Dalam suasana Ramadhan, dulur-dulur nampak masih antusias untuk duduk dan sinau bareng dalam rutinan Maneges Qudroh ke-123 yang diselenggarakan di Panti Daruus Sundus, Borobudur. Ba’da tarawih, satu per satu dulur mulai berdatangan membawa energi cinta untuk memaknai tema rutinan “Puasa: Menuju ke Kampung Keabadian”. Jadwal dan waktu yang tertera dalam poster hanya menjadi penanda adanya kegiatan, karena khusus dalam bulan ini banyak yang harus ditimbang kembali mengingat ragam aktivitas di lingkungannya masing-masing.

Ketika dulur yang datang dirasa sudah cukup, acara pun segera dimulai sekitar pukul 21.00 dengan pembacaan surah An-Nur oleh Mas Kirun. Lantunan nada yang dibawakan cukup eksotis untuk mendatangkan aura-aura yang positif sebagai pintu acara pada malam ini. Lalu dilanjutkan dengan melakukan wirid dan sholawat Munajat Maiyah bersama-sama, sebagai pondasi dan pengingat kebersamaan kita pada rutinan ini sebagai salah satu upaya untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah dan kekasihNya.

Sekalipun dalam lingkup Maneges Qudroh sendiri dengan aktivitas wirid dan sholawat yang sering dilakukan, namun tak nampak raut kebosanan ataupun kejenuhan dengan perjalanan aktivitas tersebut. Justru yang terlihat kegiatan ini seolah menjadi peristiwa mesditasi tersendiri bagi dulur-dulur yang sering melakukannya bersama. Katarsis-katarsis itu selalu menerangi para pejalan tertentu yang  cahanya terpantul melalui gesture bahasa tubuh ketika bermunajat.

Pak Dadik sebagai peramu mukadimah tema acara, mulai mmeberikan penjelasan terkait bahasan yang akan dijadikan landasan sinau bareng. Beliau menjelaskan bahwa sebagai manusia, tentunya ketika kita berpuasa tidak hanya sekedar menahan makan dan minum saja. Ada hal lain yang perlu ditahan, utamanya terkait dengan hawa nafsu. Menyadur dari buku “Tuhan pun Berpuasa” tentang spektrum rasa yang dipaksa untuk berpuasa, Pak Dadik pun mengajak dulur-dulur yang hadir untuk menggunakan terminologi yang sama dalam memandang makna puasa. Dengan harapan kita mampu selamat dalam kembali pulang ke kampung keabadian.

Kemudian Pak Eko sedikit memberikan respon terkait tema dengan menjelaskan kaitannya dengan surat Al-Baqarah ayat ke-183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” Menurut Pak Eko, tidak hanya puasa, bahkan semua ibadah yang kita lakukan bukan lain hanya untuk menambah kadar ketaqwaan kita terhadap Allah Swt.

Masih menanggapi terkait tema, Pak Sholeh juga mencoba memberikan gambaran penghikmahan puasa melalui induk ikan arwana yang tetap tidak mau makan selama telur-telurnya belum menetas. Dan masih banyak lagi tentunya contoh-contoh laku manusia yang tidak hanya dilakukan oleh manusia. Pak Sholeh menembahi bahwasanya untuk memulai sesuatu perbuatan baik itu mudah, namun untuk menjaganya agar tetap istiqomah itu yang menurut beliau tidak mudah. Seperti halnya dengan goal kita berpuasa untuk menuju fitri, urusannya tidak hanya secara dhohir tapi juga kesiapan hati. Pak Sholeh memungkasi kalau hati kita masih kegondelan hal-hal duniawi, hal tersebut akan menjadi beban yang berat ketika menghadap ke haribaan-Nya.

Puasa untuk Menapaki Puncak Ridlo

Setelah tadi bermunajat cukup lama dan langsung dilanjutkan sesi pertama tadi, lantas digulirkan sebuah hiburan dari Mas munir dengan musikalisasi puisi “Sekuntum Laila”-nya untuk mencairkan suasana yang mulai terlihat serius. Sembari menikmati kopi ataupun jajanan yang sudah tersedia, ataupun dengan menyalakan sebatang rokok dan meresapi sebagian pemikiran yang sudah tertangkap. Semua dulur memiliki cara terbaiknya sendiri untuk menikmati hiburan yang diberikan oleh Mas Munir.

