Nyaponi Pamrih Rame Ing Gawe

Adalah gotong royong, prigel, ulet, tapi semeleh
konon merupakan tipikal masyarakat Indonesia pada umumnya. Namun seiring hadirnya keyakinan bernama materialisme yang merupakan software Kapitalisme Global, agaknya lambat laun karakter manusia macam itu mulai kikis juga oleh ukuran-ukuran kebendaan. Bekerja pun tak lagi dilandasi niat karena sebuah kewajiban sebagai Khalifah. Melainkan pamrih terhadap sebuah tujuan yang terkadang bukan sesuatu yang menjadi kebutuhannya.

Terlebih jika menakar apa yang terjadi belakangan. Demikian riuhnya perang argumen dan opini baik di dunia nyata maupun dunia maya. Padahal apa yang diperdebatkanpun sering tidak berimbang dengan kompetensi masing-masing. Disadari atau tidak, alih-alih bangunan yang kita susun, kita justru sedang membawa diri kita pada hal-hal yang kontraproduktif. Hingga bukan solusi yang didapati, melainkan persoalan yang kian mbulet.

Sebut saja PURWANTO, seorang pemuda asal Keprekan, Bojong, Mungkid, Magelang. Di tengah era kekinian yang terlalu banyak dipenuhi wacana-wacana saat ini, dia termasuk salah satu contoh orang yang beruntung selamat dari penyakit manusia modern yang bernama kemalasan. Instanly. Dengan kesadaran penuh, hari-harinya selalu diisi dengan kreatifitas tanpa banyak omong. Memproduksi sapu, berkesenian, gugur gunung dan berbagai aktifitas
lainnya selalu dilakoninya dengan semangat.

Maneges Qudroh yang sedang mengembara mencoba bersilaturahmi pada putaran Maret ini
di Dusun Keprekan, Bojong, Mungkid, Magelang. Sebuah sentra industri sapu rayung yang sudah terbukti kualitasnya. Tidak lain untuk sinau bareng, menelisik lebih jauh nilai-nilai kerja keras, guyub rukun dan sebagainya dalam tema “Nyaponi Pamrih, Rame Ing Gawe”.

Bersama Tokoh masyarakat setempat dan berbagai kalangan, monggo kerso pinarak!. Tikar yang sudah digelar, kopi yang akan tersaji, juga musik yang siap menemani jangan disia-siakan. Sabtu, 4 Maret 2017 mendatang, kami tunggu kehadiran sedulur-sedulur semua untuk Lungguh bareng, rembug bareng. Entuk ngelmu, entuk sedulur.

 

Tulisan Terkait