Kita sering tidak sadar bahwa untuk mengalami sebuah progresivitas, kita dituntut untuk menemukan sebuah masalah. Dengan kata lain, kita tidak akan mengalami perubahan tanpa melalui sebuah ujian. Bisa jadi, keberadaan ruang bersama ini merupakan sebuah masalah yang tidak akan mampu diatas secara personal. Namun, dengan kebersamaan, tiada masalah yang tidak mungkin teratasi. Terlebih jika kebersamaan itu tercipta atas dasar sebuah pertemuan atas dasar cinta yang sama.

Tapi sekali lagi, yang perlu digarisbawahi adalah pesan Mbah Nun terkait perbedaan cara menyikapi situasi yang tidak bisa disamaratakan antara satu dengan yang lainnya. Tiap-tiap keluarga memiliki caranya masing-masing yang itu dianggap mampu menyelamatkan dan menambah imunitas keluarga sendiri. Barangkali jika kesehatan masih menaungi diri atau keluarga, hal tersebut tak lantas membuat tinggi hati sehingga berpotensi merendahkan yang lainnya. “Kita masih dalam keadaan ketidaktahuan massal!”

Rutinan sendiri bagi Maneges Qudroh merupakan cerminan diri antara masalah dan sebuah perubahan. Semakin bertambahnya waktu dan beranjak dewasa, berbanding lurus dengan kompleksitas masalah dan tanggung jawab yang menuntut untuk lebih meningkatkan kualitas diri secara komunal. Oleh sebab itu pula, meski dalam naungan cuaca yang tak menentu ataupun jarak yang begitu membentang, bahkan dalam situasi pandemi yang mencekam, rutinan Maneges Qudroh masih diberikan kesempatan untuk menggelar tikarnya di putaran yang ke-118 yang berlokasi di Panti Cahaya Ummat, Mertoyudan.

Dalam keterbatasan, kami diperjalankan untuk saling bermuwajah menuntaskan rindu. Kami dipersatukan untuk saling berbagi pengetauan dengan tema “Rasan Rasa”. Dan dalam rutinan pula, kami beri kenikmatan setidaknya untuk saling bersedekah mengumbar tawa dan candanya. Tegambar jelas kebahagian tersebut nampak sebagai obat untuk mengusir kepenatan yang sedang mengurung hampir di segala wilayah aspek kehidupan sosial.

Perjalanan sinau bareng dimulai dengan ditandai pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an oleh Bapak Sholeh. Sejenak, kata-kata mulia itu menjadi dasar tersirat dari acara yang akan menopang segala pengetahuan yang akan diwedar pada malam itu. Lalu, diperkuat dengan pembacaan beberapa wirid yang dipimpin oleh Mas Taufiq.

Mas Ipul sebagai moderator segera memposisikan diri setelah dipersilahkan oleh pembawa acara. Mengingat dalam putaran kali ini tidak ada narasumber utama. Tentu, moderator harus menguasai angkutan yang akan dikemudikannya agar sampai pada tujuannya. Akan tetapi, nampak Mas Ipul yang baru pertama kali membawa peran tersebut begitu percaya diri, meski tidak dapat menyembunyikan sedikit kegugupannya.

Sebagai awal perjalanan, Mas Ipul meminta Mas Topan untuk sedikit banyak menyampaikan mukadimah Rasan Rasa yang menjadi tema acara pada malam hari ini. Mas Topan menyampaikan bahwa, rasan rasa itu mengandung makna merasakan rasa. Dari sekian banyak spektrum rasa, Mas Topan berharap akan dapat menemukan cinta, yang mana hal tersebut akan menjadi keberlanjutan pembelajaran dari tema-tema sebelumnya, setelah kesungguhan, kesetiaan, rendah hati dan pengorbanan. Maka, sudah waktunya menurut Mas Topan untuk lebih mengenal dan merasakan cinta yang pasti semua sudah pernah merasaknnya.

Lantunan lagu dari Mas Sani sejenak mengisi jeda sebelum mendalami tema. Lagu-lagu yang sangat otentik karena merupakan hasil karyanya sendiri. Kalau forum ini mengikat dengan format diskusi, namun menurut Mas Sani, dirinya mengaku akan mencoba pendekatan rasa dengan caranya, yakni mencoba merangkul dengan lagu. “Maaf kalau sedikit melankolis, karena saya sendiri orang melancholia.” kata Mas Sani.