Pak Adi sebagi moderator kemudian langsung mengajak para dulur yang hadir untuk aktif memberikan respon. Bahkan dengan sedikit melakukan strategis, Pak Adi menunjuk wakil dari kelompok yang sudah terbentuk dalam workshop bulan kemarin. Gayung bersambut dan tak perlu menunggu waktu lama, masing-masing perwakilan turut memberikan tanggapan dan pertanyaan yang nantinya bisa diberikan tanggapan oleh narasumber utama pada malam hari ini, yakni Gus Iwan Mujab.

Dari kelompok pelajar, Mas Toing menjelaskan dari apa yang telah dibaca dari buku “Tuhan pun Berpuasa”, bahwa puasa itu menahan diri dan tidak mengambil segala sesuatu yang sudah tersaji dihadapan kita. Andaikata puasa itu merupakan sebuah latihan, lalu kapan ujiannya? Pak Nonang yang merasa dirinya “pernah berkeluarga” mengatakan bahwa dirinya sampai sekarang pun masih merasa sebatas belajar puasa dan tidak akan pernah khatam dengan puasa. Namun, Pak Nonang memiliki harapan bahwa proses belajar puasa terus-menerus ini pasti ada apresiasi atau hasilnya.

Kemudian sebagai wakil dari yang sudah berkeluarga, Mas Kirun mencoba mengaitkan puasa dengan rasa sabar. “Sabar itu kadar olah rasanya sepiro?” tanya Mas Kirun. Karena tentu ada situasi saat bagaimana harus bersikap nuruti dan tidak menuruti. Misalnya ketika memakai kalimat pernyataan dari Mbah Nun, bencilah aku setinggi gunung, maka akan kubalas cinta setinggi langit. Mas Kirun lantas menyimpulkan kalau jangan-jangan sabar sendiri merupakan sebuah laku puasa. Dan untuk meminimalisir mudarat yang diakibatkan, apakah puasa dalam bentuk sabar terdapat toleransinya?

Mas Aam lanjut memberikan tanggapan bahwa di Maneges Qudroh sendiri secara tidak langsung banyak “wong poso”. Sedangkan kita sekarang berada di jaman melampiaskan dan jika dilihat secara seksama tingkat kemaksiatan mungkin sudah berada di puncaknya. Dengan kekuasaan Tuhan, bisa saja Tuhan langsung meluluh-lantahkan segalanya, namun Tuhan pun masih berpuasa. Yang jadi pertanyaan bagi Mas Aam, kuda-kuda batin seperti apa yang mesti kita dibangun sebagai manusia?

Karena dianggap sudah cukup padat, Pak Adi kemudian mempersilahkan Gus Iwan untuk menanggapi respon dan pertanyaan dari dulur-dulur yang sudah hadir. Mulanya beliau menyampaikan bahwa oleh karena terlalu besarnya rahmat Allah Swt, kita sebagai manusia justru merasa hidup di bumi ini tanpa dosa. Memang yang agak bandel itu manusia dibandingkan ciptaan-Nya yang lain. Lantas puasa ini memiliki tujuan utama untuk mengembalikan manusia ke fitrahnya.

Gus Iwan juga mengkonfirmasi kalau keadaan sekarang manusia berada di puncak dosa-dosanya, semua kelakuan ummat terdahulu komplit. Tapi, beliau juga mengajak untuk tidak lupa dengan rasa syukur, misalnya masih bisa merasakan hidup berkumpul ngopi bareng seperti malam ini. Dan keadaan seperti ini merupakan salah satu keberuntungan menjadi ummat Rasul yang tidak didapat oleh ummat terdahulu. Oleh karena itu, Gus Iwan menyampaikan untuk terus-menerus menyampaikan sholawat dan salam kepada Kanjeng Nabi.

Di surga itu gambaran yang banyak dijelaskan dalam Al-Qur’an sisinya tentang kebahagiaan saja. Gus Iwan kemudian menyatakan bahwa keadaan di majelis Maneges Qudroh sendiri layaknya majelis puasa, seperti ketika semua melakukan tasbih dalam rangkaian Munajat Maiyah bersama di awal acara, bisa jadi itu menjadi salah satu alasan tertundanya keinginan gunung dan lautan ngebyuk njenengan. Allah Swt sendiri tidak pernah mengingkari janji-Nya, bahwa tidak akan terjadi kiamat sebelum ummat Islam merasa bahagia. “Kapan waktu itu?” tegas Gus Iwan. “Kelak ketika keluar imam di akhir zaman.” lanjut beliau.

