Tak keliru orang mengartikan tidak makan dan minum dari waktu Subuh sampai Maghrib. Mbah Nun pernah ngendiko jika mengartikan puasa segitu berarti memang tujuan hidup masih makan dan minum.

Ada yang lebih dalam dari pada itu yakni puasa adalah pengekangan hawa nafsu.

Nah, ini sudah agak lumayan. Tapi ada yang lebih yahud lagi ketika Mbah Nun  menggiring kita untuk membayangkan puasanya Tuhan, bahwa Tuhan pun juga berpuasa. Dimana ketika Dia punya full otoritas lantas tidak berbuat semena-mena. Justru Tuhan mengajari bahwa puasanya itu disertai kekuatan kemaha Rahman Rahim-Nya.

Lantas aplikasinya ke kita apa?

Ya, ketika kita mampu beli HP Apple kita beli Samsung edisi jadul. Ketika kita mampu naik Grab ke pasar kita lebih memilih ngonthel atau motoran.

Nah, lantas kenapa kok kita membela-belain ngampet segitunya?

Tentunya induknya adalah tak terbudaknya kita terhadap hal hal yang berkaitan dengan nafsu pamer, nafsu gengsi, dll.

Lha terus?

Ya paling tidak dengan keterbebasan kita dari budak duniawi ini hidup kita lebih ke kampung akhirat, kampung keabadian, kampung dimana ketakwaan adalah mata uang yang berlaku.

Puasa tinggal sebentar lagi. Mampukah sisa puasa tahun ini bisa kita jadikan pemulusan mudik kita ke kampung keabadian?

Yook, kita sharing pengalaman puasa kita ini, tanpa merasa sedang berlomba kebaikan. Hanya sekedar ngobrol dan sharing melingkar di Panti Asuhan Daruus Sundus Borobudur, Sabtu, 1 Mei 2021 pukul 20.30.