Puisi Bidadari

Senja telah lama menempel di ufuk langit barat. Adzan Maghrib telah lama berkumandang guna memanggil seluruh komponen alam semesta untuk segera menunduk. Ada yang patuh, ada yang setengah patuh, ada yang sama sekali tidak patuh. Dan aku yang masih setia dengan kerjaku di kantor tetaplah dapat dikatakan tidak patuh.

Bagaimana tidak, di mejaku masih bertumpuk stopmap piutang dari langgananku yang belum masuk di komputer kerjaku. Tanggungan ini memang harus kuselesaikan sebelum besok kembali menumpuk stopmap piutang dari langganan yang berbeda. Ada adzan maupun tidak ada adzan, semuanya tak bisa terselesaikan dalam hitungan percepatan waktu yang berjalan.

Beberapa kali handphoneku menjerit pertanda panggilan, ada yang memerlukanku. Setiap kali akan kuangkat tiba-tiba dimatikan. Dan itu jelas nomer panggilan milik Bidadari, anak perempuanku.

Memang akhir-akhir ini ia selalu protes, dan itu tidak lewat kata-kata. Akan tetapi ia memprotes lewat tingkah laku yang cuek, wajah yang judes dan keceriaan yang tiba-tiba menghilang. Protes ini terjadi karena aku selalu pulang lebih dari jam 21.00 WIB dan ia selalu saja sudah mengantuk dan hampir tertidur.

“Ma, temani Bidadari tidur ya..?” pintanya

“Ya, tapi Mama mandi dulu, oke..?” demikian selalu yang ada di jawabanku.

Tapi selalu saja ketika aku sudah selesai mandi, 45 menit dari waktu transaksi kencanku. Dia sudah tertidur terlebih dahulu.

Kuselimuti ia dalam tidur penantian kasih sayang dan dekapanku.

Itu selalu kupikirkan tapi sekaligus seperti masuk dalam permainan labirin. Ini tidak sederhana untuk diselesaikan. Kerjaku sebagai seorang single parents menjadikanku harus bekerja keras guna menegakkan apa yang harus kucari agar seluruh kehidupanku tidak timpang.

Bel kembali berdering. Aku yang masih berkutat dalam keyboard angka-angka rupiah, segera menghentikannya, tapi ketika kuraih handphoneku, kembali mati. Aku letakkan handphoneku kembali dengan tujuan agar cepat segera menyelesaikan pekerjaanku, pulang, mandi dan tidur. Pulang menuju kenikmatanku sendiri.

Pukul 20.40 akhirnya aku bisa menyelesaikan pekerjaanku. Kuraih gelas plastikku, segera kuambil air putih, meminumnya dan cepat-cepat kuraih tasku untuk terbang pulang dalam kelelahan di badan, kepeningan di kepala dan ketegangan di syaraf bahu dan pinggangku.

Sesampai di rumah yang kulihat lampu rumah tidak menyala. Aku kaget lantas segera membayar ojek cepat-cepat dan lari masuk rumah dalam kepanikan. Kuketuk pintu, tak ada yang menyahut, pintu kelihatan tak terkunci aku masuk.

Kunyalakan lampu ruang tamu, kuperiksa tak ada yang mencurigakan, aku langsung masuk ke kamar Bidadari. Kunyalakan kamarnya dan terlihat di sana Bidadariku sedang tertelungkup dalam isak tangis.

“Ada apa Bid, kok semua lampu tidak kau nyalakan. Dan kenapa engkau menangis..?” tanyaku sambil memeluknya.

Ia meronta dan menolak untuk kupeluk. Memunggungiku. Kemudian ia menyerahkan sesobek kertas. Aku meraihnya dan membacanya. Disitu tertulis puisi yang berbunyi

Kesuksesan

Atas nama kesuksesan berapa banyak cerita pengantar tidur yang hendak kau bisukan?
Atas nama kesuksesan berapa banyak acara makan malam keluarga yang hendak kau tinggalkan?
Atas nama kesuksesan berapa banyak janji yang hendak kau langgar?
Atas nama kesuksesan berapa banyak keharmonisan yang hendak kau buang?
Atas nama kesuksesan berapa banyak pelukan yang hendak kau singkirkan?
Atas nama kesuksesan berapa banyak pertunjukan di sekolahku yang hendak kau lewatkan?
Atas nama kesuksesan berapa banyak ciuman yang kau bekukan?
Atas nama kesuksesan berapa banyak kesempatan kita bersama menyaksikan  keindahan matahari terbenam yang siap saya korbankan..?

 

Selesai kubaca puisi dari anakku, aku termangu. Tak terasa air mataku menetes dalam sesal yang begitu saja menyeruak memenuhi rongga dadaku.

“Maafkan, mamamu Bid..” Kataku dalam pengakuan dosa pada bidadari kecilku yang tak bersayap. Ia yang baru kelas 4 sudah mampu menegurku akan banyak kelalaianku. Kupeluk ia, dan aku guratkan janji di hatinya untuk tidak melewatkan apapun yang dia nilai sebagai sesuatu yang berharga. Itu janjiku yang kutanam dalam hatiku.

oleh : Hernadi Sasmoyo Aji

Tulisan Terkait

Tinggalkan Balasan