Tadabbur Selasan | 54

Belum lama sebelum tiba waktu rutinan mingguan wirid dan shalawat Selasan MQ, Mbah Nun menuliskan tajuk dengan judul “Mohon Shadaqah Wirid”. Jujur saja, perasaan ini sangat malu tatkala Mbah Nun memohon bahkan “mengemis” kepada siapapun yang mengaku sebagai Jamaah Maiyah. Seketika dhawuh tersebut serasa mengingatkan bahwa diri masih “tak tahu diri”, tidak pernah bersungguh-sungguh, bahkan masih suka bermalas-malasan apabila mendapat perintah. Apalagi, untuk melakukan inisiasi untuk suatu perubahan.

Mana yang lebih baik? Antara manusia-manusia zaman sekarang yang lupa menghadirkan Allah Swt. dengan manusia-manusia yang ingat dengan kehadiran Allah Swt, akan tetapi dengan sengaja tidak meng-Esakan-Nya. Seolah-olah menomersatukan, saat justru banyak keadaan yang lebih menomersekiankan-Nya. Kita dirundung situasi untuk mencari siapa “dhaluman jahula” itu, mereka, dia, atau justru aku?

Setidaknya ada 9 asma Allah yang diperintahkan untuk menjadi bahan wiridan ketika mendapati kedholiman yang kesemuanya itu memiliki kesamaan ciri sifat Yang Maha Perkasa. Semakin majunya peradaban, bukannya semakin ingat, manusia justru semakin lupa kalau dirinya merupakan makhluk yang lemah. Kita sering tidak sadar kalau kita memiliki limitasi atau batas yang tidak bisa disamakan antara satu dengan yang lainnya. Begitupun dengan kecerdasan, yang justru menjebak diri seolah Allah Swt selalu merasa di pihak kita.

Ruang Selasan sebenarnya bisa menjadi ruang untuk selalu mengukur diri dan ruang proyeksi diri, seberapa tertarikkah kita terhadap maiyah atau ruang kebersamaan yang tercipta atas dasar kesungguhan memegang nilai-nilai maiyah. Tidak hanya Selasan atau Maneges Qudroh, bahkan Maiyah sendiri telah mendapat penegasan “idz dakholna jannatal ma’iyyata qulna MasyaAllah, laa quwwata illa billah.” Bukan bil-anna, bil-antum, bin-naas, atau siapapun kecuali hanya karena Allah Swt.

Dalam kebersamaan, sebenarnya kita diuntungkan karena bisa “saling”, bukannya justru melahirkan rasa “merasa paling”. Tak lupa Mbah Nun juga sempat mengingatkan kenapa kita selalu melafadzkan ihdinash-shiratal mustaqim, itu karena kita masih tersesat atau belum benar, bahkan tidak menutup kemungkinan bahwa kita atau diri ini yang sebenarnya tergolong dalam kaum “dholuman jahula”. Kita juga mesti menimbang dan menghitung ulang dengan kejernihan hati, misalnya kalau terbesit rasa simpati, jangan-jangan itu merupakan suatu kebanggaan karena secara tidak langsung diri ini telah memandang rendah yang lain.

Perjalanan wirid di kediaman Mas Mukti dan Mas Mufid di Dusun Pletukan, Tempuran, pun berlangsung hikmat. Bertambah pula rasa syukur yang telah memperjalankan Selasan ini menapaki putaran ke-54. Dengan penuh kesederhanaan, beberapa sedulur tetap mengupayakan diri untuk terus menjaga majelis “biqalbihi” ini, yakni terus merekonstruksi diri dalam sapaan-sapaan yang terlantun kepada Alllah Swt. dan kekasihNya dalam ruang kebersamaan.

Lantas apa yang terekonstruksi? Dalam bacaan lengkap “Nadi ‘Aliyyan” terdapat satu kalimat yang menjadi jawabannya, “bihaqqi iyyaaka na’budu wa iyya ka nasta’iin”. Terdapat penambahan kata “bihaqqi” di ayat ke-4 bacaan ummul kitab, untuk lebih mempertegas kepada siapa kita selama ini melakukan penyembahan dan memohon pertolongan. Upaya berkali-kali pun belum tentu kita dapat merasakan pemaknaan kalimat tersebut, kecuali dengan kesungguhan dan kerendah-hatian. Karena diri dengan hasratnya selalu merasa telah menunggalkan atau menomersatukan.

Selasan selalu dapat memberikan sesuatu yang tidak tertulis atau tidak terlihat untuk dituliskan dan dinampakkan. Tadabbur tidak lebih merupakan salah satu pemaknaan di antara banyak pemaknaan yang sama sekali tidak ketahui kebenaran yang sejati. Tadabbur merupakan salah satu hasil dari tahadduts bin-Ni’mah atau berbagi kenikmatan untuk dapat dijadikan pengetahuan atau warna baru dalam kebersamaan.

Selasan ke-54 ini juga kembali dibersamai oleh para pilot (penabuh rebana), yang menjadikan suasana makin hidup. Atau juga ada salah satu sedulur yang merespon kehadiran rebana itu mengusik karena telah menjadikannya harus selalu terjaga (biasanya tertidur). Kehikmatan sapaan wirid dan sholawat berlangsung menjelang waktu tengah malam. Setelah usai, kehangatan berikutnya pun tersaji sembari berbagi kebahagiaan dan menanti fajar.

Dusun Pletukan, 16 Desember 2020