Jangan tersindir dulu ketika membaca judul esai ini. Anggap saja yang menulis ini ingin menunjukkan kemandiriannya, keangkuhannya, kepintarannya dengan merumuskan segala hal tanpa dasar-dasar keilmuan yang mumpuni.

Jangan merasa tersaingi oleh sesuatu yang dianggap sebagai kesalahpahaman. Mungkin saja ketika kita mengatakan ‘salah paham’, hal tersebut secara tidak langsung hanya ingin menegaskan maksud bahwa ‘kita tidak salah’. Ternyata, begitu rumitnya untuk mampu mengakui atau mengapresiasi sesuatu yang tidak dapat kita lakukan.

Jangan merasa tidak diperhatikan disaat perhatian begitu banyak tertuju kepada diri kita. Apakah kita hidup hanya untuk mencari perhatian? Atau diri kita yang terlalu banyak menuntut perhatian? Lapar atau doyan?

Apapun yang disangka justru tidak seperti yang dinyana. Sesuatu yang diimani belum tentu seperti apa yang telah dipercayai. Bisa-bisa itu hanyalah acting, atau simulasi sandiwara. Atau justru kita saja yang terjebak oleh bombongan keadaan. Kita sering hati-hati terhadap prasangka, disaat kita juga hobi bermain dengan prasangka.

Jika salah satu dari jajaran pemegang kekuasaan melakukan kesalahan, citra semua ‘pemerintah’ seolah salah, tidak dapat dipercaya, tidak amanah. Sedang kita berdiam diri dirumah dan sekedar membaca informasi yang disediakan oleh warta berita online. Padahal, tugas media berita online tersebut adalah mencari berita yang kontroversial agar menarik dan banyak pembaca yang mampir ke halaman beritanya.

Kesalahpahaman akhirnya sering terjadi, prasangka sudah terlanjur masif. Kebiasaan mencari kambing hitam atas ketidaksesuaian harapan akan keadaan yang menurut kita baik, akan selalu dicari-cari titik kesalahannya. Teringat pesan Mbah Nun mengenai permasalahan utama bangsa ini, bahwa kita lebih suka mencari kesalahan atas apa yang ada di luar diri kita daripada mulai mencari dari dalam diri sendiri.

Masalah yang seharusnya mudah asalkan kita mau bersatu, menjadi berbelit-belit karena krisis kepercayaan golongan satu dengan yang lainnya. Ya, manusia pada dasarnya lebih suka nimbrung di dalam golongan-golongan tertentu terlepas dari formal atau tidaknya golongan tersebut. Asalkan, kehadirannya mendapatkan apresiasi saja itu sudah cukup menjadi proses recruitment yang sederhana.

Lebih tidak adil lagi jika pemegang kuasa a.k.a pemerintah kita baik-baik saja dan ideal dengan angan-angan tentang penguasa. Sangat adil dan sangat bijaksana dalam memegang amanah yang diberikan oleh rakyatnya. Lalu, hidup serasa di Surga karena segala hal terpenuhi. Lantas, apakah keadaan seperti itu yang diinginkan? Kita juga tidak perlu bekerja karena sudah mendapatkan asupan dari pemerintah.

Apabila simulasi keadaan tersebut dibandingkan dengan realita zaman sekarang, lebih banyak di keadaan mana kita dapat mengambil pelajaran? Seadil-adilnya penguasa, toh yang bernama kastsa sosial akan tetap ada, kesenjangan ekonomi, ketidakmerataan tingkat kesejahteraan, dsb. Bahkan, Tuhan Yang Maha Adil pun menciptakan langit dan cahaya berlapis-lapis, dengan surga dan neraka yang bertingkat-tingkat. Tidakkah kita mampu mengambil pelajaran?

Pada akhirnya, kita tidak sadar seperti anak kecil yang merengek-rengek kepada para penguasa yang dideskreditkan dengan para pengendali perekonomian. Entah itu berlandaskan ketidakadilan, ketidakbijaksanaan, kebohongan, konspirasi, atau apapun itu. Kita tak lebih dari generasi yang lebay. Keberanian telah jatuh ke taraf kesembronoan. Kemandirian tak lebih dari sekedar budaya caper atau mencari perhatian.

Kita bisa dikategorikan sebagai generasi lebay, rakyat yang suka caper sedangkan pemegang alat pemerintahan sukanya baper dan tidak memiliki ketegasan. Membela atau melindungi sudah menjadi tugas bagi yang mendapatkan amanah. Generasi lebay hanya terlalu banyak menggantungkan harapan, daripada memilih kemandirian. Sehingga hanya cuitan-cuitan yang keluar atas pembenaran-pembenaran yang subjektif. Tapi karena itu sudah menjadi keyakinan sebuah golongan/kelompok yang menjadi trending topic dan mendapat banyak pembelaan. Akhirnya muncullah sikap kemendel (sok-sokan berani).

Tuhan mungkin saja hanya tersenyum-senyum melihat keadaan ratusan juta jiwa yang bernaung dalam Negara Kesatuan ini. Tidak ada satu jiwa pun yang sanggup luput dari perhatianNya. Ada yang berdiam diri dan menikmati, namun ada juga yang berebut agar supaya suaranya dapat didengarkan. Ada yang bergelora terhadap percepatan perubahan yang dikiranya butuh perubahan atas banyak faktor ketiakadilan, ketidaksejahteraan, ketidakmajuan, dsb. Akan tetapi, disaat ujian akan perubahan itu didatangkan, ternyata belum siap untuk menerima tantangan keadaan.

Ada yang memilih bertapa, bersunyi, ataupun berdiam diri karena untuk mengubah dirinya saja terkadang sudah terasa sangat sulit. Lalu dikira telah kehilangan rasa simpati terhadap keadaan negara, meskipun diam-diam memperhatikan dalam kesunyian, diam-diam membangun tanpa suara, bahkan diam-diam menyadarkan meski tanpa kata-kata.

Solusi berserakan dimana-mana, yang susah adalah menyepakati bersama. Ketuhanan Yang Maha Esa yang seharusnya ada di sila pertama yang seharusnya bisa menjadi keberangkatan nilai dalam menyelesaikan segala masalah. Akhirnya menjadi ruwet sebagai akibat dari entah telah diletakkan dimana sila yang seharusnya menempati tonggak dasar tersebut.

InsyaAllah, salah satu dari kita merupakan bagian dari salah satu oposisi, mungkin saja ia atau kita adalah bagian prasangka dari salah satu di antara baper dan lebay yang kalian pahami. Tentu itu tidak semua, hanya sebagian diantara cendekia yang merasa cendekiawan. Atau diantara para ksatria yang merasa paling berani dan memahami. Atau mungkin juga diantara spiritualis yang merasa dirinya selalu menghamba, memohon hingga merasa hak dibela oleh Tuhannya. Mungkin.

Lantas, akan engkau mulai urai dari mana sesuatu yang telah disangka menjadi sebuah keruwetan tersebut?