Menegaskan “Siddiq” Sebelum Mengenal Bahasa “Ishq

Berhubung tidak adanya narasumber, maka Mas Ipul menggabungkan tindakan strategis dan tindakan komunikatif dalam menentukan rute perjalanan sinau bareng kali ini agar tidak melenceng jauh dari tujuan. Hal ini diperkuat argumentasi dari Mas Bayu yang menyatakan bahwa dalam keadaan seperti ini, kita harus lebih menguatkan budaya apresiasi atau dengan kata lain saling menyediakan diri ketika moderator menginginkan jawaban, respon, atau sebuah tanggapan.

Perjalanan pun terasa lebih nyaman ketika semua elemen saling berkontribusi dan fokus untuk sebisa mungkin mengambil pengetahuan. Pak Dadik sebagai salah satu sesepuh di lingkaran Maneges Qudroh, turut memberikan respon. Namun, pertama-tama Pak Dadik merasa terhormat dapat bergabung dalam rutinan kali ini. Ketika membcarakan rasa, Pak Dadik membuka dengan pertanyaan kepada sedulur yang hadir, “sumber cinta itu dari siapa?” Menurut beliau, cinta akan bermuara kepada kebaikan. Oleh sebab itu, tidak ada yang lain sumber cinta tersebut kecuali Allah SWT. “Dan dari sumber itulah, kita berhasrat untuk membaginya.” pungkas beliau.

Mas Sigit kemudian mencoba untuk lebih mengerucutkan tentang rasan rasa tresno/merasakan rasa cinta. “Cinta ini sebenarnya bagaimana?” katanya. Karena menurut Mas Sigit definisi cinta sangatlah luas. Jika menggunakan metode illah, billah, ilallah, ketiga hal ini pun masih sangat absurd. Dengan billah atau dengan jalan sebagaimana diperintahkan oleh Allah, menggunakan jalan cinta, menurut Mas Sigit sangatlah bersifat intrinsik atau sangat pribadi. Sedang ilallah atau untuk menuju atau kembali pada-Nya memakai idiom cinta, “lantas kita mendapatkan output apa sekarang?” ungkap Mas Sigit.

Pertanyaan-pertanyaan dari Mas Sigit tersebut oleh moderator coba dilempar kepada Mas Yadi, seorang yang bisa dibilang sebagai aktivis maiyah, yang meluangkan waktu dan tenaganya untuk dapat belajar bersama di Maneges Qudroh yang datang bersama keluarganya. Menurut Mas Yadi untuk dapat mengetahui atau setidaknya mendapati jawaban, yang perlu ditegaskan adalah sikap siddiq atau jujur terhadap diri sendiri. Setelah kita menanamkan kejujuran, kita akan mengetahui “apa yang sebenarnya” dan “untuk apa” segala sesuatu yang tersirat dari dalam diri melalui bahasa “ishq” atau bahasa cinta.

Setelah kita sudah jujur, baru kita berani untuk mengambil sebuah amanah. Amanah itu akan menjadikan diri lebih fathonah atau cerdas. Seseorang yang mendapati ketiga hal itu, akan dinilai oleh orang lain untuk diminta menyampaikan sesuatu atau tabligh akan sesuatu yang dimilikinya. Dan menurut Mas Yadi, cinta meliputi segala sifat tersebut. Terlebih jika merujuk pada Asmaul Husna, semua sifat yang ada merupakan pancaran dari 2 sifat utama, yakni Ar-Rahman dan Ar-Rahim (Maha Pengasih dan Maha Penyayang).

Cinta Transaksional dan Lebih Mengenal “Al-Waduud

Satu per satu menyediakan diri untuk saling memberikan respon atau tanggapan terkait rasa. Hingga tiba giliran Pak Ida, seorang guru yang sangat energik dan nyentrik. Menurut beliau, cinta itu jika didefinisikan sangatlah sulit. Dan cinta sangat banyak memiliki banyak pemaknaan, yang memperluas atau menyempitkan makna dari cinta itu sendiri.

