. Mereka yang menuntut ilmu untuk mencari ‘ilmu’ agar tidak terlalu bersusah payah memelihara tuyul, tapi kenapa mereka resah? Bukankah mereka berilmu? Harusnya tidak usah terlalu khawatir, kan? Tapi lihat kekhawatiran mereka dengan membodoh-bodohkan mereka yang terlihat baik-baik saja.

Puluhan tahun negeri ini merdeka, tapi justru dijajah oleh bangsa sendiri. Mereka yang ada di atas tidak pernah benar-benar memikirkan kesejahteraan, kecuali hanya kemajuan hingar bingar pembangunan. Dengan menjanjikan kehidupan yang lebih baik kepada rakyatnya. Namun justru kesenjangan sosial semakin melebar. Tapi, coba perhatikan. Rakyatnya tetap baik-baik saja dengan segala ketidakjelasan hukum atau berubah-ubahnya aturan yang selalu bergantung kepada siapa yang memegang kuasa.

Meskipun begitu, rakyatnya selalu bisa saja mencari jalan untuk menikmati keadaan. Mengeluh atau sambat itu wajar. Tapi setelah berkumpul main gaple, misalnya, mereka bisa tertawa dan bergembira bersama meskipun keadaan ekonominya sedang kritis.

Mungkin benar, jika suatu saat negeri ini akan mampu menopang dunia dengan ilmu yang tersembunyi yang bahkan rakyatnya sendiri mungkin tidak menyadarinya. Ilmu tentang kasunyatan, mereka setia kepada rukun Islam dan Iman hingga membentu pondasi ketahanan mental yang sangat kokoh. Ujian laksana permata bagi mereka karena semakin memuliakan dirinya. Meskipun itu pun belum disadari juga. Keprihatinan terhadap dirinya sendiri selalu rakyat alami disaat -mereka yang berkuasa- hanya mementingkan golongannya.

Bahkan yang katanya negara hukum ini pun sangat tidak berpihak kepada rakyat-rakyat kecil karena mudah saja dikendarai bagi mereka yang memiliki uang. Bahkan idealisme yang sangat sensitif tentang masalah agama pun sudah dicoba demi merenggangkan ikatan persatuan rakyat ini. Tapi sekali lagi, mereka tumbuh dengan sangat sederhana. Kebiasaan berbagi dengan lingkungan sekitar. Budaya saling memaafkan meski tak sedarah. Tenggang rasa dan toleransi yang telah menjadi inti terhadap perbedaan menjadikan mereka selalu bisa menemukan cara untuk bahagia.

Bisa jadi, karena kebiasaan para nenek moyang kita yang suka bertapa masih mendarah daging di setiap darah para turunannya. Tapi pada zaman sekarang, untuk bertapa tidak perlu ke gua untuk mencari ketenangan. Karena kita tengah berada di tengah keriuhan yang entah menuju kemana. Mereka terbiasa dengan melawan arus atau dengan topo ngrame (menahan diri dari keramaian)-nya mungkin cukup. Uniknya, mereka bukannya sengaja melakukan hal itu, namun lebih ke situasinya yang telah di setting terpojok oleh Sang Pengasih. Akhirnya batas-batas itu mau tak mau mesti mereka tabrak. Toh, tak mungkin juga Tuhan memberikan ujian diluar kapasitas kemampuan suatu golongan/rakyat.

Tapi, berawal dari hal itu. Kini mereka sanggup bertahan di tiap lapis keadaan yang mungkin akan memalingkan dirinya. Hanya saja, ini seperti siklus di lingkungan antar tetangga setelah mengamati beberapa generasi di lingkungan terdekat. Barang siapa umuk (sombong), sudah pasti akan ambruk (jatuh) pada waktunya. Tapi lambat laun, mereka bangun dengan dasar keprihatinannya. Salah satu wujud nyatanya adalah, mereka membiarkan orang lain mencari kehidupan di ladang mereka. Meskipun mereka sendiri hidup dengan apa adanya.

Tanpa adanya bashirah untuk menguak potensi ilmu mengenal diri, tak mungkin mereka atau kita mampu bertahan seperti ini. Kecuali sudah terpecah belah. Kebiasaan budaya ngaji bareng, sholawatan, halal bi-halal, bahkan yasin dan tahlil menjadi senjata yang sangat ampuh untuk merdeka, setidaknya atas dirinya sendiri. Jadi, mungkin potensi negeri ini adalah keprihatinan. Makanya, kalaupun terjadi krisis moneter global. Mereka sudah terbiasa berprihatin sehingga kita tetap baik-baik saja, bahkan bukan tidak mungkin tetap berbahagia.