Persaudaraan fillah, illa wa fi, fi wa li.

g5

Berada tepat di kaki Gunung Tidar yang sejuk dan asri, pagi hari (Rabu, 4/5/2016) sebuah Reuni bertajuk Silaturohim dan Temu kangen Alumni “Abu Sittin” digelar. Abu Sittin yang dimaksud tak lain adalah angkatan ’65-an dari Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor Ponorogo. Acara internal antar alumni tersebut dihadiri beberapa tokoh Nasional diantaranya Bapak Habib Chirzin, Bapak Muzammil Basuni yang merupakan adik dari Menteri Agama Maftuh Basuni, juga tokoh Muhammadiyah Bapak Din Syamsudin. Yang kesemuanya adalah alumni dari Gontor.

Bertempat di Hotel Trio kota Magelang, Forum Temu kangen itu mengundang Cak Nun dan Kiaikanjeng sebagai pengisi acara. Sebagaimana diketahui, Cak Nun sendiri merupakan ‘alumni’ dari Pondok Pesantren Gontor di era 1960-an tersebut. Maka bisa dikatakan acara Silaturohim dan Temu kangen tersebut sekaligus merupakan acara reuni Cak Nun pribadi.

g3

Sekitar pukul sembilan pagi, Cak Nun dan rombongan tiba di lokasi menggunakan Minibus KIA warna hitam. Kehadiran Cak Nun langsung disambut hangat Bapak Muzammil Basuni dan beberapa sesepuh panitia yang sudah menunggu di lobi Hotel. Dan segera saja rombongan Cak Nun dihantar untuk jamuan makan pagi ke lantai atas Lobi. Sementara sebagian Pakdhe-pakdhe Kiaikanjeng yang sejak pagi sudah berada di lokasi bersama crew untuk cek sound, menyusul untuk turut sarapan bersama Cak Nun.

Tak berselang lama, Cak Nun segera menuju Hall tempat acara dilangsungkan. Di sepanjang halaman menuju lokasi, Cak Nun sudah disambut sahabat-sahabat lamanya dengan penuh kemesraan. Dari raut wajah mereka yang berusia rata-rata di atas 60, nampak rona-rona kebahagiaan yang amat dalam. Tergurat di wajah-wajah mereka kedamaian yang seakan sudah jauh dari hiruk-pikuknya dunia.

Beranjak pukul 10.00 WIB, acara telah dibuka Oleh Ustadz Andin. Di awal acara disampaikan bahwa acara tersebut sudah terselenggara untuk kesekian kalinya. Dimana tahun 2005 telah dihelat di Jakarta, dan tahun 2013 lalu di Batu Malang. Dan rencana ke depan, Alumni “Abu Sittin” akan memaksakan diri untuk hadir dalam acara 90 Tahun Pondok Gontor.

Di depan forum sudah ada Habib Chirzin untuk memberi sambutan. Beliau yang asli Magelang mengatakan bahwa apa yang dilakukan Abu Sittin ini adalah wujud teladan dari ketekunan juga kesetiaan. Namun hanya sebentar berbasa-basi, Habib Chirzin yang sewaktu di Gontor adalah kakak kelas Cak Nun segera memasrahkan kepada Cak Nun untuk memandu dan mengisi acara.

Tak ambil pusing, Cak Nun langsung mengutip sebuah hadis tentang Orang-orang yang bersaudara padahal mereka bukan saudara sedarah, wajah mereka bercahaya. “Maka wajah anda-anda itu dicemburui wali-wali Allah karena mahabbah fillah,”ujar Cak Nun. “Al Mutahaabbiina fillah kalau kata Cak Fuad,” lanjut Simbah Ainun Nadjib.

Untuk membangkitkan suasana nostalgia, Cak Nun segera mengundang KH. Hasan Abdullah Sahal untuk maju ke depan memimpin Hymne Pondok Gontor.

