Ba’da Isya di ruang depan Pabrik Roti D’Cahayu yang menjadi bagian dari Panti Cahaya Ummat dan Yasaum (Yayasan Satu Ummat), nampak telah rapi dengan tatanan artistik yang berbeda pada umumnya. Tidak ada level panggung ataupun sound system yang besar untuk acara Milad ke-10 Maneges Qudroh yang diselenggarakan di tempat tersebut. Hal ini ternyata berkaitan dengan konsep acara yang dipakai, yakni menep atau intim.

Untuk Milad kali ini, Maneges Qudroh mengangkat tema Sepuh Suluh yang memiliki makna kematangan yang diharapkan mampu mencahayai. Jamaah yang datang pun hanya sebatas undangan yang telah disebarkan, berjumlah sekitar 100-150 orang. Terutama untuk orang-orang yang selama 10 tahun ini telah atau pernah membersamai perjalanan Maneges Qudroh. Harapannya agar di dalam tubuh Maneges Qudroh sendiri lebih saling mengenal sehingga terjalin hubungan yang lebih erat. Sesuai tagline yang dipakai dalam acara ini “Nyawijining Raga lan Rasa Tumekaning Suwargo”.

Tadarrus Surat Al-Hujurat dibawakan oleh Pak Sholeh menandakan rangkaian acara Milad telah dimulai. Alunan suaranya menyambut para tamu undangan yang mulai berdatangan satu per satu. Rona kebahagiaan begitu terpancar dengan senyum yang banyak di obral hampir di setiap sudut tempat acara. Kerinduan seakan terlepas setelah sudah banyak waktu terlewatkan dengan menahan diri untuk tidak banyak melakukan kegiatan maiyahan seperti ini.

Satu dua bait lagu kemudian disuguhkan oleh Mas Sani dan temannya untuk lebih menghidupkan suasana, sebelum Mas Adi sebagai MC sekaligus moderator membuka secara resmi acara Milad Maneges Qudroh. Sedikit sambutan dari Mas Yuli sebagai ketua panitia menambah greget setelah banyak menceritakan prosesi pra-acara Sepuh Suluh, termasuk insiden laka yang terjadi siang hari sebelum acara yang memberkahi beberapa teman panitia.

Mas Yanuar dan Mas Piu juga unjuk aksi dengan memusikalisasi janji suci awal paseduluran Maneges Qudroh dan diteruskan dengan pembacaan puisi dengan judul “Bertuah” oleh Mba Rizky.  Kemudian Mas Virdhian dan Mas Eko, sebagai orang yang ikut merintis Maneges Qudroh hingga terus menemani perjalananannya sampai sekarang banyak menceritakan pengalaman hikmah yang dirasakan. Utamanya menceritakan sejarah awal dan telah dipertemukan dengan banyak orang spesial, yang beberapa di antaranya menjadi tamu undangan yang diundang pada acara ini.

Ijazah Wirid Munajat Maiyah

Pada Milad ke-10 Maneges Qudroh ini dihadiri pula Mas Islamiyanto. Sebagai salah satu vokalis Kiai Kanjeng yang kurang lebih telah 25 tahun membersamai Mbah Nun. Tentunya,  banyak sekali pengalaman yang bisa diceritakan sebagai wujud tahadduts bin-Ni’mah. Di samping itu, alasan menghadirkan Mas Is panggilan akrabnya, utamanya adalah untuk mengkonfirmasi wirid Munajat Maiyah yang selama ini dibacakan bersama pada acara Selasan Maneges Qudroh, sekaligus bisa memandu pembacaan Munajat Maiyah tersebut di tengah acara karena  acara Milad ini bersamaan dengan agenda Selasan biasanya.