Mas Sigit kembali merespon, menurutnya sekurang-kurangnya ada 5 syarat yang harus dimiliki oleh cinta, yaitu, mengenal, menumbuhkan kepedulian, menambah rasa hormat, bagian dari penghargaan, dan meliputi tanggung jawab. Jika hilang salah satunya, maka perlu dipertanyakan lagi rasa cinta yang dimilikinya.

Mang Yani yang bulan kemarin menjadi moderator juga turut memberikan tanggapan berupa sebuah quote, ia berkata, “mengatakan cinta itu butuh 1 detik, tapi untuk melupakannya butuh waktu seumur hidup.” Sesuatu yang indah merupakan sesuatu yang paling di cari dalam hidup. Karena kebahagiaan akan didapatinya ketika mengalami rasa cinta, sekalipun prasangka orang akan berkata “budak cinta”.

Sebuah pertanyaan datang dari Mas Bayu, “bagaimana keterkaitan antara mencintai dan dicintai?”

Respon jawaban datang dari Mas Topan dengan tidak mengindahkan orang yang dirasa sesepuh dan lebih memahami. Mas Topan menjawab dengan bermain permainan imbuhan kata dalam pelajaran bahasa sewaktu SD. Menurutnya, cinta itu tidak lagi murni ketika kita menambahkan tendensi seperti kita memberi kata cinta dengan imbuhan. “me-cinta-i” dan “me-cinta” dalam pelajaran bahasa indonesia memiliki berbeda. Imbuhan “me-i” memiliki arti saling, yang berarti membutuhkan 2 subjek, sedangkan imbuhan “me-“ berfungsi untuk mengubah kata sifat menjadi kata kerja. Jika dilafalkan kepada suatu objek antara kedua kata (mencintai dan mencinta) pasti akan memiliki kedalaman rasa yang berbeda.

Menurut Mas Topan, cinta kita masih sangat transaksional jika masih melihat sesuatu yang mencinta dan dicinta. Cinta kita masih banyak tendensi dan harapan untuk mendapatkan balasan. Bahkan, menurut Mas Sabrang, kalau kita mencintai seseorang, sebenarnya kita cinta terhadap orang tersebut apa cinta kepada diri sendiri? Lantas ketika tidak mendapatkan balasan apakah masih terjaga rasa cinta tersebut? Cinta ya cinta saja, oleh karena itu laku kejujuran, kelembutan, dan ketulusan akan menjadi wujud kedalaman memberi makna tentang cinta. Bahkan Allah sendiri memiliki asma Al-Waduud atau Sang Maha cinta, kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, maka sudah pasti kita menjadi jatuh cinta dan tergila-gila.

Atau jika kita benar-benar pengikut Nabi, ada 4 fase yang harus ditapaki jika mengambil pelajaran dari salah satu Marja’ Maiyah Syaikh Kamba. Kita mesti melatih independesi diri, melakukan penyucian diri, arif dan bijaksana, amanah, baru memasuki fase yang terakhir yakni cinta. Atau dalam buku beliau “Kids Zaman Now”, cinta atau muhabbah berada dalam fase keenam dengan urutan syariat, tarekat, hakikat, makrifat, mukasyafah, muhabbah, lalu penyatuan dengan Sang Pencipta (wahdatul-wujud).

Alhamdulillah, Maneges Qudroh masih disediakan ruang kebersamaan ini untuk terus saling menasihati dalam mencari kebenaran dan saling menahan diri dalam menapaki tangga kebenaran menuju kesejatian secara berjamaah. Acara pun melebur hingga lebih dari tengah malam. Segala pembelajaran terkait rasa dan cinta disimpulkan oleh moderator untuk dapat mengambil kesimpulan sendiri-sendiri. Semua ilmu yang terpancar layaknya cahaya yang menerangi ataupun buah yang silahkan dipilih sendiri kenikmatannya.

Setelah ditutup dengan sholawat dan pembacaan doa, sedulu-sedulu masih enggan untuk beranjak pulang. Semua nampak melanjutkan pembelajaran yang didapat dengan lingkaran kanan-kirinya. Sembari menambah keintiman dan memperkuat tali silaturrahmi dalam majelis paseduluran ini.

Panti Cahaya Ummat, 6 Desember 2020