Oh Pondokku tempat naung kita
Dari kecil sehingga dewasa
Rasa batin damai dan sentosa
Dilindungi Allah Ta’ala
Oh Pondokku engkau berjasa
Pada ibuku Indonesia

Tiap pagi dan petang
Kita beramai sembahyang
Mangabdi pada Allah Ta’ala
Di dalam qalbu kita
Wahai pondok tempatku
Laksana ibu kandungku
Nan kasih serta sayang padaku
Oh Pondokku..
Ibuku…

Hadirin dibuat larut dalam kenangan masa lalu di Pondok Gontor dulu. Belum cukup di situ, KH. Hasan Abdullah Sahal yang sekarang tak lain adalah penerus tonggak pimpinan Ponpes Darussalam Gontor itu, lansung mengajak hadirin menyayikan lagu Tanah Air Indonesia.

g1

Atmosfer nostalgia yang berhasil dibangun itu membuat Cak Nun sangat yakin, bahwa semua hadirin yang hadir akan selalu bersama meskipun berpisah. “Toh, hidup kita itu memang tidak selamanya. Tapi bukankah Allah akan hidupkan lagi setelah mati. Bahkan mematikan lagi kemudian menghidupkan lagi. Terserah-serah Allah,” imbuh Cak Nun. “Dan kelak di surga itu Kholidina fiha abada. Wis Kholidina fiha (kekal di dalamnya-red) abada meneh.”

Sebelum kemudian Cak Nun meminta KH. Hasan Adullah Sahal memberi komentar-komentarnya, Beliau mencoba membawa hadirin untuk khusyuk sejenak lewat nomor Illahilas. Seluruh hadirin “Abu Sittin” kembali terbawa dalam syahdunya senandung Illahilas.

Dalam komentarnya, KH. Hasan Abdullah Sahal banyak menceritakan masa-masa dulu dimana Cak Nun masih bersinggungan dengannya di pondok. “Dulu hanya Fuad (Cak Fuad Effendi-red) dan Hasan santri sighor (junior) yang boleh ngaji di masjid. Sementara yang lain kibar (senior). Jadi saya adalah teman Fuad. Setelah Fuad lulus, Cak Nun ini baru masuk. Tapi kemudian ketika saya di Madinah, saya dengar Ainun dikeluarkan,” cerita KH. Hasan panjang lebar.

Sampai kelak kemudian dimana KH. Hasan Abdullah Sahal bersua kembali dengan Cak Nun, beliau berujar pada Cak Nun, “Selama antum tidak takut kepada selain Allah dan tidak mencari keridhoan selain kepada Allah, kita berkumpul.” Dan sampai hari ini Cak Nun, Cak Fuad, dan KH. Hasan masih bersahabat dengan sangat baik.

Menanggapi cerita-cerita Nostalgia semacam itu, Cak Nun banyak juga menceritakan kenangan-kenangan lucunya dulu dengan kelakar-kelakar yang membuat hadirin tertawa. Diantaranya dendam dewan guru-dewan gurunya yang apabila kalah sepak bola dengan santri, selalu menyiapkan balasan yang tak terduga. Entah memijiti, menyapu dan lain-lain. Sampai ada istilah Mad’u (sasaran). “Siapa nih Mad’u, Mad’u?” kenang Cak Nun diikuti tawa hadirin.

g4

“Kyai Zar dulu pernah mengatakan, ‘Aku ora ngajari kowe ngaji, tapi aku ngajari alate ngaji’, jadi kita memang disuruh untuk berijtihad,” Cak Nun menambahkan lagi. “Kita juga sedang mengembangkan Tadabbur Qur’an, yang diambil dari ayat afala tadabburunal Qur’an, sebab tafsir itu untuk para mufassir, para ulinnuha yang memang harus punya syarat dan kapasitas terukur,jelas Cak Nun pada KH. Hasan dan hadirin semua. “Sedang untuk orang kebanyakan, cukup dengan menyapa Qur’an saja misalnya, tapi jika outputnya adalah menjadikan dia baik, maka itu cukup,” tandasnya.