Karena begitu banyak sekali potensi sastrawan di lingkungan MQ, maka pembacaan puisi kembali disajikan yang pada kesempatan ini dibacakan oleh Pak Dadik, sembari menanti Mas Is hadir ke depan panggung. Ruangan sudah terpenuhi oleh undangan yang sudah hadir, bahkan sebagian mesti berada di altar pabrik karena kapasitas yang terbatas dan faktor kenyamanan. Varian kudapan ataupun minuman hangat bebas diambil dan dibawa agar perjalanan di acara Milad ke-10 ini terasa lebih nikmat.

Ketika Mas Is sudah di depan, beliau memberi kesan pertama pada acara ini dengan menyampaikan bahwa suasana berduyun-duyun ini seperti sedang merasakan bertemu dengan dulur suwargo. Sebelum memberikan konfirmasi atas wirid yang sering dibawakan di Selasan, Mas Islamiyanto  mencoba mengajukan pertanyaan dahulu kepada dulur-dulur MQ, “Adakah yang mengetahui tahun berapa maiyah terbentuk?”

Jawaban-jawaban yang terlontar pun belum ada yang tepat. Mas Is kemudian bercerita tentang awal mula Maiyah yang tercetus pada tahun 2002. Mas Is begitu mengingatnya karena di tahun berikutnya Kiai Kanjeng bersama Mbah Nun melakukan perjalanan cinta ke Mesir. Pencetusan nama Maiyah sendiri menurut Mas Is disadari atau tidak terpantik oleh ayat innallaha ma’ana (sesungguhnya Allah bersama kita). Kemudian Mbah Nun memimnta saran kepada Cak Fuad, lalu jadilah nama Maiyah.

Dan Wirid Munajat yang dipakai di rutinan wirid dan solawat Selasan MQ merupakan wirid yang juga digunakan di awal-awal maiyah. Pada saat itu, wiridan yang dilakukan oleh Pakdhe-pakdhe Kiai Kanjeng dengan saling bergantian ke rumah-rumah satu dan yang lain, sekaligus sebagai bentuk silaturrahmi. Rutinitas kegiatan itu dilakukan sekitar 3-4 bulan dengan tujuan tak lebih hanya sebatas meminta syafaat dari Kanjeng Nabi.

Melalui wirid tersebut, menurut Mas Is dapat menimbulkan gejolak yang luar biasa pada diri, terutama jika dalam melakukan wirid betul-betul penuh konsentrasi. Dahulu ketika awal maiyah, Kiai Kanjeng tidak ada jadwal sama sekali. Tapi kemungkinan karena niat baik dan keseriusan dalam melakukan upaya wirid, timbullah rasa untuk selalu bersyukur dalam setiap keadaan. Kemudian, Allah memberikan jalan keluar yang terbaik pada saat itu. Min haitsu la yahtasib benar-benar beliau rasakan. Sebagian dari wirid Munajat Maiyah tersebut, juga sudah diijazahkan oleh ibunda Chalimah. Mas Is berharap, semoga laku dulur-dulur Maneges Qudroh di dalam Selasan dapat terus terjaga keistiqomahannya.

Resepsi Ikatan Paseduluran

Sebelum masuk ke dalam sesi bermunajat bersama, moderator meminta para pilot (penabuh rebana) untuk mempersiapkan diri. Mas Is yang dalam sesi bermunajat diminta untuk menjadi rois, juga memohon kepada dulur-dulur semua untuk mempersiapkan diri dan batinnya dengan baik.

Cahaya penerangan sedikit diredupkan hingga suasana menjadi remang. Perjalanan wirid Munajat dimulai dengan khusyuk dan hikmat. Terlebih dibawakan oleh Mas Islamiyanto, tentu sangat kental dengan suara-suara yang identik saat maiyahan. Apabila biasanya di Selasan hanya 30-50 orang, namun dalam acara Milad ini terjadi kuantitas yang berbeda. Semoga saja mampu menjadi kekuatan dan mendapati kualitas munajat yang “masyaAllah la quwwata illa billah”, sehingga kedepannya mampu menjadi tonggak laku kehidupan sehari-hari.

