Num(e)rapi Borobudur

Mengenali, mempelajari, mentadabburi masa silam tak lain merupakan hal penting dan teramat mendasar untuk mengerti bagaimana langkah yang harus dilalui di hari depan. 2016, Tahun Pusaka, Tahun ijtihad Maneges Qudroh untuk nguri-uri, ngangsu kawruh pada sesepuh maupun peninggalannya di tlatah Magelang. Apalagi Magelang merupakan wilayah tertua dari Pulau Jawa atau bahkan Nusantara.

“Numrapi” ialah upaya mengenali, mengapresiasi dan mencintai lebih mendalam, lebih meluas dan mengkhusyuki ekspresi-ekspresi peradaban, agar lebih memiliki kasih sayang dan ilmu untuk bersimpati kepada kehidupan dan memberi empati kepada penghuni kehidupan. Seribu tahun yang lalu Gunung Merapi mendekap Candi Borobudur, menyembunyikan di dalam pelukan debunya, sampai 8 abad kemudian ummat manusia menemukan persembunyian Borobudur. Dan setelah 202 tahun ditemukannya, terdapat rahasia apakah sehingga Tuhan masih memperkenankan Borobudur hari ini berdiri megah diantara Gunung-gunung yang mengitarinya? Maka tumrape tiyang Magelang untuk ngonceki, nylulubi, dan menyikapi dengan arif hikmah daripadanya.

Simbah Guru, Muhammad Ainun Nadjib pernah memaparkan bahwa semua orang suci dari masa silam berkumpul di daerah ini sampai ke selatan, Gunung Merapi sampai pada Segoro Kidul. Dan 2014 lalu Beliau juga mengingatkan, Borobudur adalah salah satu pusaka utama Nusantara.  Yang membuat dunia menyadari bahwa bangsa yang bisa membangun Pusaka Utama sedahsyat itu adalah Bangsa satria. Pusaka adalah suatu benda, peristiwa atau nilai-nilai, yang sudah menyatu dan menjadi bagian sakral dari jiwa kehidupan manusia, karena keterikatan sejarahnya atau karena fungsi dan makna kualitatifnya. Ia berposisi sangat mendalam, bermakna sangat meluas, bersifat abadi dan tidak boleh tidak ada. Maka, Jiwa tanpa pusaka adalah kematian dalam kehidupan. Kalau diparalelkan dalam Pengetahuan Agama Islam umpamanya, tidak ada Syariat yang hidup tanpa Hakikat, tetapi bisa ada Hakekat yang tanpa Syariat.

Beliau sangat mewanti-wanti untuk selalu eling dan waspodo. Kembali mengingat dan menyadari bahwa bangsanya, sungguh-sungguh jangan sampai kehilangan pusaka secara total. Sebab, Bangsa ini menjalani hidup tanpa ‘orang tua‘, sejarah tanpa sesepuh, pemerintahannya tanpa Negarawan, Kepemimpinannya tanpa Begawan. Sehingga diharapkan kesadaran akan sangkan paran memantik kembali hal-hal yang sudah dianggap ‘biasa‘, tak istimewa, kuno, ketinggalan zaman atau bahkan mungkin lupa akan adanya pusaka yang teramat berharga disekeliling kita tersebut.

Akhirnya, setelah bermusyawarah dengan Sang penjaga alam beserta seperangkat ubo rampenya panitia menggelar alas duduk jamaah seusai Magrib. Tak disangka hujan deras yang mengguyur sejak siang akhirnya mengizinkan malam minggu itu menjadi syahdu bagi masyarakat Maiyah Magelang untuk lungguh bareng, rembug bareng, golek ilmu, nambah sedulur di pelataran Ginton Laundry, Jumbleng, Tamanagung, Muntilan.

header

Foto: Maneges Qudroh

Majlis ilmu dan Paseduluran Maiyah Maneges Qudroh kali ini dihelat pada Sabtu, 2 April 2016, dibersamai oleh Tokoh Fisikawan muda Nusantara, Mas Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto), Presiden komunitas Lima Gunung, Pak Tanto Mendut, juga grup musik Jodho Kemilnya Mas Sigit dan kawan-kawan.

Pukul 20.00 WIB, tanah masih basah. Genteng Omah Maiyah Magelang juga belum kering. Dalam kesaksian malaikat, berduyun-duyun sedulur-sedulur Maiyah mulai berdatangan ke lokasi. Saling menyapa dalam jalinan silaturahmi. Di tengah hawa dingin tlatah Magelang yang dikelilingi gunung-gunung dan perbukitan,  sayup-sayup terdengar suara Mas Fani nderes ayat-ayat Al-Qur’an. Menghantarkan hadirin untuk segera nyelulup bareng, agar aura positif  menyelimuti putaran ke empat minggu pertama itu.

