Acara Milad Maneges Qudroh yang kesepuluh menurut rencana awal tinggal menyisakan 2 hari lagi atau lebih tepatnya akan diadakan pada tanggal 6 Februari dengan konsep intim/menep, yang berarti akan sangat terbatas. Akan tetapi, tiba-tiba ada aturan dari Gubernur untuk tetap di rumah saja di waktu yang telah diagendakan jauh-jauh hari. Otomatis Maneges Qudroh sendiri mesti adaptatif dengan peraturan dan melakukan banyak perhitungan kembali, sekalipun banyak kerancuan dan keanehan kebijakan dalam pelaksanaan peraturan 2 hari di rumah saja.

Dulur-dulur yang telah berkumpul selain berkumpul rembug teknis dan mekanisme acara esok, di sisi lain mendapatkan momentumnya sendiri, yakni bisa melakukan prosesi Milad Maneges Qudroh secara kecil-kecilan yang waktunya bertepatan setelah jam melewati tengah malam. Dan juga pada malam hari itu, telah kami sediakan proyektor untuk menonton kado istimewa berupa pesan dari Mbah Nun untuk milad Maneges Qudroh ke-10. https://www.youtube.com/watch?v=V_NG5_Yl5wk&t=40s

Dalam keadaan yang serba terbatas seperti sekarang ini, tentu saja pesan video singkat tersebut mampu memberi kesan tersendiri. Salah satunya adalah piweling yang diberikan oleh seorang orang tua kepada anaknya atau oleh seorang kakek kepada anak cucunya di wilayah Magelang. Bagaimana tidak? Piweling ini seolah menjadi sapaan secara langsung setelah sekian lama. Pada masa pandemi, nasihat langsung dari Mbah Nun ini seolah lebih dibutuhkan daripada sebuah perjumpaan nyata.

Setidaknya kami mendapati 2 hal dari piweling yang diberikan oleh Mbah Nun. Awalnya Mbah Nun menegaskan bahwa nantinya segala perkataan beliau jangan dianggap sebagai perkataan dari seorang ulama atau pemimpin, melainkan segala perkataan beliau nantinya merupakan sebuah pesan dari orang tua atau kakek kita bersama. Tentu dengan segudang pengalaman beliau, baik berupa kepahitan atau kebahagiaan, segala perkataan dari beliau pasti pasti akan banyak menyiratkan hikmah yang bisa dijadikan bekal bagi anak cucu untuk menghadapi tantangan zaman, khususnya dalam hal ini bagi Maneges Qudroh.

Pertama, Mbah Nun menyampaikan makna dari Maneges Qudroh itu sendiri. “Maneges itu negeske!” Baik itu dalam konteks Ketuhanan, kenegaraaan, kemasyarakatan, dlsb. “Tidak ada apapun sebelum dimanegesi dan jangan melakukan apa-apa sebelum ditegesi.” pesan Mbah Nun. Sedangkan kata Qudroh itu menurut Mbah Nun merupakan sesuatu yang ditentukan oleh Allah kepada hamba-Nya yang bersifat dinamis. Maka dari itu, dulur-dulur Maneges Qudroh diajak oleh Mbah Nun untuk terus menerus menghitung, mendalami, mempelajari apapun.

Kedua, kami diajak untuk kembali ingat akan diri sebagai orang Jawa dan Islam. Kalau dalam islam ada istilah adz-dzikru wat-taqwa, maka dalam Jawa hal itu dimaknai sebagai konsep ilmu eling lan waspodo. “Ingat supaya waspada, waspada supaya ingat.” tutur Mbah Nun. Dalam arti kami dituntut untuk  mengerahkan kewaspadaan dan rasa waspada itu sendiri tentu mengacu kepada ingatan kami.

Pesan kedua ini mungkin bisa disamakan dengan khasanah ilmu dari Imam Al-Ghazali, kita sebagai seorang manusia dengan segala nikmat amanat-Nya harus memiliki kesadaran akan keutamaan ilmu bahwa menuntut ilmu adalah taqwa. Menyampaikan ilmu adalah ibadah. Mengulang-ulang ilmu adalah dzikir. Mencari ilmu adalah jihad. Hal ini seperti salah satu pesan dari Mbah Nun juga agar kita mesti bisa menyelaraskan dinamika ingatan sebagai bentuk dzikir, sampai spektrum dimana kita dan Allah dalam satu ruangan.

Seperti halnya perasaan rindu kepada Mbah Nun itu sudah pasti, begitu juga yang lainnya pasti juga merasakan hal yang sama. Tapi dalam keadaan seperti ini kita juga mesti banyak belajar menahan diri atas hasrat tersebut. Terlebih, hampir setiap hari Mbah Nun juga telah melakukan banyak upaya untuk menyapa anak cucunya, baik melalui tulisan atau audio visual. Dalam dimensi wadag, tentu kita saling terpisah satu dengan yang lainnya. Namun apabila kita mampu menahan diri, situasi seperti ini mampu menjadi medan latihan menyelaraskan frekuensi dalam satu dimensi ruang batin yang sama, meskipun dalam realita ruang yag berbeda.

Dengan segala keterbatasan ini, kami nampak seperti sedang dilatih untuk sedikit menambah porsi berpuasa baik itu melalui penglihatan, pendengaran, ataupun perkataan yang mengarahkan diri untuk melepaskan segara hasrat diri ataupun kolektif. Seperti yang sedang di-ikhtiarkan pada malam hari ini, semoga antara yang hadir ataupun yang tidak hadir, yang mengetahui ataupun yang tidak mengetahui, yang mengajak ataupun yang tidak diajak. Semua bisa saling ikhlas, ridho bi ridho, dan semakin menegaskan ikatan cinta yang telah 10 tahun ini terjalin.

Acara malam hari itu dipungkasi dengan pembacaan wirid, tarkhim serta kumandang adzan yang begitu merdu, yang dibawakan oleh Mas Munir. Sebagai sebuah wujud penegasan, ataupun ajakan untuk kembali bersama-sama melaksanakan laku ibadah di rumah Maneges Qudroh yang telah dititipkan oleh Mbah Nun.

Magelang, 5 Februari 2020