Pembacaan wirid ini memang sengaja dibawakan seolah menandai bentuk resepsi ikatan untuk lebih meneguhkan rasa paseduluran, khususnya bagi tubuh Manges Qudroh. Lebih mengikat tak hanya raga, namun juga rasa untuk bersama-sama menjalankan ibadah dalam amanat kehidupan yang sedang diberikan oleh Allah Swt.

Setelah prosesi Munajat, dulur-dulur diberikan suguhan puisi kembali, kali ini oleh Pak Sholeh yang diiringi musik oleh Mas Sigit dan Mas Budi. Puisi dari Pak Sholeh lebih banyak menggambarkan tentang penghambaan diri kepada Allah dan Kanjeng Nabi.

Pemotongan tumpeng sebagai simbol acara Milad juga tak dilewatkan. Penyerahan potongan tumpeng diawali oleh ketua panitia untuk diberikan kepada Mas Is, sampai yang pemotongan terakhir dari generasi awal kepada generasi yang paling akhir  Maneges Qudroh. Tentu penyerahan tersebut menjadi simbol penyerahan tonggak asa perjuangan yang diharapkan mampu terus bergulir di rakaat panjang yang sedang dijalankan dalam maiyah.

Tidak Berebut Benar, Tidak Juga Berebut Salah

Seperti biasa dalam forum maiyah pada umumnya, sesi tanya jawab digulirkan agar kita dapat sinau bareng. Setidaknya ada 2 pertanyaan menarik yang jawabannya dijelaskan banyak dan detail oleh Mas Is. Pertanyaan pertama dari Mas Munir, beliau adalah orang yang biasanya menjadi rois dalam pembacaan Munajat Maiyah di Selasan. Dengan sedikit menjabarkan gambaran keadaan zaman yang semakin carut marut, Mas Munir bertanya, “bagaimana kita memberikan sikap dalam keadaan seperti ini?” Dan yang kedua dari Mas Tege yang menanyakan tentang bagaimana cara kita meminta permintaan maaf kepada Allah Swt? Mas Tege yang kesehariannya menjadi bagian dari tim SAR juga menanyakan, apakah dengan permohonan maaf tersebut bisa menjamin keselamatan kita?

Jawaban pertama diberikan oleh Mas Is dengan menggunakan istilah jawa “njembleng serendheng, getun setahun.” Hal ini tidak lepas dengan kondisi zaman yang carut marut akibat banjir informasi yang tidak diimbangi dengan keseimbangan receiver penerima informasi, sehingga berpotensi menghanyutkan bahkan menenggelamkan penerima informasi.

Mas Is kemudian menyampaikan ayat ke-6 Al-Hujarat “fa tabayyanu an tuṣibụ qaumam bijahalatin (maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya)”. Ayat tersebut akhir-akhir ini juga sering disampaikan oleh Mbah Nun melihat benturan yang banyak terjadi. Mas Is menyampaikan bahwa kalau mendapatkan informasi apapun, segera tabayyunkan terlebih dahulu.

Koyo-koyo kumpul, tapi ning njero atine saling mengincar untuk menghancurkan, untuk saling menjatuhkan.” kata Mas Is menggambarkan keadaan yang nampaknya umum terjadi. Mas Is memberikan nasihat bahwa kalau ada apa-apa, musyawarahkan terlebih dahulu. Karena jika tidak ada syura bainahum nantinya akan berpotensi menimbulkan benturan. Utamanya bagi lingkungan keluarga Maneges Qudroh, “ketika yang kamu tinggalkan sejarah yang baik, putune akan bangga dengan sejarah itu”, pesan Mas Is.

Melalui Maneges Qudroh ini, Mas Is berharap kita mampu meninggalkan sejarah cinta yang baik karena hal tersebut akan dinikmati oleh anak cucu kita. Tidak berebut benar, tidak pula berebut salah. Saling mempunyai hati yang sama untuk saling menyapa. Maka akan terbentuk hubungan erat paseduluran yang luar biasa.