Lalu untuk apa kita ibadah, utamanya puasa kalau bukan untuk menegaskan tentang kesadaran akan mudik. Kembali ke kampung keabadian. Puasa ini menjadi salah satu media manusia untuk mampu mengendalikan tidak hanya sebatas akal, melainkan juga nafsu. Sehingga pada akhirnya menurut Gus Iwan, manusia akan mencapai suatu puncak tertinggi “radli-Allahu anhum wa radlu-anhu” (Allah ridho terhadap mereka dan mereka pun ridho kepada-Nya).

Berlatih Berbagi Kebahagiaan, Bukan Penderitaan

Waktu sudah melebihi tengah malam, beberapa hiburan musik telah disajikan. Ada pula Pak Sholeh dengan puisinya berjudul “Pulang” sempat membuat para penikmat sastra sedikit terpana. Diiringi oleh Mas Piu dengan alat musik khas Pulau Borneo-nya, pembacaan puisi menjadi semakin syahdu memecah keheningan kagum yang menyeruak bisu dulur-dulur yang hadir.

Acara kemudian dilanjutkan dengan jendela respon ataupun pertanyaan.  Melanjutkan satu kelompok yang belum mendapat bagian, Pak Adi mempersilahkan Mas Topan untuk mewakili kelompok pemuda. Dengan mengambil hikmah dari beberapa tulisan Mbah nun, Mas Topan menyampaikan tentang anjuran terkait dengan i’tikaf. I’tikaf sebagai proses ritualisasi dengan berdiam diri, sedangkan dalam diam pun pikiran tetap bersliweran kesana-kemari. Adakah proses i’tikaf itu sendiri dilakukan tidak harus dengan berdiam diri, seperti pada rutinan kali ini bisakah kita juga menerapkan i’tikaf?

Lalu yang kedua, dengan suasana mudik yang dilarang. Bisakah kita menjadikan situasi ini menjadi tahap evolusi diri dalam perjalanan menyambut fitrah. Kalau mulanya Idul Fitri menjadi sebuah keasyikan silaturrahmi. Namun dengan keadaan yang ada, adakah kita mencari keasyikan silaturrahmi itu tidak kepada apa yang ada di luar diri, melainkan terhadap apa yang ada di dalam diri? Misalnya, berlatih mensilaturrahmikan akal dan hati. Sehingga, kita bisa terus memegang kesadaran puasa, mudik, dan fitri ini tidak sebatas pada rentang waktu tertentu saja.

Mas David, seorang tamu dari daerah Tangerang, juga diminta untuk memberikan kesan yang membuatnya sangat menarik. Utamanya dengan sholawat bersama di awal acara yang menurut Mas David sangat luar biasa dan membuatnya bahagia. Mas David kemudia juga menyampaikan keresahannya terhadap situasi zaman yang menurutnya tidak sesuai dengan keyakinan yang Mas David miliki, terutama kaitannya dengan agama.

Menanggapi kedua responden, Gus Iwan menyampaikan bahwa manusia itu memiliki naluri dasar selalu mencari kenyamanan. Jangan sampai ketika ada Corona, kesedihan semakin besar melanda diri. Manusia meski berjuang dan juga mengorbankan waktu seperti pada malam hari ini, untuk lebih mengisi kekosongan waktu dengan cinta. Kegiatan-kegiatan seperti ini menurut Gus Iwan menjadi salah satu cara untuk mengobati hati yang luka dan duka oleh keadaan apapun yang menimpa diri kita masing-masing.

Kalau bisa kita itu selalu melatih diri juga untuk berbagi kebahagiaan, bukan penderitaan. Dengan menyadari keadaan itu, Gus Iwan menegaskan bahwa kesadaran itu menjadikan kita untuk melakukan puasa abadi, yang ditadabburi beliau dengan mengambil sepenggal surat Al-Maidah ayat 54, “adzillatin ‘alal mu’minina” atau yang bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin. Syukur diberikan tambahan karunia dengan lanjutannya agar menjadi manusia yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela.

Berhubung waktu yang tak terasa sudah mencapai pukul 02.00 lebih, dan harus segera mempersiapkan diri untuk melakukan ibadah sahur, maka acara pun mesti segera diakhiri. Lagu “Fatwa Hati” dan “Mimpi yang Paling Nyata” menjadi hiburan pamungkan pada rutinan edisi ke-123 yang dibawakan sangat merdu oleh Mas Wahyu. Selanjutnya doa bersama yang dipimpin oleh Gus Iwan menjadi penutup rangkaian acara. Sampai berjumpa kembali di rutinan bulan depan.

Panti Daruus Sundus, 1 Mei 2021