Tak terasa waktu beranjak siang, Cak Nun meminta Kiaikanjeng memainkan nomor One More Night, sambung menyambung dengan Cublak-cublak suweng, Gundul-gundul pacul dan Beban kasih asmara. Ada yang menarik, ketika sampai di lagu Beban kasih asmara, Mas Imam fatawi sang vokalis memberi kesempatan kepada KH. Hasan Abdullah Sahal untuk menyanyikan lagu tersebut. Dan bagus. Maka sontak hadirin yang tak tahan mendengar kendang berhentak-hentak langsung ambil pose berjoged. Hingga yang semula seorang, kini diikuti yang lain dengan penuh kegembiraan. Karena kemesraan yang begitu sentimentil, KH. Hasan Abdullah Sahal sampai terharu melihatnya. Cak Nun pun mendekapnya.

g2

Sebagian alumni yang kini sangat banyak ‘jadi orang’ itu belum puas dengan satu dua lagu. Maka Syaikh Tom Badawi tak mau ketinggalan dan mengajak semua karib-karibnya maju ke depan. Dengan tembang Why Do You Love Me-nya Koes Plus, Syaikh Tom Badawi mengajak kembali bermesra-mesra.

Di ujung acara Pak Dawam dipersilakan untuk membacakan puisi tentang Gontor. Selain romantisme Gontor, Pak Dawam juga menyinggung sedikit tentang kondisi bangsa yang mencemaskan dalam puisinya. Cak Nun pun merespon, kita harus pada posisi ‘laa khaufun alaihim walahum yahzanun’, kita tidak mungkin dalam posisi kalah, maupun mengalah pada posisi yang tidak seharusnya. “kalau Allah mengatakan, Inna nahnu nazzalna dzikra wa inna nahnu lahafidzun. Kata Cak Fuad, berdasar tafsir disepakati ad dzikra itu kan Al Qur’an, jadi masak Al Qur’an saja dijaga Allah, masak yang mencintai gak dijaga?” Cak Nun menambahkan lagi.

Kyai Muzammil yang turut hadir disana, juga berkomentar bahwa Gontor itu hebat bisa melahirkan Tokoh-tokoh hebat. Sepeerti Cak Nun yang bisa menembus langit dan bumi dan bisa menggabungkan keduanya. Ketika di Gontor sering mengantar anaknya mondok, Beliau selalu mendengar syair illahilas. Kyai Muzammil berujar, “mungkin itu yang menyebabkan lulusan Gontor bisa hebat-hebat, seperti Cak Nun salah satunya,”

Cak Nun kemudian banyak mengisahkan laku toriqatnya dulu selama di Gontor. Sebut saja salah satunya, bahwa dulu Cak Nun hanya punya satu baju yang hanya dicuci jika hari Jum’at. Atau tidak pernah beli odol dan sabun karena hanya memungut sisa-sisa santri lain yang dibuang.

Merespon tentang pendidikan yang disinggung Kyai Muzammil, Cak Nun menekankan, bahwa Pendidikan itu bukan untuk mencetak bata yang berbentuk sama. Melainkan menumbuhkan setiap zat yang berbeda-beda. “Jadi yang dimasukkan di Gontor itu adalah orang tertentu dengan orientasi tertentu,” jelas Cak Nun.

Cak Nun menutup dengan harapan mudah-mudahan Gontor itu tidak untuk menjadi apapun melainkan pemimpin untuk setiap golongan yang berbeda-beda. Sehingga dengan kepemimpinan Gontor yang berbeda-beda bisa terangkai menjadi satu dan menjadi penyangga Islam dan pencari aplikasi-aplikasi Islam. Semoga Gontor menjadi mujtahidin wa mujahidin wa mub’diin (ahli bid’ah). Jamaah tertawa. “Maksudnya membuat sesuatu yang dulunya belum ada menjadi ada.”

Lagu syukur mengalun khidmat menutup acara Silaturohim dan Temu Kangen siang itu. Kerinduan tidak pernah ada ujungnya. Tidak juga ada akhirnya, karena kelak kita akan masuk Jannatun tajri min tahtihal anharu kholidina fiha abada.

Shollu ‘alan Nabi Muhammad.

Reportase : Maneges Qudroh

 

Tulisan Terkait