Mas Is kemudian ingat obrolan yang pernah dilakukan bersama Mbah Nun, di dalam obrolan tersebut Mbah Nun menyampaikan bahwa rusaknya dunia itu salah satunya karena semua saling berebut panggung. Itu yang membuat rusak. Kemudian Mas Is melanjutkan dengan menceritakan harapan Mbah Nun kepada anak cucu Maiyah, bahwasanya beliau tidak memiliki harapan apa-apa, maiyah itu kepunyaan Gusti Allah. Kalaupun ada, harapan beliau hanya rukun. Yang disayangkan oleh Mbah Nun menurut Mas Is, jamaah maiyah itu pintar-pintar tapi memiliki kebiasaan yang berkebalikan dengan adab orang Jawa.

Pada saat itu Mas Is kemudian bertanya kepada Mbah Nun, “Lha, sing kirang niku nopo?

Lakune.” jawab Mbah Nun.

Kebaikan Tidak Lepas Membuat Diri Lepas dari Ujian

Menjawab pertanyaan yang kedua, Mas Is memberikan pernyataan awal bahwa manusia itu kadang-kadang absurd. Mas Is mencoba menceritakan apa yang sudah disampaikan Mbah Nun dalam tulisan Kebon 70 berjudul “Ilmu Waktu”. Hal ini dijelaskan oleh Mas Is sebagai bentuk protesnya 4 unsur alam, yaitu air, api, angin, dan tanah.

Mas Is kemudian mengajak dulur-dulur yang hadir melihat keabsurdan manusia dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana. Andaikata pada bulan Maret-April besok tidak terjadi apa-apa, banyak dari kita pasti beranggapan “Nah kan, tidak terjadi apa-apa!” Mas Is kemudian menyampaikan bahwa manusia memiliki kecenderungan tidak pede terhadap hatinya sendiri. Padahal, apakah Gusti Allah pernah tidak serius?

Kaitannya dengan selamat atau tidaknya kita apabila terjadi sesuatu yang besar, Mas Is mengambil surat Al-Maidah ayat 54 dan meminta Mas Virdhian untuk membacakannya, kemudian ditadabburi bersama. Pada kalimat pertama ayat tersebut, pernahkah kita membedakan sapaan antara “hai” dan “wahai”. Lalu, Mas Is mencoba mengajak sapaan mana yang dirasa lebih dekat? Orang-orang beriman itu dipanggil dari jarak yang dekat atau jauh?

Tapi orang-orang yang beriman, pada akhirnya akan mencari dan terus mencari. Karena dalam kalimat berikutnya Allah memberikan peringatan kepada orang-orang beriman itu sendiri “barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya”. Menanggapi tadabbur tersebut, Mas Is kemudian melontarkan pertanyaan, “murtad apakah selalu keluar dari agama?” Dan berikutnya dijelaskan dua ciri yang semoga di lingkungan Maneges Qudroh ini, kita termasuk bagian daripadanya, yakni orang yang saling mencintai karna Allah dan yang bersikap lemah lembut.

Menurut Mas Is, kemampuan kita untuk menjustifikasi selamat atau tidaknya dibatasi atau dinilai dengan mata wadag “masih hidup”, itu juga kurang tepat. Karena Mas Is ketika banyak berdiskusi dengan Mbah Nun mendapati kata tumbal bagi yang mati di situasi pandemi ini. Bagaimana respon kita ketika mendengar kata tumbal? Baik atau jelek? Karena tumbal itu menurut cerita Mas Is yang didapat dari Mbah Nun merupakan sesuatu yang baik. Dengan kata lain yang menjadi tumbal telah menyelamatkan orang lain.