Dihibur tembang perdana lir-ilir ‘Jodhokemil’. Sebuah versi dengan aransemen yang khas menggelitik telinga. Tidak pakem tapi asyik. Hingga satu tembang saja tak cukup untuk menjenakkan. Tabuh menunjukkan 08.45 WIB. Sedulur maneges dari berbagai sudut Magelang disapa Verdian. Di sesi awal, beberapa sedulur maneges di daulat untuk naik panggung. Menyapa, mengenalkan diri, bertestimoni tentang Maneges Qudroh. Secara umum tersirat kegelisahan akan pergolakan sosial disekitarnya. Persamaan persepsi untuk selalu open minded. Pengajian yang penuh kesederhanaan, out of the box tapi asyik dan seterusnya.

Dalang Sih Agung P dari komunitas ‘LIMA GUNUNG’, yang ikut hadir malam itu dengan wayang serangganya mempraktekkan pakem wayang kontemporer. Membangun pemahaman audiens dengan lakon ‘Tengu yang bijaksana’. Beberapa penokohan serangga seperti tengu, semprang, rayap, juga semut rangrang dengan pituturnya, menggoyang putaran MQ kali ini dengan jenaka penuh makna. Dengan kelakar khasnya, Dalang Sih mencoba mengajak jamaah kembali ke masa silam ke suasana desa-desa di jaman Candi Borobudur didirikan.

Lantas bagaimana Merapi dan Borobudur dapat dikaitkan? Kira kira ?Merapi dan Borobudur lebih awal mana? Relevankah jika kita mengaktualkan makna dari 2 atau 3 relief yang ada pada jaman sekarang ini? Persepsi mulai menjejali pikiran sedulur malam itu. Mas Sabrang yang sudah di panggung, diminta saudari Nafis untuk memaparkan bagaimana menyikapi kebenaran sejarah yang ada sebagai landasan untuk mendapatkan kebenaran yang lengkap?

Menanggapi pertanyaan dulur Nafis, Mas Sabrang memaparkan, “Cobalah untuk membangun sebuah model cerita yang paling konsisten dengan peninggalan peninggalannya. Bisa menggali dari fakta. Mencoba saling mengaitkan. Narasi tersebut terbangun indah tidak? Terkait secara logika apa tidak? Apabila kita kurang 1 fakta saja yang tidak tercatat, akan merubah sebuah narasi itu. Dari situ sudut pandang yang berbeda akan membentuk derajat kebenarannya sendiri. Kita tidak boleh alergi jika sejarah itu berubah. Karena kita hanya mengikuti breadcramp atau remahan roti. Maka ikuti saja. Apapun model ceritanya. Benar tidaknya itu akan menjadi ilmu yang berharga.”

Pak Tanto pun turut bertukar pemikiran. “Untuk belajar sejarah kita jangan hanya mendengar dari Sartono yang begawan dari Jogja, atau Notosusanto, Profesor lulusan Sorbonne. Karena sejarahnya hitam putih dan tekstual, tidak berwarna seperti sekarang. Ada youtube. Sejarah itu terkait Sartono, Napoleon bahkan generasi muda sekarang seperti Sabrang ini. Bahkan saya yakin dengan sumbangan digital sekarang ini, maiyah ini akan lebih matang ketimbang perayaan-perayaan hari jadi kota Magelang, misalnya,”

“Pemberontakan intelektual itu sah sah saja. Anda juga harus siap untuk diberontak oleh anakmu. Karena rentang usia yang berbeda akan melihat  sejarah dengan bentuk berbeda. Pengalaman karena usia tidak bisa menjamin. Tekhnologi semakin maju. Pola pendekatan menjadi baru. Kita tidak perlu menyalahkan siapa saja. Kita wajib menghormati leluhur kita dengan mempelajarinya, dengan konteks yang berjalan sesuai jamannya. Belajarlah bijaksana mengamati hal yang tidak sesuai dengan egoisme persepsimu,” lanjut Pak Tanto panjang lebar. Pak tanto berapresiasi dengan generasi mas sabrang ini suatu saat pasti memetik buah pemikiran sebab kegelisahannya. Dan berharap putaran selanjutnya dapat membongkar mengenai mataram islam. Itu sejarah yang menarik. Sejarah itu ada imajinernya. Kita juga harus belajar. Bagaimana menjaga cagar budaya di luar negeri. Merawat situs peninggalan menjadi sesuatu yang eksotis.

manegesq

Foto : Maneges Qudroh


Menurunkan tensi tema pembicaraan, Jodho Kemil mencelupkan telinga-telinga sedulur bersama tembang ‘geli’ dan ‘opo kuwi’. Pukul 00.03 WIB sedulur maneges masih setia guyub. Tak beranjak dari arena jumbleng malam itu yang berawan.

Selanjutnya, sesi tanya jawab diberikan pada Jamaah. Seorang jamaah bertanya sebagai anak muda yang gagap sejarah, dan hanya mencari melalui googling dan sebagainya. Bagaimana kita belajar sejarah  secara ilmiah dari kearifan lokal. Bagaimana tekniknya?

“Google adalah sesuatu keniscayaan yang harus anda alami. Dan itu menguntungkan anda. Anda tidak perlu ke perpustakaan. Tapi bahayanya Anda menjadi jagoan-jagoan dengan status-status di facebook. Beda dengan Hidayatullah, Wali dulu yang harus keliling-keliling. Akan tetapi bisa matang oleh proses waktu. Surplus perlu Anda waspadai!” Jawab Pak Tanto terhadap pertanyaan jamaah.

Sementara Mas Sabrang merespon dari pertanyaan tentang cara berfikir terhadap informasi, “Sebelum informasi pasti ada sumber informasi. Jika ada 5 sumber informasi yang berbeda  sudut pandangnya. Langkah selanjutnya kita harus menambah informasi mengenai hal tersebut. Untuk meyakinkan derajat kebenaran menurut kita sendiri. Sampai pertanyaan kita terjawab tentang fakta itu. Konsistensi sumber dan kreativitas kita menggali. Pintarnya kita bertanya,menghimpun seberapa detil kita menggelitik tanya. Informasi itu bukan seperti mengumpulkan kayu dalam gudang. Namun menyimpan kayu dengan bentuk yang berguna untuk membangun sebuah kontruksi. Kunci nya jangan mudah putus asa,” tandasnya.

“Jika kita belum jelas mengenai sebuah jawaban. Kita coba tarik mundur, ada pertanyaan yang selip menurut kita. Jangan pasrah jika ada 2 pendapat yang berbeda. Tetap perbanyak sumber.” Sedang untuk pertanyaan terkait hubungan dengan Borobudur, Mas Sabrang menjawab bahwa orang yang belum menyambungkan apapun dengan qur’an. Itu bukan salah qur’an. Namun kembali kepada orangnya.

Berkaitan pendidikan, mendidik anak itu bukan masalah benar dan salah. Cenderung ke dalam pembangkitan pemahaman. Pemahaman sebab akibat, maka dia paham konsekuensi. Penyampaian kita apabila menerangkan sesuatu. Bukan memberikan sesuatu kebenaran tunggal. Harus diikutkan sumber pengetahuan menurut versinya. Tubuhnya tidak diselimuti kesalahan tunggal. Sehingga perkembangan anak tersebut dapat merangsang mencari kebenaran menurut versi2 yang lain.

Ilmiah menurut Pak Tanto, banyak versinya. “Pengakuan sejarah bukan karena teman baik, bukan karena politik. Menafsirkan itu berkembang terus. Perspektif rahmatan lil alamin. Alam terkait dengan al qur’an? Borobudur ada kaitannya dengan alam tidak? Kita boleh jadi islam hebat atau islam ‘pekok’. Berani salah satu dari sedulur maneges mengklaim dirinya islam hebat? Marilah selalu menggali lebih dalam lagi potensi sekitar maneges. Kita harus punya inspirasi untuk membuat informasi. Apa sah nya seni menurut khalayak dewan kesenian? jangan melihat bajunya. Tapi manfaat rahmatan lil alamin. Harapan Pak Tanto sedulur manages bahagia cara menyikapi gejolak sosial, sejarah dan apa pun itu. Sabar dan rendah hati tentunya. Disyukurilah, ini kita pendekatan sederhana,” Tambah Pak Tanto memungkasi acara.

Vocal mas Sabrang feat jodo kemil dengan keroncong ‘Sebelum Cahaya’ menambah kedekatan dan kemesraan sedulur sedulur maneges qudroh. Kematangan harmonisasi musik Jodho Kemil oleh mas Sabrang mewarnai situasi panggung. Disambung rekaman off the record alm. Gus Dur nembang suluk diiringi musik symphoni/ busas dr Amerika Latin dari Pak Tanto, malam itu menjadi kemesraan yang tidak pasti terulang untuk waktu yang dekat.

Acara ditutup dengan ‘Indal Qiyam. Jamaah saling bersalaman melingkar. Tak terasa waktu menunjukkan pukul 02.00 WIB. Cahaya memantul dari langit menyusup ke ubun-ubun. Melesatkan energi cinta yang baru, sebagai kekuatan baru menghadapi esok hari.

Redaksi : Bond/Maneges Qudroh

Tulisan Terkait