Contoh lain pengguanaan kata almarhum yang identik dengan orang yang mati. Padahal almarhum sendiri memiliki makna orang yang dikasihi, jadi jangan terus dihubungkan oleh mati. Hal ini nampak begitu absurd-nya, banyak dari manusia itu sendiri belum siap menjadi manusia. “Dereng katam dadi manungso,” kata Mas Is.

Terkait permintaan maaf, Mas Is mencoba memulai dengan mengingatkan kembali tentang “Yaa ayatuhannafsul muthmainnah”, dan muthmainnah itu sendiri menurut Mas Is bukan ketenangan, melainkan merdeka. Kalau kita memiliki kemerdekaan diri sehingga mengetahui dan memahami batas, maka harapannya kita tidak berpikir tentang diterima atau tidaknya permintaan maaf kita. Akan tetapi, dengan kemerdekaan kita akan selalu cepat-cepatan memohon maaf kepada Allah, terlepas dari segala pemikiran baik atau salah. Bahkan terlepas dari kesadaran bentuk ruang ataupun waktu. Seperti dalam dzikir setelah ibadah, selalu diutamakan untuk melafadzkan istighfar.

Dan keutamaan ini disampaikan oleh Mas Is dengan mengambil surat Al-Imron ayat 133, “Dan bersegeralah kamu memohon atas ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”

Orang berbuat baik itu selalu mendapatkan ujian terus. Mas Is menganalogikan keadaaan orang baik itu seperti sebuah paku yang terus-menerus mendapat pukulan agar berfungsi sebagaimana mestinya. Sedangkan selama hidup, kita memiliki limitasi untuk mengetahui kapan pukulan itu berhenti. Bahkan, Mas Is menggambarkan seorang Mbah Nun pun belum berhenti mendapati itu, apalagi kita?

Mas Islamiyanto menjelaskan dengan penuh kerendah-hatian bahwa apa yang sudah disampaikannya sedari tadi kalau itu salah, itu merupakan dirinya. Kalau benar, itu semua merupakan ilmuanya Gusti Allah.

Kado Spesial dari Mas Islamiyanto

Tak lupa dalam rangka acara milad Maneges Qudroh ke-10, Mas Is juga memberikan kado spesial untuk MQ dengan menuliskan sebuah lagu yang baru dibuat oleh beliau pada saat di transit. Lagu itu kemudian dibawakan bersama-sama dengan irama lagu keroncong oleh Mas Sigit, Mas Yanuar, Mas Budi, dan Mas Agil.

Ayo konco podo kumpul suko-suko
Kumpul bareng ana majlis kang minulyo
Mugo-mugo dadi sarono kang nyoto
Maneges Qudroh kang dadi padhang jiwo

Nemu jaman sing lagi ora karuan
Saben dino sing dipikir mung kadonyan
Rodo eling yen Gusti nduduhke dalan
Rino wengi ndoyo kang dadi uberan

Gusti Allah mugi paring kekiyatan
Maring kito ingkang tasih gegondelan
Gusti Allah mugi paring keslametan
Saking zaman kang kebak godane setan

Terakhir sebagai pungkasan, Mas Adi sebagai moderator meminta harapan dari Mas Islamiyanto terhadap Maneges Qudroh. Mas Is kemudian menyampaikan bahwa tolong jadikan Maneges Qudroh sebagai tinggalan kebaikan bagi hidup kita kelak, jangan hanya sampai angka 10. “Ojo bosen dadi wong apik, ora pinter ora popo”, pungkas Mas Is.

Acara pun ditutup dengan melafadzkan bersama “Shohibu Baiti” dalam nuansa temaram. Lalu, diantara semua yang hadir saling bersalaman dan berpelukan satu dengan yang lainnya sambil bersholawat bersama. Rona haru dan sendu pun memancar sebagai bentuk ketulusan dalam ikatan paseduluran. Semoga kebersamaan ini dapat terjaga hingga kelak sampai dipertemukan kembali di surga.

Panti Cahaya Ummat, 16 Februari 2021